Festival perlu berangkat dari manfaat nyata
Festival keuangan inklusif adalah ruang temu layanan keuangan, edukasi, dan masyarakat yang dirancang agar akses formal menjangkau kelompok yang selama ini kurang terlayani serta dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Di Jakarta, pemerintah provinsi bersama OJK dan mitra industri membuka Jakarta Financial Festival pada 23 Oktober 2026, sekaligus menutup Program Digitalisasi Pasar Inklusif yang telah berjalan lebih dari setahun. Di Jambi, OJK, pemerintah provinsi, dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan menggelar Jambi Financial Fest pada 27 Oktober sebagai puncak Bulan Inklusi Keuangan. Kedua kegiatan memperlihatkan bahwa acara publik dapat menarik perhatian, tetapi nilai inklusi tidak berhenti pada keramaian. Ukuran yang lebih penting ialah apakah orang bisa mengakses layanan yang sesuai, memahami risikonya, lalu menggunakannya untuk kebutuhan rumah tangga atau usaha.
Digitalisasi pasar harus berlanjut setelah seremoni
Program digitalisasi pasar Jakarta menjangkau 93 pasar, memfasilitasi 1.146 pembukaan rekening, mendukung akses pembiayaan bagi 99 debitur, serta menghadirkan 139 agen Laku Pandai dan 1.283 pedagang pengguna QRIS. Angka-angka itu penting karena menggambarkan jalur layanan yang lebih dekat dengan aktivitas dagang, bukan sekadar kampanye literasi. Namun, rekening yang dibuka atau kode QR yang dipasang belum otomatis membuktikan usaha pedagang berkembang. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menekankan perlunya pendampingan, pemberdayaan, dan evaluasi terukur agar manfaatnya bertahan serta menjangkau lebih banyak pasar. Tantangan berikutnya ialah memastikan pedagang mampu menggunakan transaksi keuangan digital secara rutin, memperoleh pembiayaan sesuai kebutuhan, dan tahu ke mana meminta bantuan saat menemui kendala. Tanpa tindak lanjut itu, capaian infrastruktur mudah menjadi daftar angka yang tidak mengubah keseharian.

Jambi menunjukkan dampak yang dapat dihitung
Jambi memberi ukuran regional yang tegas: transaksi inklusi keuangan selama Bulan Inklusi Keuangan pada September hingga Oktober 2026 tercatat Rp80,35 miliar, naik 55,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan aktivitas keuangan formal di daerah dapat dipantau dengan hasil yang terukur. Namun, penting untuk membedakan transaksi selama periode kampanye dari transaksi yang secara langsung dihasilkan oleh satu acara. Jambi Financial Fest sendiri menghadirkan layanan keuangan, bazar UMKM, layanan SLIK OJK, perlombaan edukasi, dan hiburan. Ragam kegiatan itu berpotensi membuat layanan terasa lebih mudah didekati, tetapi nilai transaksi periode tersebut bukan bukti bahwa setiap pengunjung bertransaksi atau bahwa seluruh kenaikannya berasal dari festival. Ketelitian membaca angka sama pentingnya dengan merayakan kenaikannya.
Kolaborasi perlu ditopang perlindungan dan evaluasi
Kekuatan kedua inisiatif terletak pada kerja bersama pemerintah daerah, OJK, Bank Indonesia, Perumda Pasar Jaya, Bank Jakarta, dan pelaku industri jasa keuangan. Kolaborasi itu membantu menghubungkan edukasi dengan rekening, pembiayaan, agen layanan, dan penerimaan pembayaran digital. Jakarta juga memiliki indeks literasi keuangan 84,01 persen dan inklusi keuangan 99,74 persen berdasarkan SNLIK 2026, tetapi akses yang tinggi tetap perlu disertai pemahaman dan kewaspadaan terhadap layanan ilegal. Karena itu, festival sebaiknya menjadi pintu masuk, bukan penanda bahwa pekerjaan telah selesai. Pendampingan rutin, evaluasi pemakaian layanan, dan edukasi tentang produk yang aman harus mengikuti acara. Kesimpulannya, digitalisasi pasar Jakarta dan capaian transaksi Jambi memberi bukti awal yang menjanjikan. Keberhasilan jangka panjang baru terlihat ketika akses berubah menjadi penggunaan yang aman, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi warga.







