Penurunan Stunting Balita Bukan Mimpi, Asal Strateginya Tepat
Penurunan stunting balita adalah upaya sistematis untuk mengurangi jumlah anak usia bawah lima tahun yang mengalami keterlambatan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis, penyakit berulang, dan lingkungan yang buruk, melalui intervensi terencana di layanan kesehatan dasar, penguatan gizi keluarga, dan koordinasi lintas sektor yang menyasar ibu hamil, bayi, hingga balita secara berkelanjutan. Di tiga daerah—Tasikmalaya, Merangin, dan Bontang Selatan 1—kita melihat bukti bahwa intervensi stunting daerah yang serius dapat membuat angka stunting turun dalam waktu singkat. Ini bukan sekadar program stunting pemerintah di atas kertas, melainkan perubahan nyata di lapangan yang mengandalkan kader posyandu efektif dan sinergi lintas sektor. Pertanyaannya bukan lagi apakah stunting bisa ditekan, tetapi apakah daerah mau bekerja sekeras tiga contoh ini.
Tasikmalaya: Mengakui Masalah, Memperkuat Kader Posyandu
Tasikmalaya memilih titik awal yang jujur: mengakui ada 114 balita stunting di Kecamatan Culamega berdasarkan pengukuran Februari, dari 1.502 balita yang ditimbang dengan prevalensi 7,6 persen. Alih-alih defensif, pemerintah kecamatan menjadikan data itu bahan rembuk stunting di Desa Mekarlaksana pada 26 Agustus, menghadirkan pemerintah desa, puskesmas, dan kader posyandu dalam satu forum koordinasi untuk merancang langkah penanganan yang lebih terarah. Sikap ini penting: penurunan stunting balita dimulai dari keterbukaan terhadap data dan kemauan memperbaiki layanan. Camat Culamega menegaskan bahwa penanganan tidak cukup diarahkan pada anak yang sudah terdampak, tetapi harus menyentuh pencegahan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat. Fokus besar diberikan pada peningkatan kapasitas kader posyandu, yang diakui sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan desa dan berhadapan langsung dengan keluarga dan balita. Tanpa kader posyandu efektif, intervensi gizi tak akan menjangkau rumah tangga yang paling membutuhkan.

Merangin: Kolaborasi Lintas Sektor dan Dapur Makan Bergizi Gratis
Berbeda dengan Tasikmalaya yang masih pada tahap penguatan, Merangin sudah menunjukkan hasil konkret: jumlah balita stunting turun tajam dari 1.109 pada Juni menjadi 638 balita pada Agustus. Penurunan hampir setengah ini tidak datang dari satu dinas tunggal, melainkan dari koordinasi serius dalam rapat evaluasi 27 Agustus yang dipimpin Sekda Merangin dan diikuti jajaran lintas sektor—dari Bappeda, pendidikan, ketahanan pangan, pekerjaan umum, hingga kesehatan dan pemberdayaan masyarakat desa. "Pemerintah Kabupaten Merangin berhasil menekan angka stunting secara signifikan" adalah fakta yang layak dikutip. Salah satu langkah berani adalah instruksi Sekda agar intervensi gizi memprioritaskan balita stunting di sekitar Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), memusatkan sumber daya di titik yang jelas sasaran dan dampaknya. Merangin menunjukkan bahwa program stunting pemerintah menjadi efektif ketika dikaitkan dengan pelayanan konkret seperti makanan bergizi gratis dan tidak berhenti di sosialisasi.
Bontang Selatan 1: Menjaga Momentum Penurunan, Menguatkan Posyandu Remaja
Bontang Selatan 1 berada dalam fase transisi: prevalensi stunting sudah turun ke 19 persen, namun target 12 persen masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda. Situasi ini menggambarkan bahwa penurunan awal sering kali lebih mudah, tetapi mendekati target nasional membutuhkan strategi yang lebih tajam dan berkelanjutan. Di wilayah ini, pendekatan intervensi stunting daerah mulai merambah kelompok remaja melalui keberadaan Posyandu Remaja di Bontang Lestari, yang mendekatkan layanan kesehatan dan edukasi terkait risiko nikah dini. Itu langkah penting, karena pernikahan usia muda sering berujung pada kehamilan dengan status gizi buruk, yang kemudian memicu lahirnya bayi berisiko stunting. Bontang Selatan 1 mengajarkan satu hal: penanganan stunting tidak boleh berhenti di balita, tetapi harus memutus rantai sejak remaja, calon ibu, hingga keluarga muda. Jika posyandu remaja dirancang serius, ia bisa menjadi lini pencegahan paling strategis.

Pelajaran Besar: Lintas Sektor, Data, dan Kader Posyandu Efektif
Dari Tasikmalaya, Merangin, dan Bontang Selatan 1, pola keberhasilan program stunting pemerintah mulai terlihat jelas. Pertama, data dijadikan kompas, bukan ancaman: angka stunting terang-benderang, lalu ditindak dengan rembuk dan rakor stunting yang mengundang banyak pihak. Kedua, intervensi stunting daerah tidak bisa berjalan sendiri; Merangin memberikan contoh melalui pertemuan yang melibatkan beragam dinas, dari ketahanan pangan hingga pendidikan, dan mensinergikan kerja TPPS dengan program Makan Bergizi Gratis. Ketiga, kader posyandu efektif menjadi penentu: di Culamega, peningkatan kapasitas SDM kader ditekankan karena mereka adalah ujung tombak yang berhadapan langsung dengan keluarga dan balita. Kesimpulannya, penurunan stunting balita bukan soal satu program ajaib, melainkan soal disiplin kolektif: pemerintah berani mengkoordinasikan sektor, kader posyandu siap bekerja di akar rumput, dan masyarakat mau mengubah praktik pengasuhan dan gizi. Tanpa ketiganya, target stunting tinggal slogan.






