Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Siswa Perlu Berani Melawan Perundungan Digital

Siswa Perlu Berani Melawan Perundungan Digital
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Perundungan digital bukan sekadar candaan

Perundungan digital adalah tindakan berulang untuk menghina, mengancam, mempermalukan, atau mengucilkan seseorang melalui media digital, yang dapat melukai kondisi psikologis korban dan berlanjut di luar sekolah. Karena itu, pendidikan tentang perundungan digital siswa tidak boleh berhenti pada imbauan untuk bersikap baik: anak perlu mengenali perilakunya, tahu cara merespons, dan merasa aman untuk meminta pertolongan. Di Kabupaten Purworejo, siswa madrasah diajak mewaspadai kekerasan dan perundungan melalui media sosial dalam Seminar Pendidikan Anti-Kekerasan di MA Takhassus NU Nuril Anwar, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan itu diikuti sekitar 200 siswa dan guru, dengan Anggota Komisi VIII DPR RI H. Wibowo Prasetyo serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Muhammad Ahsan sebagai narasumber.

Menganggap ejekan sebagai humor tidak menghapus dampaknya. Menghina, mengancam, menyebarkan foto yang mempermalukan, atau mengucilkan teman dapat melukai korban—dan media sosial membuat tindakan itu bisa terus berlangsung setelah jam sekolah usai. Inilah alasan cyberbullying di sekolah harus dipahami sebagai persoalan keselamatan dan kesejahteraan siswa, bukan sekadar konflik kecil antarteman.

Siswa Perlu Berani Melawan Perundungan Digital

Etika bermedia sosial perlu dipraktikkan

Pada 21 Oktober 2026, mahasiswa UPNVJ mengedukasi siswa kelas VII, VIII, dan IX SMPN Satu Atap 01 Pulau Pari, Kepulauan Seribu, tentang etika bermedia sosial dan pencegahan perundungan. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB itu merupakan bagian dari pengabdian masyarakat BEM UPNVJ. Pendekatan diskusi interaktif patut diapresiasi karena memberi siswa ruang membahas situasi nyata, bukan hanya menghafal larangan. Pesannya praktis: jaga kesantunan komunikasi, hormati privasi orang lain, dan saring informasi sebelum membagikannya. Komentar yang merendahkan atau penyebaran informasi pribadi tanpa izin bukan tindakan tanpa akibat; ruang digital tetap berhubungan dengan kehidupan dan martabat orang yang menjadi sasaran.

Kegiatan di Purworejo menguatkan prinsip serupa: anak tidak cukup dijauhkan dari risiko teknologi, tetapi perlu dibekali cara menggunakannya secara sehat, aman, dan bertanggung jawab. Pembatasan akses media sosial bagi anak bukan pengganti pendidikan karakter. Literasi digital yang berguna mengajarkan batas perilaku sekaligus membangun empati, sehingga siswa memahami bahwa kebebasan berekspresi tidak memberi hak untuk merendahkan orang lain.

Kenali tanda, simpan bukti, cari bantuan

Siswa dapat mulai mengenali perundungan digital dari tindakan seperti pesan hinaan atau ancaman, julukan yang merendahkan, pengucilan dalam grup, dan unggahan foto atau informasi pribadi untuk mempermalukan seseorang. Candaan yang membuat sasaran tertekan bukan otomatis aman hanya karena pelaku menyebutnya gurauan. Jika mengalaminya, jangan memendam masalah atau membalas dengan serangan serupa. Simpan pesan atau tangkapan layar bila aman dilakukan, lalu ceritakan kepada orang dewasa tepercaya—misalnya orang tua, guru, atau pihak sekolah—dan minta bantuan melalui saluran pengaduan yang tersedia.

Mencari bantuan bukan tanda lemah; itu langkah untuk menghentikan perilaku dan mencegah dampak berlanjut. Siswa yang menyaksikan perundungan juga bisa menolak ikut menyebarkan konten yang mempermalukan, menunjukkan dukungan kepada korban, serta melapor kepada guru atau orang tua. Keberanian melawan tidak harus berarti menghadapi pelaku sendirian. Edukasi di Pulau Pari mengajak siswa berempati, menghargai perbedaan, dan mengambil sikap ketika melihat tindakan merugikan.

Pencegahan harus menjadi budaya sekolah

Seminar sekali waktu dapat membuka percakapan, tetapi pencegahan perundungan hanya kuat bila menjadi kebiasaan bersama. Guru perlu membangun komunikasi yang saling menghormati dan peka terhadap perubahan perilaku siswa; orang tua perlu mendampingi anak di ruang digital; sekolah perlu menyediakan mekanisme pengaduan yang aman. Tanggung jawab ini tidak seharusnya dibebankan kepada korban, apalagi meminta mereka mengatasi semuanya sendiri. Lingkungan pendidikan yang aman lahir ketika setiap pihak bersedia mendengar, menindaklanjuti laporan, dan menjaga martabat siswa.

Dua kegiatan edukasi tersebut menunjukkan arah yang tepat: menggabungkan literasi digital dengan pendidikan karakter dan keberanian bertindak. Ukuran keberhasilannya bukan banyaknya seminar, melainkan apakah siswa tahu kapan sebuah candaan berubah menjadi perundungan, paham cara meminta bantuan, dan percaya bahwa orang dewasa akan menanggapi laporan mereka. Media sosial akan terus menjadi bagian dari pergaulan anak; tugas sekolah dan keluarga adalah memastikan ruang itu tidak menjadi tempat mereka menghadapi kekerasan sendirian.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!