FTA I-EAEU: Definisi, Momentum, dan Sinyal Politik yang Jelas
FTA Indonesia Eurasia adalah perjanjian perdagangan bebas antara satu pihak dan blok Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) yang mencakup penghapusan atau pengurangan bea masuk bagi lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan, membuka akses pasar lintas-benua dan dirancang sebagai arsitektur baru bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat ekspor, investasi, serta posisi tawar mereka dalam sistem perdagangan global saat ini. Dorongan Prabowo Subianto agar FTA Indonesia-EAEU segera diberlakukan bukan sekadar rutinitas diplomatik, melainkan sinyal politik ekonomi: ia ingin blok Eurasia menjadi salah satu poros utama mitra dagang Global South, bukan hanya pelengkap di pinggir peta perdagangan. FTA ini telah ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025 dan sudah diratifikasi melalui persetujuan parlemen serta Peraturan Presiden, sehingga bola kini berada di tangan negara-negara anggota EAEU untuk menuntaskan prosedur internal mereka.
Mengapa Pemberlakuan Cepat FTA Indonesia Eurasia Menjadi Urgensi
Prabowo menekankan bahwa FTA Indonesia Eurasia adalah arsitektur baru perdagangan untuk Global South, dan pernyataan ini harus dibaca sebagai kritik halus pada arsitektur lama yang terlalu bergantung pada pasar tradisional Barat. Dengan menghapus atau menurunkan bea masuk untuk 11.882 pos tarif—lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan—perdagangan bebas EAEU berpotensi mengurangi hambatan biaya dan membuka koridor baru bagi produk manufaktur, komoditas, dan industri bernilai tambah. Penundaan pemberlakuan berarti menyia-nyiakan peluang repositioning strategis dalam lanskap yang tengah bergeser, di mana negara-negara berkembang mencari mitra yang lebih terbuka terhadap kerja sama setara. Karena Indonesia sudah menyelesaikan proses politik domestik, permintaan Prabowo agar setiap anggota EAEU mempercepat prosedur internal adalah dorongan langsung agar kemitraan ini beranjak dari tahap simbolik ke tahap nyata.
Target Menggandakan Perdagangan dan Peluang Ekspor ke Rusia
Ambisi menggandakan nilai perdagangan bilateral lewat perjanjian perdagangan bilateral berbasis FTA EAEU menunjukkan bahwa Prabowo melihat ekspor ke Rusia dan negara anggota EAEU bukan lagi pasar sampingan, tetapi pasar sasaran. Ia secara terbuka menyampaikan di forum bahwa Indonesia dan Rusia perlu menetapkan target jelas: perdagangan dua kali lipat dalam evaluasi awal pelaksanaan FTA. Di balik angka tersebut ada logika ekonomi: ketika bea masuk untuk mayoritas pos tarif dihapus atau diturunkan, volume dan ragam ekspor seharusnya naik. Tahun 2025, perdagangan bilateral mendekati 5 miliar dan sudah tumbuh 21,7 persen dibanding tahun sebelumnya; Prabowo ingin tren ini dipercepat, bukan dibiarkan mengalir alami semata. Langkah ini sekaligus mengurangi konsentrasi risiko pada satu kawasan pasar, karena ekspor mulai menyebar ke lima pasar Eurasia, bukan hanya Rusia sebagai lokomotif.
Dampak FTA bagi Produsen dan Konsumen di Dua Kawasan
Dari sudut pandang pelaku usaha, FTA Indonesia Eurasia adalah pintu logistik dan finansial yang baru: produsen Indonesia mendapat akses ke lima pasar di kawasan Eurasia, sementara produsen EAEU menyasar lebih dari 290 juta konsumen di pasar domestik. Ini berpotensi menurunkan harga barang impor tertentu dan memperluas pilihan produk bagi konsumen, sambil memberi ruang ekspansi bagi industri yang siap meningkatkan ekspor ke Rusia dan tetangganya. Kehadiran perwakilan dunia bisnis dalam forum di Vladivostok untuk menyiapkan pengiriman perdana, skema pembayaran, jalur distribusi, dan pencarian pembeli adalah indikasi bahwa sektor swasta tidak menunggu instruksi, tetapi bersiap sejak dini. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis: hanya produsen yang mampu memenuhi standar kualitas, mengatur logistik lintas jarak, dan mengelola risiko pembayaran yang akan benar-benar memanfaatkan perdagangan bebas EAEU.
FTA I-EAEU sebagai Instrumen Geostrategis dan Agenda Lanjutan
Secara geostrategis, FTA dengan Uni Ekonomi Eurasia menempatkan pihak penandatangan sebagai jembatan antara Asia Timur, Asia Tengah, dan Eropa Timur, sekaligus mempertegas bahwa Global South membangun jaringan sendiri di luar poros lama. Prabowo memanfaatkan panggung Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok untuk mengirim pesan bahwa kerja sama ekonomi tidak boleh tertahan oleh birokrasi ratifikasi yang berlarut-larut. Indonesia berharap ketika skema tarif mulai berlaku, barang, jalur distribusi, pembeli, dan kontrak perdagangan sudah siap terlibat dalam implementasi. Itu artinya fase berikut bukan lagi negosiasi, melainkan eksekusi: memastikan aturan asal barang, sistem pembayaran, dan regulasi teknis sejalan dengan ketentuan FTA Indonesia Eurasia. Jika semua pihak menuntaskan prosedur internal dan konsisten mengejar target perdagangan bilateral, FTA ini bisa menjadi model perjanjian perdagangan bilateral baru yang menguntungkan kedua belah pihak, sekaligus memperkuat posisi Global South dalam arsitektur perdagangan dunia.






