Drainase, Jalan, dan Banjir: Masalah Terhubung yang Menuntut Solusi Terpadu
Drainase kota modern adalah sistem saluran, pompa, dan infrastruktur pendukung yang dirancang untuk mengalirkan, menampung, dan mengendalikan air hujan agar tidak menimbulkan banjir, sekaligus mendukung fungsi jalan dan ruang kota sehingga mobilitas warga tetap lancar meski intensitas hujan dan tekanan urban terus meningkat. Di banyak kota, banjir dan kemacetan sudah menjadi pasangan tak terpisahkan: genangan di ruas utama melumpuhkan arus kendaraan, sementara pelebaran jalan tanpa memperbaiki drainase hanya memindahkan masalah ke titik lain. Karena itu, investasi pemerintah daerah yang menggabungkan penataan drainase dengan peningkatan kualitas jalan dan infrastruktur banjir bukan lagi pilihan tambahan, melainkan strategi inti pembangunan perkotaan. Pertanyaan pentingnya: apakah alokasi anggaran lokal saat ini sudah cukup tajam menjawab prioritas warga yang sehari-hari bergelut dengan macet dan genangan?
Pekalongan: Menggabungkan Drainase, Jalan, dan Pompa dalam Satu Paket Anggaran
Pemerintah Kota Pekalongan mengambil langkah tegas dengan menyiapkan sekitar 50 paket pekerjaan dalam skema Perubahan Anggaran Tahun 2026, fokus pada penataan drainase, peningkatan kualitas jalan, serta rehabilitasi pompa pengendali banjir. Nilai total anggaran yang digelontorkan berada di kisaran Rp15 miliar hingga Rp20 miliar—jelas bukan angka kecil untuk ukuran investasi infrastruktur banjir di level kota. Paket terbesar adalah penataan drainase di Jalan WR Supratman dengan anggaran Rp5 miliar yang bersumber dari bantuan keuangan pemerintah provinsi, ditambah rehabilitasi pompa di Stasiun Pompa Jalan Selatan senilai Rp1 miliar untuk penggantian unit pompa. Pilihan menggabungkan drainase kota modern dengan peningkatan beberapa ruas jalan menunjukkan pemahaman bahwa mobilitas dan banjir saling memengaruhi: jalan mulus tanpa saluran yang baik akan cepat rusak, sementara drainase bagus tanpa akses yang layak tetap menyulitkan warga. Menurut DPUPR, seluruh paket ini diprioritaskan untuk menjawab kebutuhan mendasar warga terhadap genangan air, kerusakan jalan, dan optimalisasi sistem pompa banjir yang selama ini menjadi andalan kota.
Jember: Data Survei Menegaskan Banjir dan Macet Sebagai Ancaman Utama
Jika Pekalongan merespons lewat investasi konkret, Jember baru sampai pada tahap pemetaan masalah. Survei Persepsi dan Prioritas Masalah Masyarakat Perkotaan Kabupaten Jember 2026 yang dilakukan PAR Strategy Center menunjukkan kemacetan dan banjir sebagai dua persoalan paling mendesak di tiga kecamatan perkotaan: Kaliwates, Sumbersari, dan Patrang. Menariknya, kedua masalah itu dipilih sama-sama oleh 85 responden ketika diminta menentukan persoalan paling mendesak, mengungguli keamanan dan stabilitas harga kebutuhan pokok. Di sisi banjir, data BPS mencatat lonjakan signifikan: kejadian banjir meningkat dari 11 pada 2023 menjadi 31 pada 2024. Sementara kemacetan dipicu oleh meningkatnya jumlah kendaraan, aktivitas perdagangan, mobilitas warga, dan keberadaan PKL yang tidak diimbangi manajemen lalu lintas yang memadai. Dari sini terlihat bahwa tanpa infrastruktur banjir yang kuat dan tata transportasi yang serius, tekanan perkotaan Jember akan terus bertambah. Lembaga survei tersebut sudah menyusun rekomendasi strategis yang menyentuh mobilitas, risiko banjir, pengelolaan sampah, ekonomi, dan keamanan, dan berharap hasil survei menjadi rujukan kebijakan yang lebih responsif bagi pemerintah daerah.
Mengapa Integrasi Drainase dan Jalan adalah Strategi Paling Rasional
Kasus Pekalongan dan temuan di Jember mengirim pesan jelas: memisahkan urusan drainase dan jalan dalam kebijakan sektoral adalah resep untuk kegagalan. Banjir di kawasan perkotaan hampir selalu muncul di titik dengan kepadatan lalu lintas tinggi, dan kemacetan sering memburuk ketika infrastruktur banjir tidak mampu menyalurkan air sehingga terjadi genangan di ruas utama. Peneliti PAR Strategy Center menekankan bahwa penanganan kemacetan dan banjir harus dilakukan secara terpadu melalui penataan transportasi, ruang publik, drainase, dan tata ruang. Dari sisi investasi pemerintah daerah, pendekatan seperti di Pekalongan—di mana paket drainase kota modern, peningkatan jalan, dan pompa pengendali banjir didesain sebagai satu kesatuan proyek—menunjukkan penggunaan anggaran yang lebih efisien dan dekat dengan realitas lapangan. Ketika satu ruas jalan diperbaiki bersamaan dengan saluran di bawahnya dan ditopang pompa yang andal, manfaatnya berlipat: umur jalan lebih panjang, risiko banjir turun, dan mobilitas warga makin lancar. Di sinilah infrastruktur banjir harus dilihat bukan sekadar proyek teknis, melainkan instrumen untuk menekan biaya sosial akibat macet dan genangan yang selama ini ditanggung warga dan dunia usaha.
Investasi Lokal sebagai Komitmen Politik dan Agenda Jangka Panjang
Pada akhirnya, investasi pemerintah daerah dalam drainase dan jalan adalah ukuran nyata komitmen terhadap kebutuhan masyarakat perkotaan. Kepala DPUPR Pekalongan menyatakan optimistis bahwa dengan terlaksananya seluruh paket pekerjaan, kualitas infrastruktur kota akan membaik, mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar, sistem drainase lebih mumpuni, dan pengendalian banjir di berbagai kawasan berjalan lebih optimal. Pernyataan ini bukan sekadar slogan; ia adalah janji yang bisa diukur dari tender, pelaksanaan, hingga dampak di jalan dan pemukiman. Di Jember, hasil survei warga dan rekomendasi PAR Strategy Center mendorong pemerintah kabupaten, DPRD, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk menyusun kebijakan yang lebih responsif terhadap tekanan perkotaan, termasuk di bidang mobilitas dan risiko banjir. Jika rekomendasi itu diterjemahkan menjadi alokasi anggaran yang terintegrasi seperti di Pekalongan, transformasi tata kota bukan hal utopis. Kesimpulannya tegas: kota-kota besar yang berani memprioritaskan drainase kota modern, infrastruktur banjir, dan jaringan jalan dalam satu kerangka investasi jangka panjang akan lebih siap menghadapi banjir dan kemacetan sekaligus, dibanding mereka yang masih terjebak logika tambal sulam proyek sektoral.






