Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Karakter Tumbuh dari Kebiasaan Harian di Sekolah Dasar

Karakter Tumbuh dari Kebiasaan Harian di Sekolah Dasar
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Karakter bukan pelajaran yang berhenti di kelas

Pendidikan karakter di sekolah dasar adalah proses membentuk kebiasaan, sikap, dan tanggung jawab anak melalui teladan, rutinitas, serta pembelajaran yang mereka jalani setiap hari. Karena itu, keberhasilannya tidak cukup dinilai dari nilai akademik: cara siswa memperlakukan lingkungan dan sesama juga penting. Dua contoh di sekolah dasar memperlihatkan pendekatan yang saling melengkapi. Di SD Inpres 3/77 Bukaka, Kabupaten Bone, pembiasaan pagi pada Kamis (29/10/2026) merangkai disiplin, kepedulian lingkungan, kebugaran, dan membaca dalam kegiatan bersama. Sementara itu, siswa kelas 5 Ibnu Haitsam SDI Tebuireng Ir Soedigno, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, mendapat pelajaran tentang akhlak mulia dari guru Akidah Akhlak, Ustazah Iis, pada Selasa (20/10). Keduanya mengingatkan bahwa pendidikan karakter SD lebih kuat ketika nilai tidak hanya diterangkan, tetapi juga dipraktikkan.

Pagi yang mengajarkan disiplin dan kepedulian

Di SD Inpres 3/77 Bukaka, hari dimulai dengan guru menyambut dan menjemput murid di lingkungan sekolah. Siswa kemudian menyiram tanaman, memungut sampah, mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat, dan membaca bersama. Rangkaian ini punya nilai lebih dari sekadar mengisi waktu sebelum pelajaran. Anak belajar bahwa merawat tanaman dan menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama, sedangkan senam melatih kebiasaan hidup aktif dan kebersamaan. Kebersihan yang dijaga secara rutin juga menjadi latihan disiplin siswa, dengan harapan kebiasaan itu terbawa ke rumah. Di bawah kepemimpinan kepala sekolah Hj. Darmawati, S.Pd., pembiasaan pagi diarahkan untuk membangun budaya sekolah yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga karakter peserta didik. Pendekatan ini meyakinkan karena nilai tanggung jawab lebih mudah dipahami saat anak menjalankannya sendiri.

Membaca sebagai kebiasaan, bukan acara sesaat

Membaca bersama melengkapi rutinitas pagi di Bukaka dan memberi tempat penting bagi budaya literasi sekolah. Kebiasaan ini dapat membantu siswa memperluas wawasan, mengenal kosakata, dan berlatih memahami informasi. Namun, manfaatnya tidak akan maksimal bila membaca hanya menjadi kegiatan seremonial. Rutinitas perlu memberi anak kesempatan berinteraksi dengan buku secara teratur, agar minat baca tumbuh dan kebiasaan itu berpeluang berlanjut di luar sekolah. Dalam rangkaian kegiatan yang sama, literasi berdampingan dengan merawat tanaman, menjaga kebersihan, dan berolahraga. Susunan tersebut menyampaikan pesan bahwa belajar tidak terbatas pada membaca buku atau menerima penjelasan guru: perhatian terhadap lingkungan, kesehatan, dan ilmu pengetahuan dapat dilatih dalam satu hari sekolah. Sekolah tentu tidak bisa mengendalikan kebiasaan anak di rumah, tetapi dapat membangun awal yang konsisten dan memberi contoh yang mudah ditiru.

Akhlak menjadi nyata saat anak belajar memberi dan menghormati

Pelajaran Akidah Akhlak di kelas 5 SDI Tebuireng mengarahkan siswa pada dua sikap yang dapat mereka praktikkan: dermawan dan menghormati guru. Ustazah Iis menjelaskan bahwa dermawan berarti rela memberikan sebagian harta dengan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan, tanpa membeda-bedakan penerima, serta menggunakan harta untuk kebaikan. Ia juga mengingatkan siswa agar menghargai guru ketika mengajar. Inti pelajaran ini bukan soal besar kecilnya pemberian, melainkan kemauan untuk peduli dan berbagi dengan tulus. Penghormatan kepada guru pun lebih bermakna sebagai sikap yang tampak dalam perilaku, bukan sekadar hafalan tentang sopan santun. Dengan menghubungkan ajaran akhlak siswa pada tindakan konkret, pelajaran dapat memberi anak pegangan untuk berinteraksi di sekolah dan kehidupan sehari-hari.

Konsistensi membuat nilai bertahan

Dua pendekatan ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak harus menunggu program besar. Rutinitas pagi di Bukaka memberi siswa kesempatan berlatih disiplin, kepedulian, kebugaran, dan membaca; pelajaran di SDI Tebuireng membahas keikhlasan berbagi serta penghormatan kepada guru. Keduanya menggabungkan pembiasaan dengan penjelasan tentang nilai yang mendasarinya. Tantangannya adalah menjaga agar kegiatan tidak menjadi rutinitas tanpa pemahaman: anak perlu mengerti mengapa kebersihan tanggung jawab bersama, mengapa membaca layak dibiasakan, dan bagaimana sikap dermawan diwujudkan. Sekolah dasar memiliki ruang penting untuk menanamkan nilai tersebut melalui contoh yang dekat dengan keseharian murid. Pada akhirnya, pendidikan karakter paling meyakinkan ketika terlihat dalam tindakan berulang, bukan hanya tercantum dalam materi pelajaran. Disiplin, kepedulian, literasi, dan akhlak tumbuh ketika sekolah menjadikannya bagian nyata dari hari belajar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!