Debut tampilan menyeluruh VAIA
Femme Alignée adalah koleksi VAIA yang memadukan busana dan alas kaki dalam satu tampilan, menandai debut brand ini dengan konsep fashion head-to-toe di panggung Jakarta Fashion Week 2027. Langkah tersebut menjadi sorotan utama dari VAIA JFW 2027: brand yang dikenal lewat alas kaki kini menyajikan gagasan berpakaian secara lebih utuh. Diluncurkan saat VAIA merayakan sembilan tahun perjalanan, koleksi ini memperlihatkan perkembangan yang terasa logis sekaligus berani. Peragaan JFW berlangsung pada 26 Oktober hingga 1 November 2026, memberi VAIA kesempatan memperkenalkan arah kreatifnya kepada audiens yang lebih luas. Debut ini bukan sekadar penambahan kategori produk; ia menunjukkan bagaimana busana dan alas kaki dapat bekerja bersama untuk menyampaikan karakter desain yang konsisten.

Dari alas kaki menuju koleksi lengkap
Didirikan pada 2017 oleh Fanie Balqis, VAIA memulai perjalanan sebagai merek alas kaki perempuan, lalu berkembang ke tas, aksesori, dan busana. Memasuki tahun kesembilan, koleksi busana VAIA di JFW menjadi bukti bahwa perluasan tersebut bukan langkah yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari eksplorasi desain yang terus berjalan. Untuk pertama kalinya, busana dan alas kaki dipresentasikan sebagai satu kesatuan, sehingga pengunjung dapat melihat pendekatan VAIA secara lebih menyeluruh. Pilihan ini terasa tepat untuk merayakan perjalanan brand: alih-alih hanya menengok pencapaian lama, VAIA memperlihatkan kemungkinan baru yang dibangun dari keahlian awalnya. Fashion head-to-toe memberi ruang bagi identitas desain yang lebih lengkap tanpa menghapus akar VAIA di dunia alas kaki.

Perempuan berhak menentukan definisinya
Mengusung pesan “For the Woman Who Defines Herself”, Femme Alignée dirancang untuk merangkul berbagai sisi dalam diri perempuan. Siluet terstruktur, garis tegas yang terinspirasi estetika militer, dan detail feminin menyatukan kekuatan dengan kelembutan. Paduan ini menyampaikan gagasan yang penting: perempuan tidak perlu memilih satu karakter agar terlihat meyakinkan. Koleksi ini mendukung keberanian untuk mengekspresikan diri, bukan menetapkan standar tentang bagaimana perempuan seharusnya berpakaian atau bermimpi. Fanie Balqis mengatakan, “Kami tidak ingin menentukan seperti apa seharusnya seorang perempuan terlihat atau bermimpi.” Pandangan itu membuat koleksi ini lebih dari sekadar perubahan kategori; ia menawarkan ruang bagi pemakainya untuk menunjukkan identitas dengan caranya sendiri.
Raihaanun dan Winona Willy sebagai muse
Raihaanun dan Winona Willy hadir sebagai muse koleksi, mendampingi Fanie Balqis dalam peragaan tersebut. Kehadiran keduanya sejalan dengan gagasan bahwa perempuan memiliki karakter dan interpretasi gaya yang berbeda, tanpa harus diseragamkan. Di sinilah pesan Femme Alignée terasa paling kuat: keberanian berekspresi tidak harus berarti mengikuti satu citra tertentu. Dengan mempertemukan busana dan alas kaki serta menampilkan dua muse dengan identitas masing-masing, VAIA memberi bentuk konkret pada pesan itu. Debut fashion head-to-toe ini layak dibaca sebagai pernyataan arah sekaligus perayaan sembilan tahun perjalanan. Kesimpulannya, kekuatan koleksi bukan hanya pada cakupan tampilannya, melainkan pada ajakannya agar perempuan bebas mendefinisikan diri—dan VAIA kini menyediakan lebih banyak bagian dari tampilan untuk menyuarakannya.






