Literasi keuangan siswa SD: tren baru yang tidak boleh diremehkan
Literasi keuangan siswa SD adalah upaya sistematis mengenalkan konsep uang, menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta manajemen uang jajan kepada anak usia sekolah dasar melalui pembelajaran teoritis dan aktivitas praktis yang menyentuh keseharian mereka sehingga terbentuk kebiasaan bijak mengelola keuangan sejak dini. Tren itu kini tampak jelas dalam berbagai program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari universitas yang turun langsung ke sekolah-sekolah dasar di berbagai daerah. Mahasiswa UIN Walisongo menggelar edukasi bertema Gemar Menabung untuk siswa kelas IV di SD 3 Mojodemak sebagai upaya menanamkan kebiasaan mengelola keuangan sejak usia dini. Mahasiswa UIN SATU Tulungagung juga menyasar siswa kelas 4 dan 5 dengan tema pentingnya menabung dan pengelolaan keuangan sederhana sejak usia dini. Fakta ini menunjukkan, edukasi finansial anak usia dini tidak lagi dianggap sebagai pelengkap, tetapi kebutuhan.

KKN sebagai ujung tombak edukasi finansial anak usia dini
Yang menarik dari gelombang program menabung anak ini adalah peran KKN sebagai ujung tombak edukasi finansial anak usia dini. Mahasiswa turun ke ruang kelas, bukan membawa teori rumit, tetapi materi konkret tentang fungsi uang dan cara membedakan kebutuhan dan keinginan. Di Demak, kegiatan Gemar Menabung diawali pemaparan pentingnya menabung, manfaat menyisihkan uang secara rutin, serta cara memisahkan kebutuhan dan keinginan dengan bahasa sederhana dan permainan edukatif. Di Tulungagung, Divisi Ekonomi KKN secara sadar menargetkan pembentukan kebiasaan mengelola keuangan secara bijak dan menghindarkan anak dari perilaku konsumtif dan pemborosan. Di Maros, tema literasi keuangan dipilih karena warga mayoritas petani dengan pendapatan bergantung musim panen, sehingga pengelolaan uang menjadi isu nyata dalam kehidupan keluarga. Ini bukan sekadar proyek KKN, tetapi respon terhadap kondisi sosial ekonomi lokal.

Metode praktik: dari games hingga simulasi uang jajan Rp10.000
Kekuatan program literasi keuangan siswa SD ini bukan pada slide materi, melainkan pada metode praktik yang membuat konsep keuangan terasa dekat. Di Maros, penyuluhan literasi keuangan bertajuk “Bijak Kelola Uang Jajanmu!” untuk 44 siswa kelas 6 dilaksanakan selama dua hari, sekitar 60 menit per kelas, dengan materi yang diselingi permainan edukatif bertema kebutuhan vs keinginan. Di Sumatera Barat, mahasiswa UNAND merancang permainan Misi Berburu Jajanan: setiap siswa diberi uang mainan Rp10.000 dan pilihan jajanan sehat maupun tidak sehat, lalu diminta menentukan apa yang dibeli. Dari simulasi sederhana itu, anak belajar manajemen uang jajan dan dampak jangka panjang pilihan jajanan sehat dan tidak sehat. Di Tulungagung, anak tidak hanya mendengar teori, tetapi langsung menghias celengan yang mereka terima, menjadikan menabung sebagai pengalaman konkret dan menyenangkan.

Menabung dan jajanan bergizi: literasi finansial yang lebih holistik
Salah satu kelemahan pendidikan keuangan tradisional adalah memisahkan uang dari konteks hidup anak. Program KKN yang tersebar di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Barat justru menyatukan menabung, manajemen uang jajan, dan pilihan jajanan bergizi dalam satu paket literasi finansial holistik. Di Nagari Campago, program “Bijak Mengelola Uang Jajan dan Cerdas dalam Memilih Jajanan Bergizi” dibuat agar siswa terbiasa membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami pentingnya menabung untuk masa depan, sekaligus menyadari dampak jangka panjang jajanan sehat dan tidak sehat. Melalui edukasi ini para siswa tidak hanya cerdas dalam mengatur keuangan, tetapi juga bijak menjaga pola makan sehat melalui pemilihan jajanan bergizi yang tepat. Di Demak, tujuan eksplisitnya adalah membentuk karakter hemat, disiplin, dan bertanggung jawab dalam mengelola uang saku. Ini definisi baru dari bijak mengelola keuangan bagi anak: bukan sekadar saldo tabungan, tetapi kualitas hidup.

Dampak jangka panjang dan PR bagi sekolah serta orang tua
Walau tampak sederhana, dampak praktis program ini mulai terlihat. Pihak SD 3 Mojodemak menilai kegiatan menambah wawasan dan memotivasi siswa membiasakan menabung sejak dini. Di Bontokapetta, siswa mengaku menjadi paham cara menabung dan mengelola uang jajan, serta bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Mahasiswa KKN di Demak menegaskan harapan agar edukasi tidak berhenti sebagai pengetahuan sesaat, tetapi diterapkan berkelanjutan dengan dukungan sekolah dan orang tua. Koordinator Divisi Ekonomi di Tulungagung juga berharap kebiasaan menabung dan menentukan prioritas kebutuhan terus dilakukan anak, sehingga mereka tidak mudah boros. Tantangannya kini bukan lagi pada kurangnya program, tetapi konsistensi pendampingan. Jika sekolah menjadikan literasi keuangan siswa SD sebagai bagian kurikulum budaya sekolah dan orang tua ikut menjaga manajemen uang jajan di rumah, generasi yang lebih bijak mengelola keuangan bukan lagi sekadar cita-cita.






