Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Proyek Besar NTB: Museum, Bale Mentaram, dan Bypass

Tiga Proyek Besar NTB: Museum, Bale Mentaram, dan Bypass
Minat|Asia Tenggara

Momentum Baru: Infrastruktur NTB antara Budaya dan Konektivitas

Momentum pembangunan infrastruktur di Nusa Tenggara Barat adalah fase ketika pemerintah daerah menggerakkan secara bersamaan proyek-proyek strategis yang menyasar kantor pemerintahan, cagar budaya, dan jaringan jalan demi mempercepat konektivitas, memperkuat identitas lokal, serta membuka ruang pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata dan jasa. Tiga proyek sekaligus—tender infrastruktur Mataram untuk tahap II pembangunan Bale Mentaram, Museum Majapahit perluasan di Trowulan, dan pembebasan lahan jalan bypass Lembar Kayangan—bukan sekadar daftar kegiatan fisik, tetapi sinyal jelas bahwa NTB memilih bertaruh pada infrastruktur sebagai tulang punggung masa depan. Pertanyaannya: apakah pembangunan ini akan menjadi loncatan kualitas, atau hanya kosmetik menjelang hajatan nasional dan kucuran APBN?

Bale Mentaram: Tender Besar, Ambisi Menjadi Etalase Kota

Pemerintah Kota Mataram membuka tender infrastruktur Mataram untuk pembangunan tahap II Bale Mentaram, kantor wali kota, dengan nilai proyek Rp180 miliar. Ini bukan proyek biasa; ia dirancang sebagai wajah kota menyambut Munas APEKSI 2027, dengan target pengumuman pemenang tender pada 7 Oktober 2026. Fokus utama bukan hanya menyelesaikan struktur, tetapi juga penataan lanskap depan sebagai gerbang simbolik kota. Pembangunan Bale Mentaram mencakup sayap kiri, sayap kanan, hingga bagian belakang gedung, disertai pembebasan lahan pendukung bernilai lebih dari Rp3 miliar yang masih menunggu hasil appraisal. "Tahapan tender kami targetkan sampai pengumuman pemenang pada 7 Oktober 2026" adalah pernyataan yang secara gamblang menempatkan jadwal politik dan seremoni nasional sebagai pendorong jadwal teknis. Ini menunjukkan ambisi besar, tapi sekaligus menuntut disiplin eksekusi agar tak berhenti pada fasad megah.

Tiga Proyek Besar NTB: Museum, Bale Mentaram, dan Bypass

Perluasan Museum Majapahit: Investasi Memori Kolektif, Bukan Sekadar Bangunan

Sementara Mataram sibuk merapikan wajah pemerintahan, perluasan Museum Majapahit di Trowulan juga resmi dimulai dengan peletakan batu pertama pada pertengahan tahun 2026. Proyek senilai Rp146 miliar di lahan 4,8 hektare ini didanai APBN melalui Kementerian Kebudayaan, dengan konsep Surya Majapahit sebagai ruh desain. Di sini, infrastruktur dipahami sebagai alat perkuat identitas, bukan hanya magnet wisata. Bupati Muhammad Albarraa (Gus Barra) menekankan bahwa museum ini krusial untuk memperkuat identitas daerah dan menjadi kebanggaan warga Mojokerto. Pernyataan itu menegaskan bahwa investasi negara pada Museum Majapahit perluasan ini adalah investasi memori kolektif. Jika berhasil, Trowulan berpeluang menjadi pusat edukasi sejarah yang hidup, bukan sekadar ruang pajang artefak. Namun seperti semua proyek budaya, tantangan sesungguhnya ada pada kurasi, pengelolaan, dan konsistensi program setelah gedung berdiri.

Bypass Lembar–Kayangan: Konektivitas Sebagai Tulang Punggung Proyek NTB

Di sisi transportasi, Pemprov NTB mengalokasikan Rp13 miliar dari APBD untuk pembebasan 5 hektare lahan jalan bypass Lembar Kayangan. Jalan ini dirancang menghubungkan Pelabuhan Lembar di Lombok Barat dan Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur, dengan konstruksi nanti didanai APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum hingga sekitar Rp3,5 triliun. Saat ini pemerintah provinsi tengah menyusun Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT), Detail Engineering Design (DED), dan Amdal yang baru mulai dikontrak. Targetnya, sebagian lahan sudah bebas pada Desember agar konstruksi bisa mulai tahun 2027 dan berjalan bertahap mengikuti kesiapan lahan. Menurut Kepala BKAD, dukungan daerah adalah kewajiban untuk memudahkan konektivitas antardaerah di NTB. Ini inti proyek NTB: tanpa jalur logistik yang efisien, pariwisata dan ekonomi lokal akan terus tersandera biaya transportasi dan waktu tempuh.

Tiga Proyek Besar NTB: Museum, Bale Mentaram, dan Bypass

Dari Fasad, Museum, hingga Jalan: Apakah Strategi NTB Sudah Sinkron?

Ketiga proyek ini membentuk pola yang menarik: kantor wali kota sebagai etalase tata kelola, museum sebagai jangkar identitas budaya, dan bypass sebagai urat nadi logistik. Pembangunan Bale Mentaram yang dipicu status Mataram sebagai tuan rumah APEKSI, revitalisasi kawasan Majapahit sebagai komitmen pusat pada cagar budaya, serta proyek NTB jalan bypass dengan dukungan APBN dan komitmen konektivitas menunjukkan bahwa infrastruktur pariwisata dan transportasi mulai dipandang sebagai paket utuh, bukan sektor terpisah. Namun sinkronisasi tetap menjadi kata kunci. Fasad kantor megah tanpa layanan publik yang membaik akan terasa hampa. Museum luas tanpa strategi edukasi hanya menjadi monumen sepi. Jalan bypass tanpa manajemen pelabuhan dan angkutan yang baik bisa berubah menjadi proyek mahal yang kurang dimanfaatkan. Momentum sekarang sudah terbentuk; yang dibutuhkan NTB adalah konsistensi perencanaan lintas sektor dan keberanian mengevaluasi hasil, bukan sekadar merayakan seremoni peletakan batu pertama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!