Penanganan banjir dimulai dari saluran
Drainase Terminal Wirosari adalah jaringan saluran yang menampung dan mengalirkan air hujan di kawasan terminal, sehingga kondisinya menentukan apakah genangan mengganggu akses dan kegiatan sehari-hari. Banjir yang berulang di Terminal Tipe C Wirosari, Kabupaten Grobogan, mendorong Dinas Perhubungan (Dishub) Grobogan memulai penanganan melalui pembangunan saluran. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 390 juta untuk pekerjaan ini. Langkah tersebut layak dipandang sebagai kebutuhan layanan dasar, bukan sekadar pembenahan fisik: genangan di terminal dapat menyulitkan orang yang datang, pergi, atau beraktivitas di sana. Namun, hasilnya akan bergantung pada apakah kapasitas saluran benar-benar pulih dan tahap awal ini diikuti penyelesaian bagian terminal yang belum tersentuh.

Saluran lama dibersihkan, jalur baru dibangun
Pemicu masalahnya sudah terlihat: saluran yang ada dipenuhi sedimentasi, sehingga kemampuannya menampung dan mengalirkan air tidak optimal. Rencana tahap awal mencakup normalisasi saluran lama dan pembangunan saluran baru di sisi barat terminal. Pekerjaan membentang dari bagian depan hingga kira-kira bagian tengah; area belakang belum masuk cakupan. Dishub juga menyebut saluran akan diperlebar agar aliran air lebih lancar. Kombinasi pembersihan dan pelebaran lebih masuk akal daripada mengandalkan satu tindakan saja: pengerukan mengatasi endapan, sementara penambahan lebar ditujukan untuk memperbesar kapasitas aliran. Meski demikian, cakupan yang terbatas berarti perbaikan ini belum bisa dianggap sebagai solusi menyeluruh bagi banjir Terminal Wirosari.
Jadwal dan dampak bagi pengguna terminal
Pekerjaan dijadwalkan mulai Senin, 9 November 2026, dengan masa pelaksanaan 45 hari. Artinya, manfaat yang dituju bukan hanya saluran yang lebih tertata, melainkan berkurangnya risiko genangan menghambat akses dan aktivitas masyarakat di kawasan terminal. Bagi penumpang dan warga yang menggunakan area tersebut, kelancaran akses saat hujan adalah ukuran paling nyata keberhasilan proyek. Karena pekerjaan berlangsung di lingkungan terminal, pelaksanaan juga perlu menjaga agar kegiatan harian tetap dapat berjalan. Sumber tidak merinci pengaturan akses selama konstruksi, sehingga pengguna sebaiknya mengikuti arahan petugas di lokasi. Perbaikan drainase Grobogan ini menjanjikan perbaikan pada jalur yang dikerjakan, tetapi dampak akhirnya baru dapat dinilai setelah saluran berfungsi menghadapi hujan.
Tahap awal perlu disambung
Dishub menyatakan kebutuhan pembenahan saluran masih panjang dan pekerjaan kali ini belum mencapai bagian belakang terminal. Fandy Murdianto berharap ada tambahan anggaran agar pembangunan dapat diteruskan hingga area tersebut. Harapan itu penting karena genangan tidak selalu berhenti pada batas proyek: bagian yang belum ditangani dapat tetap menjadi titik lemah ketika hujan deras. Dengan alokasi sekitar Rp 390 juta, tahap ini memulai penanganan, tetapi bukan akhir dari pekerjaan yang dibutuhkan. Dishub juga menyebut perlunya pembangunan landasan dan perbaikan fasilitas terminal untuk penataan kawasan yang lebih baik. Kesimpulannya, proyek ini merupakan langkah tepat untuk mengatasi penyebab banjir, tetapi pemerintah perlu memastikan kelanjutan pekerjaan agar manfaatnya tidak berhenti di bagian depan dan tengah.






