Pelatihan AI guru punya dua tujuan
Pelatihan AI guru adalah upaya membekali pendidik agar dapat memakai kecerdasan buatan untuk menghasilkan karya digital atau memperkaya proses belajar, bukan sekadar mengenal perangkat baru. Dua program di Jawa Timur memperlihatkan perbedaan sasaran itu: pelatihan untuk guru SMK diarahkan pada produksi gim, sedangkan MAN Sidoarjo mengutamakan materi dan media pembelajaran. Perbedaan tersebut masuk akal karena keterampilan yang dibutuhkan siswa vokasi tidak selalu sama dengan kebutuhan kelas madrasah. Namun, keduanya baru akan bernilai jika kemampuan yang diperoleh benar-benar dibawa ke ruang belajar dan dibagikan kepada rekan sejawat. Tanpa tindak lanjut, pelatihan berisiko berhenti sebagai pengalaman beberapa peserta, bukan perubahan cara sekolah mengajar.
Guru SMK diarahkan menjadi pembuat karya digital
Dinas Pendidikan Jawa Timur menyiapkan 15 guru SMK untuk mengikuti pelatihan lanjutan pembuatan gim berbasis AI di Shanghai pada Januari 2027, setelah mereka terpilih dari 50 guru yang mengikuti pelatihan daring selama 20 hari dan mengerjakan proyek AI. Seleksi berdasarkan karya terbaik memberi program ini orientasi produksi yang jelas: peserta diharapkan mampu menciptakan, bukan hanya mengoperasikan teknologi. Pelatihan lanjutan akan memperdalam pembuatan film pendek dan desain gim. Bagi guru vokasi, pendekatan ini berpotensi menghubungkan pelajaran dengan praktik industri kreatif. Pengalaman Asih Setiani dari SMKN 1 Banyuwangi juga menunjukkan manfaat langsung: AI membuka cara baru untuk mengembangkan animasi dan aset gim yang sebelumnya dikerjakan manual. Tantangannya adalah menyebarkan keahlian itu ke sekolah, bukan membatasi hasilnya pada 15 peserta.

Madrasah menempatkan AI dekat dengan kegiatan kelas
MAN Sidoarjo menggelar pelatihan AI untuk pembelajaran dan pembuatan konten bagi guru serta tenaga kependidikan pada 4 November 2026, pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Materinya lebih dekat dengan kebutuhan harian pengajar: membuat konten melalui ChatGPT dan Google Flow, menyusun video pembelajaran dengan Google Gemini, Flow, dan CapCut, lalu membangun situs pembelajaran serta LKPD digital menggunakan Gemini, Spreadsheets, Apps Script, dan Site. Inilah sisi praktis AI untuk pembelajaran: teknologi dipakai untuk menyiapkan bahan ajar dan menyajikan pelajaran secara lebih interaktif. Pelatihan semacam ini dapat memperluas pilihan guru, tetapi mutu konten tetap bergantung pada ketepatan tujuan belajar dan pemeriksaan hasil. Kecepatan membuat media tidak otomatis menjamin materi yang akurat atau sesuai kebutuhan siswa.
Karya gim dan konten kelas perlu saling menguatkan
Kedua program menunjukkan dua jalur pelatihan AI yang sama-sama relevan, tetapi tidak bisa dipertukarkan begitu saja. Pembuatan gim AI mengasah kreativitas, perancangan aset, dan produksi karya digital; konten AI pendidikan menekankan pembuatan media ajar, video, situs, serta lembar kerja. SMK dapat mengambil manfaat dari orientasi proyek, sementara madrasah bisa mengadaptasi kebiasaan menghasilkan karya digital yang terstruktur. Sebaliknya, keterampilan menyusun materi kelas dapat membantu guru vokasi menjelaskan proses teknis dengan lebih menarik. Harapan Dindik Jatim agar peserta membagikan kompetensi kepada guru lain merupakan ukuran penting keberhasilan program, bukan tambahan belaka. Kesimpulannya, pelatihan yang baik bukan perlombaan memakai aplikasi terbaru: keberhasilannya diukur dari karya yang dibuat, pembelajaran yang membaik, dan pengetahuan yang menyebar ke lebih banyak guru serta siswa.






