Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Enam Desainer Top Mengangkat Batik ke Panggung High Fashion

Enam Desainer Top Mengangkat Batik ke Panggung High Fashion
Minat|Pertunjukan Busana

Batik di Panggung High Fashion: Warisan yang Bergerak Maju

Kolaborasi batik modern adalah kerja kreatif antara perajin kain batik dan desainer mode untuk mengubah kain bermotif tradisional menjadi busana kontemporer yang relevan dengan selera masa kini, tanpa memutus hubungan dengan filosofi, sejarah, dan teknik pengerjaan batik sebagai warisan budaya yang penuh makna dan dikerjakan dengan ketekunan pelaku usaha kecil. Dalam perayaan bertajuk “Cinta Batik, Cinta UMKM”, PPLIPI bekerja sama dengan Batik Keris menggelar fashion show batik dan lelang busana untuk Hari Batik Nasional 2026, dengan seluruh hasil lelang disalurkan bagi permodalan UMKM perempuan binaan mereka. Ini bukan sekadar perayaan kain, tetapi pernyataan sikap: batik pantas duduk di meja batik haute couture dan sekaligus menjadi alat nyata menggerakkan ekonomi akar rumput.

Enam Desainer Kontemporer Menginterpretasi Batik dengan Karakter Khas

Enam desainer Indonesia kontemporer—Denny Wirawan, Ivan Gunawan, Danny Satriadi, Priyo Oktaviano, Marini Zumarnis, dan Ayu Dyah Andari—masing-masing menyumbang satu karya batik high fashion kontemporer untuk dilelang dalam sesi Auction for Charity. Mereka mengolah kain Batik Keris menjadi siluet, potongan, dan detail yang memancarkan karakter personal: ada yang cenderung elegan, romantis, eksperimental, sampai dramatis, tetapi semua berakar pada penghormatan terhadap kehalusan motif dan filosofi batik. PPLIPI dengan sadar memberi kebebasan penuh pada para desainer soal model dan gaya, sambil menegaskan satu syarat penting: busana harus tetap wearable, nyaman, dan praktis bagi pembeli. Di sinilah daya tarik kolaborasi batik modern ini—artistik, tetapi tidak terputus dari kehidupan nyata pemakainya.

Runway, Lelang, dan UMKM: Fashion Show Batik yang Punya Dampak Nyata

Gelaran ini mengawinkan runway, pameran, dan lelang amal dalam satu alur yang jelas: batik naik kelas ke panggung high fashion sambil mengalirkan dana ke UMKM perempuan. Seluruh mahakarya eksklusif dilelang, dan hasilnya sepenuhnya disalurkan untuk bantuan permodalan UMKM binaan PPLIPI yang akan direalisasikan pada November 2026. Selama sekitar 10 tahun, organisasi ini telah mendampingi hampir 10.000 UMKM perempuan dan melihat langsung bahwa permodalan adalah kebutuhan utama, terutama bagi usaha skala mikro yang kesulitan akses pembiayaan perbankan karena keterbatasan agunan. Bantuan PPLIPI berfokus pada pedagang kecil—dari penjual nasi uduk hingga pisang goreng—dan modal stimulan harian yang relatif kecil saja sudah sangat berarti bagi keberlanjutan usaha mereka. Fashion show batik semacam ini membuktikan industri mode tidak harus berkutat pada glamor semata.

Mengubah Citra Batik: Dari Kuno ke Ikon Gaya Generasi Muda

Salah satu tantangan besar batik haute couture adalah persepsi publik: batik tulis dianggap mahal dan hanya layak untuk resepsi pernikahan atau acara formal. Kolaborasi ini dengan tegas menolak pandangan sempit itu. Di panggung, Batik Keris menampilkan koleksi “Rona Rempah” yang mengangkat motif cengkeh, kecombrang, kemukus, dan kunyit dalam palet warna bumi, menjembatani tradisi dan tren. Penerus generasi ketiga perusahaan menegaskan visi mereka melestarikan batik dari generasi ke generasi dengan cara membuatnya terus relevan, membawa batik melangkah dari kain sarung dan kemeja ke ranah high fashion dan high street. Untuk menyentuh pasar muda, tim pengembangan produk ditambah anak muda dan eksplorasi diarahkan pada busana kasual seperti jaket batik. Transformasi ini bukan kosmetik; ini strategi untuk memastikan batik tidak terjebak sebagai artefak museum.

Ketika Membeli Batik Berarti Menopang Hidup Perajin

Di balik gemerlap catwalk, kolaborasi batik modern ini mengingatkan bahwa setiap helai batik menyimpan kerja panjang pelaku UMKM. PPLIPI menegaskan harapan mereka agar kegiatan ini mendatangkan manfaat besar bagi masyarakat, khususnya perempuan, yang kian banyak menjadi penopang kesejahteraan keluarga melalui usaha kecil. Batik Keris pun menyisihkan 25 persen dari penjualan kain batik retail selama momentum Hari Batik Nasional untuk mendukung program PPLIPI Peduli UMKM. Pernyataan yang patut dikutip dari Lina adalah: “Mengapresiasi dan membeli batik tidak hanya sebatas mengoleksi busana, tetapi juga menjadi fondasi untuk menjaga keberlangsungan hidup para perajin dan pelaku UMKM di seluruh Indonesia”. Koleksi batik haute couture dari enam desainer ini akhirnya menjadi lebih dari busana; ia adalah ekonomi solidaritas yang memakai estetika sebagai kekuatan sosial.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!