Angka pertumbuhan bukan gambaran lengkap
Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan nilai barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu periode, tetapi angka agregat ini tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah pendapatan, pekerjaan, dan kesejahteraan rumah tangga ikut membaik. Karena itu, pertumbuhan 5,45 persen patut dicatat sebagai sinyal positif, bukan sebagai bukti bahwa tantangan ekonomi masyarakat telah selesai. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan angka itu dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 21 Oktober 2026; pemerintah menyebut investasi dan sektor produktif sebagai penopangnya. Indeks manajer pembelian manufaktur tercatat 52,4, menandakan aktivitas berada di zona ekspansi. Namun, ekspansi produksi baru berarti bagi warga bila turut menghasilkan penghasilan yang lebih baik dan kesempatan kerja yang memadai. Di tengah ketidakpastian global dan gejolak di dalam negeri, menilai keberhasilan hanya dari laju PDB berisiko membuat kebijakan terpaku pada gambaran yang belum tentu dirasakan banyak keluarga.
Daya beli menguji manfaat pertumbuhan
Daya beli masyarakat dibentuk oleh pendapatan dan biaya hidup sehari-hari, bukan oleh angka pertumbuhan nasional semata. Harga bahan pokok, biaya pendidikan, transportasi, dan tempat tinggal menentukan seberapa jauh penghasilan rumah tangga dapat memenuhi kebutuhan. Jika pendapatan riil tertahan sementara kebutuhan pokok dan biaya lain menekan, ekonomi yang tumbuh belum tentu terasa sebagai kemajuan. Survei Ahli Ekonomi Semester II 2026 dari LPEM FEB Universitas Indonesia, yang melibatkan 63 ekonom dan berlangsung pada 21 September hingga 13 Oktober, memberi sudut pandang tambahan tentang kualitas ekonomi. Sebanyak 52 persen responden menilai kondisi ekonomi lebih buruk dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Survei tersebut bukan pengganti statistik resmi, tetapi perbedaan antara indikator agregat dan pengalaman rumah tangga layak diperlakukan sebagai peringatan. Pemerintah sebaiknya membaca konsumsi dan upah riil bersama pertumbuhan, bukan menganggap angka PDB sudah menjawab apakah hidup warga membaik.
Penciptaan kerja dan produktivitas harus sejalan
Pekerjaan adalah jalur utama yang menghubungkan pertumbuhan dengan kesejahteraan. Survei yang sama menunjukkan 46 dari 63 ekonom menilai penciptaan kerja lebih rendah dibandingkan enam bulan sebelumnya, sedangkan hanya dua responden melihat peningkatan. Angka itu menguatkan alasan untuk tidak puas pada investasi atau ekspansi produksi saja: pertanyaannya juga berapa banyak pekerjaan berkualitas yang tercipta, apakah upah riil tumbuh, dan apakah pekerja memperoleh keterampilan yang lebih produktif. Investasi seharusnya memperkuat pemasok lokal, mendorong alih teknologi, serta membuka kesempatan kerja yang lebih baik, bukan hanya menambah kapasitas produksi tanpa dampak luas. Produktivitas ekonomi pun penting karena pertumbuhan yang tidak ditopang peningkatan produktivitas dan penciptaan kerja akan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Maka, ukuran keberhasilan perlu menimbang kualitas investasi dan hasilnya bagi pekerja, bukan sekadar nilai agregat kegiatan ekonomi.
Ukur keberhasilan melalui kehidupan sehari-hari
Ukuran yang lebih luas bukan alasan untuk mengabaikan PDB; justru ukuran itu membuat pembacaan ekonomi lebih berguna. Pertumbuhan perlu diperiksa bersama inflasi, tingkat pengangguran, upah riil, konsumsi rumah tangga, dan produktivitas agar pemerintah dapat melihat apakah manfaat kemajuan menyebar atau terkonsentrasi. Indikator tersebut membantu menggambarkan pengalaman ekonomi warga, bukan hanya keadaan rata-rata yang tersaji dalam statistik. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan untuk mendukung pekerja, akses perumahan, dan aktivitas ekonomi menjelang akhir tahun. Dampaknya perlu dinilai dari perubahan nyata pada kesempatan kerja dan kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan, bukan dari pengumuman kebijakan saja. Kesimpulannya, pertumbuhan 5,45 persen adalah fondasi yang menjanjikan, tetapi belum cukup menjadi ukuran keberhasilan. Pertumbuhan baru layak disebut inklusif ketika inflasi terkendali, pekerjaan berkualitas bertambah, produktivitas meningkat, dan daya beli masyarakat ikut menguat.






