Ujian Dua Tahun: Manfaat Harus Sampai ke Rumah Tangga
Kesenjangan pertumbuhan dan daya beli adalah keadaan ketika kenaikan output ekonomi agregat belum cukup diterjemahkan menjadi pekerjaan, pendapatan riil, dan kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan pokok. Pada dua tahun Prabowo-Gibran, kesenjangan itulah yang semestinya menjadi ukuran utama keberhasilan, bukan sekadar kuatnya angka makro atau meriahnya program pemerintah. Nasarudin Sili Luli menilai periode ini sebagai momentum untuk menguji jarak antara janji politik, kemampuan negara, dan kenyataan yang dirasakan masyarakat. Pemerintah, di sisi lain, menyatakan sedang menata kembali pembangunan agar manfaatnya lebih merata, dengan ekonomi kerakyatan dan kemandirian nasional sebagai arah perubahan. Arah itu patut didukung, tetapi pengumuman perubahan belum menjadi bukti bahwa kehidupan rakyat telah membaik. Yang menentukan adalah apakah kebijakan membuka kesempatan ekonomi lebih setara, menaikkan pendapatan, serta meringankan tekanan belanja sehari-hari.
Angka Pertumbuhan Belum Menjawab Tekanan Belanja
Pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,29 persen pada kuartal II 2026, sebuah capaian yang positif, tetapi belum otomatis menjawab persoalan kesejahteraan. Indef mengingatkan bahwa pengangguran masih menjadi tantangan dan daya beli masyarakat belum menunjukkan perubahan berarti. Kontras itu penting: statistik pertumbuhan mengukur gerak ekonomi secara agregat, sementara keluarga menilai keadaan dari pekerjaan, penghasilan, dan biaya kebutuhan. Tekanan tidak hanya datang dari pajak. Tarif PPN 12 persen berlaku untuk barang dan jasa mewah tertentu, sedangkan sebagian besar barang dan jasa lainnya tetap dikenai tarif efektif 11 persen. Kenaikan biaya hidup dan harga energi turut mengurangi ruang belanja; Pertamax yang berada di kisaran Rp16.000 disebut menambah beban pengeluaran. Karena itu, pemerintah tak bisa mengandalkan angka pertumbuhan sebagai jawaban. Capaian baru berarti bagi rakyat jika disertai pekerjaan yang memadai dan peningkatan pendapatan riil.
MBG: Manfaat Langsung, Tanggung Jawab Fiskal
Program Makan Bergizi Gratis memperlihatkan sekaligus peluang dan risiko dari janji kesejahteraan berskala besar. Hingga akhir September 2026, program ini menjangkau 57 juta penerima dengan realisasi anggaran Rp153,2 triliun. Namun, jumlah penerima pernah mencapai 63 juta pada Mei, sementara sasaran awalnya 82,9 juta orang. Untuk 2026, pagu efektif ditetapkan Rp268 triliun, berbeda dari alokasi Rp335 triliun yang sebelumnya disebut dan mencakup dana cadangan Rp67 triliun. Perubahan angka itu bukan alasan untuk menolak manfaat program, tetapi cukup untuk menuntut penjelasan terbuka tentang sasaran, efektivitas, dan pengaruhnya terhadap prioritas belanja lain. Badan Gizi Nasional menutup dapur yang melanggar ketentuan dan membuka kembali dapur yang memenuhi syarat sertifikasi. Pengawasan tersebut perlu diteruskan. Program yang populer dan memberi bantuan langsung tetap harus terbukti tepat sasaran serta dapat dibiayai tanpa mengabaikan kebutuhan publik lainnya.
Ekonomi Kerakyatan Harus Terukur dari Hasil
Pemerintah menempatkan ekonomi kerakyatan Indonesia sebagai koreksi atas pertumbuhan yang belum merata, dengan cita-cita agar masyarakat ikut mengelola dan menikmati kekayaan negara. Gagasan itu sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945, yang menempatkan ekonomi sebagai usaha bersama dan menghendaki manfaat pembangunan dirasakan rakyat. Namun, ekonomi kerakyatan tidak boleh berhenti sebagai slogan atau sekadar perluasan program bantuan. Ukurannya harus tampak pada kesempatan kerja, pendapatan riil, akses masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan produktif, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pokok. Begitu pula kemandirian ekonomi nasional: ia bernilai jika memperkuat kesejahteraan, bukan hanya menjadi sasaran abstrak. Pemerintah perlu menjelaskan bagaimana prioritas anggaran mendukung tujuan tersebut, lalu membuka ruang evaluasi publik. Kesimpulannya tegas: pertumbuhan yang tinggi layak dirayakan hanya ketika hasilnya sampai kepada lebih banyak rumah tangga. Tanpa itu, capaian makro tetap akan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.






