PKL Bukan Alasan Berhenti Belajar: Inti Kebijakan Baru
PKL SMK pembelajaran adalah kebijakan yang memadukan praktik kerja lapangan dengan proses belajar akademik secara berkelanjutan, sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengalaman dunia kerja tetapi juga terus menguatkan literasi dan numerasi sebagai kompetensi dasar selama berada di industri maupun di sekolah. Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan, pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan bagi siswa SMK tidak boleh menjadi alasan terhentinya proses pembelajaran. Lebih dari itu, pengalaman kerja justru harus diposisikan sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan kegiatan terpisah yang memutus ritme belajar akademik. Sikap tegas ini penting: selama ini budaya di banyak SMK menganggap PKL sebagai masa “cuti belajar”, padahal itulah periode ketika keterkaitan antara teori dan praktik seharusnya diperkuat secara intensif. Jika momentum ini dibiarkan lewat begitu saja, sekolah vokasi kehilangan kesempatan emas membentuk lulusan yang betul-betul siap kerja.
Alarm Nilai TKA: Literasi dan Numerasi SMK Sedang Sakit
Fokus Mendikdasmen pada keberlanjutan pembelajaran saat PKL tidak muncul tiba-tiba; pemicunya adalah data Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang menunjukkan kondisi mengkhawatirkan. Capaian TKA siswa SMK menjadi sorotan setelah data kemampuan akademik dasar dirilis. Rata-rata nilai TKA SMK tercatat 34,84 untuk Matematika, 22,69 untuk Bahasa Inggris, dan 53,68 untuk Bahasa Indonesia. Angka ini adalah alarm keras bahwa literasi numerasi SMK sedang sakit. Pernyataan yang pantas dikutip: “Data tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam penguatan kemampuan akademik dasar siswa SMK”. Dengan nilai serendah itu, menghentikan pembelajaran selama PKL sama saja memperdalam jurang kemampuan dasar. Jika SMK tetap menganggap teori sebagai beban dan praktik sebagai satu-satunya prioritas, lulusan akan terjebak pada keterampilan teknis sempit tanpa kemampuan membaca instruksi kompleks atau menghitung kebutuhan kerja secara mandiri.
Strategi Pembelajaran Berkelanjutan Vokasi: Fleksibel Tapi Tidak Longgar
Jawaban kebijakan atas krisis nilai TKA SMK adalah pembelajaran berkelanjutan vokasi yang dirancang fleksibel namun tetap terstruktur. Abdul Mu’ti menekankan, siswa kelas XII SMK tetap perlu mendapatkan layanan pembelajaran selama menjalani pengalaman kerja di dunia usaha dan dunia industri. Sekolah diminta merancang mekanisme agar siswa tetap memperoleh materi dan pendampingan meski berada di tempat kerja. Salah satu strategi yang dikemukakan adalah pembelajaran asinkron, di mana siswa mengakses materi dan menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa harus belajar pada waktu yang sama dengan guru. Ini peluang sekaligus jebakan: fleksibel bukan berarti longgar. Guru tetap wajib menetapkan target, memberi arahan, memantau perkembangan, dan memberikan umpan balik. Bila sekolah hanya mengganti tatap muka dengan tugas online tanpa pendampingan, pembelajaran fleksibel berubah menjadi formalitas yang tidak menyentuh peningkatan kemampuan nyata.
Mengintegrasikan Literasi dan Numerasi ke Dalam Praktik Kerja
Kunci keberhasilan PKL SMK pembelajaran terletak pada integrasi, bukan pemisahan, antara teori dan praktik. Abdul Mu’ti menegaskan, pengalaman dunia kerja harus menjadi bagian dari proses pembelajaran. Literasi dan numerasi disebut sebagai kemampuan fundamental yang harus terus dikembangkan selama PKL, bukan hanya demi nilai mata pelajaran tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari dan dunia kerja. Dalam kegiatan PKL, literasi hadir ketika siswa membaca prosedur kerja, memahami petunjuk penggunaan peralatan, menafsirkan informasi teknis, menyusun laporan, mengisi formulir, dan berkomunikasi dengan pembimbing maupun rekan kerja. Numerasi dibutuhkan untuk menghitung kebutuhan bahan, menentukan ukuran, membaca tabel dan grafik, menghitung waktu pengerjaan, memperkirakan biaya, menghitung persentase, hingga membandingkan hasil pekerjaan. Artinya, setiap tugas PKL seharusnya dirancang sekaligus sebagai latihan literasi numerasi SMK—bukan pekerjaan rutin yang dilakukan tanpa refleksi dan tanpa keterkaitan dengan materi kelas.
SMK di Persimpangan: Menyatukan Akademik dan PKL atau Tertinggal
Dengan arahan terbaru ini, SMK berada di persimpangan: terus mempertahankan pola lama yang memisahkan sekolah dan dunia kerja, atau berani menyatukan pembelajaran akademik dan praktik kerja sebagai satu paket. Pengalaman di lingkungan kerja diakui dapat digunakan sebagai bagian dari proses pendidikan agar pembelajaran lebih terkait dengan kebutuhan dunia kerja. Jika pendekatan ini dijalankan dengan serius, PKL tidak lagi sekadar sarana mengenalkan siswa pada dunia kerja, melainkan bagian terpadu dari proses pendidikan yang tetap menjaga tujuan pembelajaran dan penguatan kemampuan dasar. Pilihan kebijakan sudah jelas: pembelajaran tidak berhenti ketika siswa melaksanakan PKL. Yang tersisa adalah komitmen sekolah dan industri. Tanpa desain tugas yang bermakna, koordinasi guru-pembimbing, dan evaluasi literasi-numerasi yang terukur, gagasan bagus tentang pembelajaran berkelanjutan vokasi akan berhenti pada slogan, sementara nilai TKA SMK tetap tersandera di angka rendah.






