Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Prabowo Bawa Semangat Bandung ke BRICS: Strategi Persatuan Global South

Prabowo Bawa Semangat Bandung ke BRICS: Strategi Persatuan Global South
Minat|Asia Tenggara

Semangat Bandung BRICS: Inti Strategi Prabowo

Semangat Bandung BRICS adalah pendekatan diplomasi yang menghubungkan warisan Konferensi Asia-Afrika di Bandung dengan forum BRICS, untuk memperkuat persatuan dan posisi tawar negara-negara Global South dalam tata kelola global yang inklusif. Dalam KTT BRICS 2026 di New Delhi yang digelar pada 12–13 September, Presiden Prabowo Subianto membawa langsung semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung ke meja perundingan sebagai fondasi diplomasi bebas aktif. Indonesia hadir bukan sekadar sebagai peserta baru yang bergabung sebagai anggota BRICS per 1 Januari 2025, tetapi sebagai pengingat sejarah bahwa Global South pernah berdiri bersama menentang kolonialisme dan imperialisme. Dengan kata lain, Prabowo ingin menjadikan BRICS sebagai kelanjutan politik Bandung, bukan sekadar forum ekonomi.

Pepatah ‘Bersatu Kita Teguh’ sebagai Senjata Diplomasi Global South

Pilihan Prabowo mengutip pepatah, “Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh”, di hadapan para pemimpin BRICS bukan gimmick retoris, melainkan strategi diplomasi kultural yang sadar konteks. Di forum yang membahas Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism di Bharat Mandapam, ia sengaja menautkan kearifan lokal dengan semangat yang dulu menyatukan negara Asia dan Afrika di Bandung, yakni perjuangan untuk menentukan masa depan sendiri dan memperjuangkan kepentingan bersama. Kearifan sederhana ini, menurut Prabowo, mencerminkan semangat yang menyatukan negara-negara Global South yang pernah melawan kolonialisme dan kini hadir sebagai negara yang setara. Di sini tampak jelas: diplomasi Global South yang ia bangun tidak dingin-teknokratik, melainkan berakar pada ingatan kolektif dan identitas bersama.

Diplomasi Global South: Dari Retorika Persatuan ke Posisi Tawar

Seruan persatuan Global South di KTT BRICS 2026 menjadi pesan politik bahwa dunia Selatan tidak mau lagi sekadar menjadi penonton tatanan internasional. Global South yang secara luas mencakup Afrika, Amerika Latin dan Karibia, Asia (kecuali Israel, Jepang, dan Korea Selatan), serta Oseania (kecuali Australia dan Selandia Baru), masih identik dengan pendapatan rendah, kemiskinan tinggi, dan layanan publik yang terbatas. Karena itu, Prabowo menegaskan bahwa persatuan dapat memperkuat posisi negara Global South dalam menyampaikan kepentingannya di tingkat global dan melindungi kepentingan nasional masing-masing. Ia menyatakan bahwa dengan bersatu, suara mereka lebih terdengar, dan kepentingan dapat lebih terlindungi dan dimajukan. Intinya, diplomasi Global South yang ia dorong adalah transformasi dari solidaritas simbolik menjadi kekuatan tawar kolektif yang konkret.

Tata Kelola Global Inklusif dan Multilateralisme: Agenda Utama

Keikutsertaan Prabowo dalam sesi terbatas bertema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism menunjukkan bahwa semangat Bandung diterjemahkan ke agenda tata kelola global yang jelas. Sesi ini membahas tata kelola global yang inklusif dan penguatan multilateralisme, dengan posisi negara-negara Global South sebagai isu utama yang ia soroti. Di sini, persatuan negara berkembang tidak hanya slogan, tetapi prasyarat untuk membentuk struktur keputusan multilateral yang lebih adil. Menurut Prabowo, spirit Bandung masih relevan dengan posisi Global South saat ini: negara yang baru merdeka dan pernah melawan imperialisme kini bersatu sebagai negara setara yang merasa suaranya mulai didengar. Dengan memadukan semangat historis Bandung dan forum BRICS, ia mencoba menjadikan inclusive global governance bukan jargon, melainkan arena aktual untuk memperkuat persatuan negara berkembang dan mempertegas diplomasi bebas aktif.

Persatuan Negara Berkembang: Pelajaran Bandung untuk Masa Depan BRICS

Pesan utama Prabowo di KTT BRICS 2026 tegas: tanpa persatuan negara berkembang, Global South akan kembali terpecah dan lemah dalam tata kelola global. Semangat Bandung yang ia bawa menegaskan bahwa pengalaman bersama melawan kolonialisme hanya punya makna jika diikuti kesediaan untuk memperjuangkan kepentingan kolektif hari ini. Persatuan negara Global South, ia nilai, penting untuk memperkuat posisi tawar, melindungi kepentingan nasional, dan mendorong kemajuan bersama di tengah tantangan dunia. Di sinilah pepatah “Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh” berubah menjadi prinsip kerja diplomasi Global South, bukan sekadar slogan. Jika BRICS mampu menyerap pelajaran Bandung, forum ini bisa menjadi laboratorium tata kelola global yang lebih inklusif, di mana persatuan negara berkembang menjadi motor, bukan catatan kaki.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!