Bekal keuangan digital untuk pelajar
Literasi keuangan digital adalah kemampuan memahami, mengelola, dan melindungi keputusan keuangan saat memakai layanan daring, termasuk mengenali risiko transaksi serta menilai informasi sebelum bertindak secara kritis. Bekal semacam ini makin penting ketika layanan keuangan mudah diakses, tetapi modus kejahatan digital juga terus berkembang. Di Kalimantan Selatan, 50 pelajar SMA dari berbagai kabupaten dan kota mengikuti Bootcamp Duta AKSEL 2026 selama tiga hari, 22–24 Oktober, untuk menjadi penggerak literasi keuangan dan membantu masyarakat mewaspadai kejahatan digital. Program yang didukung Bank Kalsel dan OJK ini membahas literasi dan inklusi keuangan, keamanan transaksi, serta cara menyampaikan edukasi kepada masyarakat. Pilihan melibatkan pelajar patut diapresiasi: pengetahuan keuangan akan lebih berguna jika tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dibawa ke percakapan sehari-hari dalam keluarga dan pertemanan.

Duta yang meneruskan edukasi ke lingkungan sekitar
Nilai program ini terletak pada tugas lanjutannya. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diharapkan menyebarkan pemahaman tentang transaksi yang aman dan membantu orang mengenali modus penipuan digital. Ni’mah Khairati, salah satu peserta dari Kandangan, menyatakan akan menerapkan ilmu yang diperoleh untuk mengedukasi keluarga, teman sebaya, dan masyarakat sekitar. Direktur Kepatuhan Bank Kalsel, Firmansyah, menilai anak muda dapat menggunakan media sosial untuk membantu masyarakat menghadapi kejahatan digital. Pendekatan ini masuk akal karena informasi yang disampaikan oleh orang yang dikenal sering terasa lebih dekat daripada imbauan umum. Namun, para duta perlu menyampaikan pesan secara cermat dan tidak ikut meneruskan kabar yang belum terverifikasi. Dengan begitu, literasi keuangan pelajar dapat tumbuh menjadi kebiasaan bersama, bukan sekadar gelar bagi peserta bootcamp.
Memahami risiko aset digital sebelum mengambil keputusan
Pencegahan penipuan digital juga menuntut kemampuan memilah informasi tentang produk keuangan yang sedang ramai dibicarakan. Secara terpisah dari Bootcamp AKSEL, OSL Indonesia dan SMSI Bangka Belitung mengadakan seminar literasi blockchain dan aset kripto pada 20 Oktober 2026 di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Kegiatan itu membahas teknologi blockchain, cara kerja aset kripto, serta pentingnya memahami risiko sebelum mengambil keputusan investasi. Materi ini relevan bagi generasi muda, tetapi edukasi aset kripto seharusnya tidak berubah menjadi ajakan untuk berinvestasi. OJK menyebut aset kripto sangat fluktuatif dan berisiko tinggi, sehingga pemahaman tentang profil risiko dan teknologi yang mendasarinya penting bagi masyarakat. OSL menyatakan akan melanjutkan upaya peningkatan literasi aset digital melalui inisiatif edukasi dan kolaborasi. Pada akhirnya, keamanan transaksi online bergantung pada kebiasaan berpikir kritis: memahami risiko lebih dulu, baru mengambil keputusan.






