Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Desakan Gubernur Soal Jalan Nasional Rusak dan Respons Pemerintah

Desakan Gubernur Soal Jalan Nasional Rusak dan Respons Pemerintah
Minat|Asia Tenggara

Perbaikan Jalan Nasional sebagai Ujian Serius Kebijakan Infrastruktur

Perbaikan jalan nasional di Kalimantan Timur adalah upaya memulihkan konektivitas regional yang terganggu oleh kerusakan serius di ruas-ruas penghubung utama seperti Kutai Kartanegara–Kutai Barat, Bontang–Kutai Timur, dan Kutai Timur–Berau, yang kini dinilai menghambat mobilitas masyarakat, jalur logistik, dan keselamatan pengguna jalan serta berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi wilayah ketika pemerintah pusat masih bergulat dengan tekanan anggaran dan prioritas pembangunan infrastruktur baru. Inti persoalan yang ditegaskan Rudy Mas’ud sangat lugas: hentikan dulu ambisi menambah ruas baru bila jalan nasional eksisting saja babak belur. Gubernur Kalimantan Timur itu mendesak pemerintah pusat tidak lagi menunda perbaikan, karena di lapangan masyarakat berhadapan dengan lubang, kerusakan berat, dan waktu tempuh yang melelahkan, sementara negara mengklaim mendorong konektivitas antardaerah.

Jalan Rusak Kutai Barat dan Dampaknya pada Konektivitas Regional

Ruas jalan rusak menuju Kutai Barat adalah simbol betapa rapuhnya infrastruktur Kalimantan Timur ketika pemeliharaan dikorbankan demi proyek baru. Dari Kutai Kartanegara ke Kutai Barat seluruhnya berstatus jalan nasional, tetapi gubernur menyebut kondisinya "rusak parah"—sebuah pengakuan bahwa jalur logistik utama dibiarkan turun kelas menjadi rute penuh risiko. Data resmi menunjukkan panjang jalan nasional menuju Kutai Barat mencapai 301,97 kilometer, dengan hanya 65,45 persen dalam kondisi mantap dan 34,55 persen sisanya tidak mantap per semester II 2025. Angka ini bukan sekadar statistik; ia berarti truk angkutan barang, kendaraan pelayanan dasar, hingga mobil pribadi harus menanggung kerusakan kendaraan dan waktu tempuh panjang. Pada level konektivitas regional, jalan rusak mengubah potensi ekonomi menjadi biaya tambahan, membuat kawasan hinterland seperti Kutai Barat terasa semakin jauh dari pusat aktivitas.

Desakan Gubernur Soal Jalan Nasional Rusak dan Respons Pemerintah

Bontang–Kutai Timur–Berau: Ruas Nasional yang Mengancam Keselamatan

Desakan gubernur tidak berhenti di Kutai Barat. Ia menyoroti jalur Bontang–Kutai Timur dan sebagian ruas Kutai Timur–Berau yang kini memasuki fase kerusakan yang mengancam keselamatan. Di sana, retak buaya sudah berkembang menjadi lubang-lubang, menjadikan jalan nasional bukan lagi koridor konektivitas regional yang andal, melainkan lintasan berbahaya dengan risiko kecelakaan tinggi. Ketika jalan nasional, yang seharusnya menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat dan distribusi barang, berubah menjadi sumber ancaman, wajar bila gubernur menilai kebijakan infrastruktur Kalimantan Timur sedang salah arah. Ruas-ruas ini menghubungkan pusat industri energi, kawasan pertambangan, dan wilayah pesisir. Namun tanpa perbaikan jalan nasional yang serius, potensi tersebut terhambat oleh hambatan paling dasar: permukaan aspal yang tak layak.

Desakan Gubernur Soal Jalan Nasional Rusak dan Respons Pemerintah

Mengapa Pemeliharaan Jalan Eksisting Harus Mengalahkan Proyek Baru

Keberanian Rudy Mas’ud menegaskan bahwa ia tidak meminta pembangunan jalan baru adalah kritik langsung terhadap pola pikir pembangunan yang terlalu gemar meresmikan proyek segar namun abai pada pemeliharaan. Menurutnya, lebih baik tidak ada ruas baru sama sekali, asalkan jalan eksisting dirawat dan segera diperbaiki ketika rusak. Gubernur mencontohkan Kutai Barat: "Sudah tidak dibangun jalan baru, yang lama juga tidak diperbaiki"—potret ganda kelalaian kebijakan. Dengan keterbatasan APBN dan tekanan ekonomi global, prioritas logis adalah menjaga agar jaringan yang sudah ada tetap berfungsi. Jika jalur nasional sebagai sumbu konektivitas regional runtuh kualitasnya, pembangunan jalan baru akan tampak seperti kosmetik yang menutup luka lama. Daya saing wilayah, investasi, dan pelayanan publik akan lebih banyak diuntungkan oleh pemeliharaan rutin dan perbaikan terarah daripada sekadar penambahan kilometer jalan di atas kertas.

Respons Dirjen Bina Marga: Komitmen Percepatan dan Tugas Berat ke Depan

Di sisi pemerintah pusat, Dirjen Bina Marga menyambut desakan gubernur dengan janji percepatan penanganan. Ia menginstruksikan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional untuk menyusun strategi percepatan pada ruas yang menjadi jalur utama logistik dan mobilitas masyarakat, serta berkolaborasi dengan direktorat terkait dan pemerintah daerah dalam menyiapkan alokasi anggaran. Respons ini membuka ruang kerja sama pembiayaan bersama, sebagaimana pernah dilakukan pada ruas Kutai Barat–Mahakam Ulu. Jika komitmen perbaikan infrastruktur Kalimantan Timur ini benar-benar dijalankan, publik layak menagih hasil yang terukur: peningkatan kemantapan jalan nasional, turunnya angka kecelakaan, dan jarak tempuh yang lebih singkat di koridor-koridor strategis yang menopang konektivitas regional. Pada akhirnya, kebijakan perbaikan jalan nasional akan dinilai bukan dari pidato, melainkan dari pengalaman sederhana pengguna: apakah "yang jauh terasa dekat" atau tetap "yang dekat pun tak sampai-sampai".

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!