Mengapa Literasi Keuangan Anak Harus Dimulai dari Uang Jajan
Program edukasi keuangan sejak dini di sekolah dasar adalah rangkaian kegiatan terstruktur yang mengenalkan konsep menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta bijak kelola uang jajan melalui metode permainan, praktik langsung, dan pendampingan agar tercipta kebiasaan finansial sejak dini yang bertahan hingga jenjang pendidikan lebih tinggi. Inisiatif literasi keuangan anak ini semakin terlihat jelas melalui program KKN yang digelar di berbagai sekolah dasar: dari SDN 69 Sikapaya di Bantaeng hingga MI Al Falah Sukowidodo di Tulungagung. Fokusnya bukan sekadar mengisi waktu KKN, melainkan membangun fondasi berpikir tentang uang sebelum anak terlanjur berhadapan dengan godaan konsumtif di jenjang SMP dan seterusnya. Pertanyaannya: apakah ini tren sementara, atau awal perubahan cara sekolah melihat uang jajan sebagai alat pendidikan?

Celeng Emas dan Gemar Menabung: Menyulap Menabung Jadi Aktivitas Menarik
Di Bantaeng, mahasiswa KKN Unhas menghadirkan program Celeng Emas (Ceria Menabung, Generasi Emas) untuk siswa SDN 69 Sikapaya sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan sejak usia dini bagi siswa sekolah dasar. Siswa diajak mengenali perbedaan kebutuhan dan keinginan melalui lembar aktivitas bergambar dan permainan mewarnai, menjadikan edukasi menabung SD terasa seperti kegiatan seni, bukan ceramah kaku. Pendekatan serupa muncul di SD 3 Mojodemak, ketika mahasiswa KKN UIN Walisongo menggelar edukasi bertema Gemar Menabung bagi siswa kelas IV, dengan bahasa sederhana, permainan edukatif, dan sesi tanya jawab yang memancing cerita pengalaman menabung mereka sendiri. Di sini terlihat pola penting: menabung diposisikan sebagai kebiasaan menyenangkan, bukan kewajiban yang dipaksakan. Jika anak tersenyum saat membicarakan celengan, peluang kebiasaan itu bertahan jauh lebih besar.

Bijak Kelola Uang Jajan: Dari Sawah ke Kantin Sekolah
Penyuluhan literasi keuangan bertajuk “Bijak Kelola Uang Jajanmu!” yang digagas mahasiswa KKN Unhas di SDN 48 Bontokapetta menegaskan bahwa uang jajan adalah laboratorium finansial pertama bagi anak. Dengan latar masyarakat petani yang pendapatannya bergantung musim panen, tema literasi keuangan dipilih karena pengelolaan uang menjadi hal penting yang harus ditanamkan sejak dini. Siswa kelas 6A dan 6B—total 44 orang—mengikuti sesi sekitar 60 menit per kelas, lengkap dengan pre-test, permainan “Kebutuhan vs Keinginan”, hingga post-test untuk melihat perubahan pemahaman. Seorang siswa bahkan mengaku senang karena kini ia paham cara menabung dan mengelola uang jajan, serta bisa membedakan keinginan dan kebutuhan. Ini bukti konkret bahwa bijak kelola uang jajan bukan konsep abstrak; ia langsung mengubah cara anak bertransaksi di kantin sekolah hari itu juga.

Celengan Kreatif di Tulungagung dan Pertanyaan Besar soal Keberlanjutan
Di MI Al Falah Sukowidodo, mahasiswa KKN UIN SATU Tulungagung menyasar siswa kelas 4 dan 5 dengan edukasi keuangan bertema pentingnya menabung dan pengelolaan keuangan sederhana sejak usia dini. Setelah sosialisasi tentang manfaat menabung dan cara membedakan kebutuhan pokok dan keinginan, siswa mendapat celengan dan stiker untuk dihias—sebuah strategi cerdas agar anak merasa memiliki “proyek” finansial mereka sendiri. Koordinator kegiatan menegaskan tujuan untuk menumbuhkan kebiasaan mengelola keuangan secara bijak dan menghindarkan perilaku konsumtif serta pemborosan. Kepala sekolah mengapresiasi karena siswa tidak hanya diberi pengetahuan, tetapi juga diajak mempraktikkan cara mengatur dan menggunakan uang dengan bijak. Namun di titik ini muncul pertanyaan kritis: setelah celengan penuh dan mahasiswa KKN pulang, siapa yang memastikan kebiasaan menabung itu terus terjaga—sekolah, orang tua, atau keduanya?
Dari Program KKN Menuju Budaya Literasi Keuangan di Sekolah Dasar
Rangkaian program KKN di Bantaeng, Mojodemak, Bontokapetta, dan Tulungagung memperlihatkan pola yang konsisten: targetnya siswa tingkat dasar, metodenya permainan, diskusi, dan praktik menabung, tujuannya membangun fondasi literasi keuangan anak sebelum mereka naik ke jenjang lebih tinggi. Mahasiswa KKN di berbagai lokasi secara tegas menyatakan harapan bahwa edukasi ini tidak berhenti sebagai pengetahuan sesaat, melainkan diterapkan secara berkelanjutan dengan dukungan sekolah dan orang tua. Ini seharusnya menjadi alarm bagi pemangku kebijakan pendidikan dasar: jika program KKN sekolah mampu mengubah perilaku finansial anak dalam beberapa sesi singkat, mengapa kurikulum tetap formal tidak mengadopsi model serupa secara sistematis? Literasi keuangan tidak semestinya hadir sebagai “bonus” dari mahasiswa KKN, tetapi menjadi budaya belajar di setiap kelas empat dan lima SD.





