Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Jalan Baru Rusak dalam Hitungan Hari: Koordinasi Pemerintah yang Mandek

Jalan Baru Rusak dalam Hitungan Hari: Koordinasi Pemerintah yang Mandek
Minat|Asia Tenggara

Jalan Unta Raya: Simbol Jalan Rusak Akibat Koordinasi Pemerintah yang Gagal

Jalan rusak koordinasi pemerintah adalah kondisi ketika kerusakan infrastruktur jalan, termasuk aspal baru berlobang, terjadi bukan semata karena usia atau beban lalu lintas, melainkan akibat miskordinasi antar-dinas dan lemahnya pengawasan konstruksi jalan sehingga pekerjaan satu bidang merusak hasil bidang lain dan pemeliharaan jalan infrastruktur tidak berjalan serasi dan berkelanjutan. Di Semarang, definisi itu menemukan contoh telanjang di Jalan Unta Raya. Ruas yang baru diaspal dengan hotmix dan sempat mulus, mendadak cacat setelah dilewati alat berat jenis beko yang hendak dipindahkan usai pekerjaan saluran air.

Kerusakan ini bukan sekadar goresan di permukaan aspal; ia adalah goresan di wajah tata kelola. Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Semarang, Rahmulyo Adi Wibowo, terang-terangan menyebut sumber masalahnya: miskordinasi antara Bidang Bina Marga dan Bidang Sumber Daya Air di lingkungan DPU. Ketika dua bidang dalam satu dinas saja gagal menyelaraskan jadwal dan pergerakan alat berat, publik wajar mempertanyakan seberapa serius pemerintah kota mengelola investasi infrastruktur yang nilainya tidak kecil, meski kerusakan kali ini dinilai "tidak parah" dan jalan masih bisa dilalui warga.

Jalan Baru Rusak dalam Hitungan Hari: Koordinasi Pemerintah yang Mandek

Aspal Baru Berlobang dan Kekecewaan Warga: Dampak Nyata di Permukaan

Dari jauh, Jalan Unta Raya masih tampak bisa digunakan. Namun dari dekat, permukaan aspal yang sebelumnya mulus kini tergerus, tidak rata, dan tampak "gompel-gompel" akibat gesekan ban alat berat beko. Bowo menduga aspal belum cukup matang ketika dilalui kendaraan berat, sehingga mudah terboncel dan cacat. Di atas kertas, kerusakan ini mungkin dikategorikan ringan. Di mata warga, ini adalah pengkhianatan terhadap harapan sederhana: jalan yang baru diperbaiki seharusnya bertahan, bukan rusak dalam hitungan hari.

Kekecewaan itu meledak di media sosial, memaksa pejabat turun ke lapangan dan menjanjikan perbaikan segera. Namun pola respons reaktif ini menunjukkan sesuatu yang lebih mengganggu: pengawasan konstruksi jalan baru bekerja setelah publik marah, bukan sejak tahap perencanaan dan pelaksanaan. Aspal baru berlobang menjadi indikator bahwa standar teknis dan prosedur operasional belum diperlakukan sebagai disiplin yang wajib, melainkan sebagai formalitas yang bisa dinegosiasikan dengan alasan "tidak parah". Selama logika ini dibiarkan, kualitas pemeliharaan jalan infrastruktur akan terus bergantung pada viral atau tidaknya sebuah video kerusakan.

Miskordinasi DPU: Gejala Lemahnya Sinergi Antar-Bidang Pemerintah

Kasus Unta Raya bukan sekadar kelalaian teknis; ia adalah bukti lemahnya sinergi antar-bidang pemerintah. Rahmulyo menyebut langsung, "iki bukti lemahnya koordinasi antarbidang di satu dinas". Bidang Bina Marga mengerjakan pengaspalan, sementara Bidang Sumber Daya Air dan Drainase mengerjakan pengerukan saluran dengan alat berat di kawasan yang sama. Keduanya berada di bawah satu atap institusi, tetapi bekerja seolah terpisah tanpa kalender bersama, tanpa protokol lintas-bidang yang mengikat.

Peristiwa ini memaksa evaluasi internal, namun evaluasi tanpa perubahan sistem hanya akan melahirkan siklus permintaan maaf dan perbaikan tambal sulam. Koordinasi yang dimaksud bukan sekadar rapat tambahan, melainkan mekanisme wajib: setiap pekerjaan pemeliharaan saluran, pengerukan sungai, atau pergerakan alat berat harus memeriksa status infrastruktur di sekitarnya. Tanpa itu, miskordinasi DPU dinas akan terus berulang, dan setiap proyek baru berisiko merusak proyek lain yang belum sempat dinikmati publik. Jalan rusak koordinasi pemerintah, dalam bentuk seperti ini, adalah kegagalan manajemen, bukan takdir teknis.

Dari Semarang ke Daerah Lain: Pola Struktural dan Jurang Pemeliharaan

Meski sorotan saat ini tertuju ke Jalan Unta Raya, pola aspal baru berlobang dan jalan rusak akibat miskordinasi bukan monopoli satu kota. Di banyak daerah, jalan lintas yang seharusnya menjadi tulang punggung mobilitas berubah menjadi deretan lubang; di desa, warga kerap bergotong royong menambal jalan dengan swadaya ketika menunggu pemeliharaan jalan infrastruktur dari pemerintah tak kunjung datang. Fenomena ini menunjukkan jurang antara gencarnya investasi pembangunan fisik dan kapasitas operasional untuk merawatnya.

Kasus Semarang menambah satu lapis lagi: bukan hanya soal dana pemeliharaan yang terbatas, tetapi juga tata kelola yang tidak terintegrasi. Pengawasan konstruksi jalan sering berhenti di tahap serah terima proyek, sementara koordinasi lintas-bidang untuk melindungi infrastruktur yang baru selesai nyaris tidak terlihat. Akibatnya, jalan yang baru diaspal bisa rusak bukan karena usia, melainkan karena alat berat dinas sendiri. Selama struktur organisasi dan prosedur kerja tidak dirombak agar sinergi menjadi kewajiban, bukan pilihan, jurang antara pembangunan dan pemeliharaan akan terus melebar.

Kesimpulan: Tanpa Reformasi Koordinasi, Jalan Mulus Hanya Ilusi

Pelajaran dari Jalan Unta Raya jelas: masalah utama bukan sekadar kualitas aspal, melainkan kualitas koordinasi. Ketika Bidang Bina Marga dan Bidang Sumber Daya Air dalam satu dinas saja gagal menyusun pekerjaan yang saling melindungi, publik tidak bisa berharap banyak pada sinergi antar-lembaga yang lebih besar. Jalan rusak koordinasi pemerintah akan terus menjadi berita berulang, sementara warga hanya kebagian rasa kecewa dan risiko keselamatan.

Reformasi yang dibutuhkan bukan slogan, melainkan aturan kerja yang tegas: kalender proyek terintegrasi, larangan melintas alat berat di atas aspal baru, standar pengawasan konstruksi jalan yang aktif sejak perencanaan hingga pemeliharaan. Tanpa itu, setiap pengaspalan baru berpotensi menjadi sekadar kosmetik yang mudah tergerus. Jika pemerintah serius menjadikan infrastruktur sebagai tulang punggung pembangunan, maka koordinasi antar-bidang harus diperlakukan sebagai fondasi, bukan catatan kaki. Jalan mulus yang tahan lama hanya mungkin lahir dari sistem yang rapi, bukan dari proyek yang berdiri sendiri-sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!