KuybeliKuybeli

Kota Medan Percepat Perbaikan Drainase dan Pengendalian Banjir

Kota Medan Percepat Perbaikan Drainase dan Pengendalian Banjir
Minat|Asia Tenggara

Medan Berbenah Drainase: Dari Laporan Pasif ke Aksi Terintegrasi

Pengelolaan drainase tersumbat Medan adalah upaya terencana pemerintah kota untuk mengidentifikasi, membersihkan, dan meningkatkan saluran air secara terintegrasi agar aliran kembali lancar, risiko banjir menurun, dan mobilitas warga tidak terganggu, melalui kombinasi pengerukan sedimen, perbaikan fisik parit, serta koordinasi lintas kecamatan yang dilakukan secara proaktif dan berkelanjutan. Kota Medan memilih jalur yang lebih berani: tidak lagi menunggu keluhan menumpuk, tetapi menjadikan pengelolaan drainase bagian dari manajemen air perkotaan yang aktif. Melalui pola jemput bola, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) turun ke wilayah bersama pemerintah kecamatan untuk mengidentifikasi langsung masalah jalan, drainase, dan infrastruktur lain agar penanganannya cepat dan tepat sasaran. Langkah ini bukan sekadar respons teknis, melainkan pergeseran cara pandang bahwa infrastruktur pengendalian banjir adalah layanan dasar yang harus dijaga sebelum warga kebanjiran dan terjebak macet.

Kota Medan Percepat Perbaikan Drainase dan Pengendalian Banjir

Misi Energik SDABMBK: Jemput Bola sebagai Tulang Punggung Manajemen Air

Pola jemput bola yang dijalankan melalui ‘Misi Energik SDABMBK’ menunjukkan bahwa Medan mulai memahami manajemen air perkotaan sebagai pekerjaan lapangan, bukan sekadar administrasi proyek. Program ini dimulai lewat kunjungan Kepala Dinas SDABMBK Khairul Azmi bersama UPT Medan Utara ke Kantor Camat Medan Belawan, sebagai bagian rangkaian kunjungan ke seluruh kecamatan untuk memetakan persoalan infrastruktur yang mendesak. Menurut Khairul Azmi, pola jemput bola adalah komitmen mengawal program prioritas Wali Kota agar pelaksanaannya lebih efektif. Di Belawan, fokus pembahasan mencakup Jalan Selebes, Belawan Bahari, dan Sicanang yang menjadi akses vital bagi aktivitas masyarakat dan perekonomian kawasan. Pendekatan ini patut diapresiasi, karena sinkronisasi data antara kecamatan dan dinas membuat perencanaan infrastruktur pengendalian banjir disusun berdasarkan urgensi dan kondisi nyata, bukan asumsi di balik meja.

Jalan Taduan Sidorejo: Contoh Nyata Penanganan Sedimentasi Kronis

Kasus drainase tersumbat Medan di Jalan Taduan, Kelurahan Sidorejo, Medan Tembung, menjadi ilustrasi jelas mengapa pendekatan aktif ini diperlukan. Warga selama ini mengeluhkan sedimentasi tebal yang menghambat aliran air, dan keluhan itu akhirnya ditindaklanjuti dengan aksi bergotong royong membersihkan saluran pada Sabtu 8 Agustus 2026. Sedimentasi dan sampah diangkat manual dan dengan alat berat agar aliran kembali lancar dan penanganan lebih optimal. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Citra Effendi Capah menyebut parit yang tersumbat dan dipenuhi sedimen berpotensi menimbulkan genangan. Pernyataan ini mengakui bahwa tanpa pengerukan sedimen sungai dan parit, infrastruktur pengendalian banjir tinggal nama. Di lapangan, Kepala Dinas SDABMBK menurunkan satu alat berat dan sejumlah truk untuk mengangkut hasil pengerukan, mengerjakan satu sisi dulu agar aktivitas warga tetap berjalan. Ini contoh penanganan yang teknis, tetapi tetap peka terhadap kehidupan sehari-hari warga.

Dari Pengerukan ke Desain Ulang: Mencegah Banjir, Bukan Hanya Menguras Genangan

Pengerukan sedimen sungai dan parit di Sidorejo bukan sekadar proyek bersih-bersih sesaat. Khairul Azmi menegaskan, tahap berikutnya adalah mengukur elevasi, lalu menghitung kebutuhan pemasangan U-ditch sebagai bagian dari peningkatan struktur drainase. Pendekatan ini mengarah pada desain ulang infrastruktur pengendalian banjir, bukan hanya mengevakuasi sedimen lalu menunggu masalah berulang. Citra Effendi Capah menekankan bahwa pembersihan dilakukan hingga tuntas dan akan berlanjut ke wilayah lain. Ini menunjukkan adanya rencana jangka menengah: mengaitkan pengerukan, pembangunan fisik, dan pola operasi rutin. Namun, keberhasilan manajemen air perkotaan tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke dinas. Citra mengajak masyarakat menjaga drainase dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menutup parit untuk kepentingan pribadi. Tanpa perubahan perilaku, sedimen dan sampah akan kembali, dan biaya sosial banjir tetap ditanggung warga.

Menuju Sistem Pengelolaan Air Perkotaan yang Terintegrasi

Jika ditarik garis besar, apa yang dilakukan Medan lewat Misi Energik SDABMBK dan penanganan Jalan Taduan adalah langkah awal menuju sistem manajemen air perkotaan yang terintegrasi. Dinas tidak lagi menunggu laporan, tetapi mengidentifikasi masalah bersama kecamatan agar penanganan drainase, jalan, dan infrastruktur lain berlangsung cepat dan tepat sasaran. Kunjungan ke kecamatan menjadi ruang sinkronisasi data, sehingga proyek disusun berdasarkan urgensi dan kondisi riil. Harapannya, sinergi antara perangkat daerah dan pemerintah kewilayahan mempercepat penyelesaian persoalan infrastruktur di seluruh kota, dan manfaatnya segera dirasakan masyarakat. Namun, untuk menjadikan ini lompatan nyata, Medan perlu memastikan pola jemput bola bukan kampanye sesaat, melainkan standar kerja baru. Tanpa konsistensi, pengerukan sedimen dan perbaikan drainase tersumbat Medan akan kembali bersifat reaktif, sekadar meredakan keluhan, bukan mencegah banjir secara sistematis.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!