Kepedulian lingkungan perlu hadir dalam keseharian
Sekolah berkelanjutan adalah lingkungan belajar yang menghubungkan pengetahuan tentang alam dengan keputusan dan kebiasaan sehari-hari warga sekolah, sehingga kepedulian tidak berhenti sebagai materi pelajaran. Perubahan lingkungan tidak cukup diserahkan kepada kebijakan pemerintah; kebiasaan individu, kolaborasi, dan pendidikan sejak dini juga berperan. Dua inisiatif terbaru memperlihatkan cara berbeda untuk membawa prinsip itu ke sekolah: ASRI mengajak siswa dan guru memahami isu melalui pengalaman yang dekat, sementara Adiwiyata menargetkan kebiasaan lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sekolah. Keduanya menjawab persoalan yang sama, tetapi dampaknya bergantung pada kelanjutan setelah kegiatan pengenalan atau peluncuran. Edukasi lingkungan sekolah akan lebih berarti ketika membantu siswa melihat hubungan antara isu besar—seperti sampah dan keberlanjutan—dengan hal yang mereka lakukan di kelas dan lingkungan sekitar.

ASRI membawa isu lingkungan lebih dekat
Yayasan Berkat Budaya Sejahtera bersama Unilever mengadakan Roadshow ASRI Menyapa Surabaya di SMKN 10 Surabaya pada 12 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari 100 SMA dan SMK sederajat serta sekitar 400 peserta. Pilihan pendekatannya kuat: pesan lingkungan perlu terasa relevan dengan pengalaman sehari-hari, bukan datang sebagai slogan yang jauh dari kehidupan pelajar. Dalam kunjungan ASRI Goes to School pada 13–16 Oktober, siswa di lima sekolah Surabaya diperkenalkan pada Lestari Academy, platform digital untuk materi keberlanjutan, serta permainan interaktif Kahoot. Mereka juga mendapat pengalaman konkret melalui kegiatan tentang mikroplastik dan bank sampah. Kombinasi materi, permainan, dan praktik memberi ruang bagi siswa untuk mengenali persoalan di sekitarnya dan merancang gagasan. Langkah berikutnya adalah memastikan gagasan itu berkembang menjadi proyek, bukan berhenti sebagai aktivitas kelas.
Adiwiyata menekankan budaya sekolah
Pada 28 Oktober 2026, Sekolah Cerdas Adiwiyata Star Energy Geothermal Salak diluncurkan di MIS Bojongmenteng, Desa Palasarigirang, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi. Program ini bertujuan membangun budaya sekolah yang peduli lingkungan dan menanamkan kesadaran keberlanjutan sejak dini. Kepala sekolah Didin Sa’dillah menegaskan bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup disampaikan di kelas; kesadaran perlu menjadi kebiasaan sehari-hari di sekolah. Di sinilah pendekatan Adiwiyata melengkapi model ASRI. ASRI menghidupkan pembelajaran lewat pesan yang dekat dan pengalaman partisipatif, sedangkan Adiwiyata secara eksplisit mendorong kebiasaan menjaga kebersihan dan mengelola lingkungan. Namun, peluncuran program bukan bukti bahwa kebiasaan itu telah terbentuk. Nilainya akan terlihat dari konsistensi praktik serta keterlibatan warga sekolah, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam jangka panjang.

Ukuran keberhasilan ada pada tindak lanjut
Kedua inisiatif ini menunjukkan bahwa sekolah ramah lingkungan membutuhkan lebih dari satu jalur: pembelajaran yang membuat isu terasa dekat dan tata kebiasaan yang menjadikan kepedulian bagian dari rutinitas. ASRI membuka kesempatan siswa dan guru mengembangkan gagasan melalui Kompetisi ASRI 2026, yang mencakup enam topik, dari pengelolaan sampah hingga komunikasi keberlanjutan; pendaftaran dibuka sampai 16 November 2026. Sementara itu, MIS Bojongmenteng diharapkan menjadi contoh melalui kolaborasi madrasah, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Tantangan bersama adalah menjaga agar kegiatan tidak berhenti pada kompetisi, kunjungan, atau seremoni. Sekolah perlu memberi ruang bagi siswa untuk mencoba solusi, meninjau hasilnya, lalu membangun praktik yang dapat diteruskan. Dengan begitu, program Adiwiyata dan edukasi berbasis pengalaman bisa saling menguatkan. Kesimpulannya, sekolah berkelanjutan lahir ketika pesan lingkungan berubah menjadi tindakan yang terus dilakukan.






