Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dua Wilayah Buktikan Penurunan Stunting Bisa Dipercepat

Dua Wilayah Buktikan Penurunan Stunting Bisa Dipercepat
Minat|Pengetahuan Parenting

Stunting Turun, Bukti Strategi Terpadu Mulai Berhasil

Penurunan stunting adalah berkurangnya proporsi atau jumlah anak yang mengalami gangguan pertumbuhan kronis akibat kekurangan gizi berkepanjangan, penyakit berulang, dan pola pengasuhan yang tidak memadai, yang dicapai melalui kombinasi intervensi gizi, layanan kesehatan dasar, edukasi keluarga, serta koordinasi lintas sektor di tingkat komunitas. Dalam kasus Kelurahan Pagesangan dan wilayah kerja Puskesmas Kotaraja, penurunan stunting bukan sekadar angka di laporan resmi, melainkan cermin perubahan nyata cara pemerintah lokal, tenaga kesehatan, dan masyarakat memandang masa depan anak-anak mereka. Kedua wilayah ini menunjukkan bahwa strategi cegah stunting yang konsisten bisa membuat prevalensi stunting turun dalam waktu relatif singkat, asalkan ada fokus pada keluarga berisiko dan dukungan kebijakan yang tidak parsial. Momentum positif ini patut dibaca sebagai sinyal bahwa target nasional bukan mimpi, tetapi sesuatu yang bisa dikejar dengan kerja sistematis.

Pagesangan: Menurunkan Kasus Stunting 50 Persen Tanpa Dukungan Swasta

Kelurahan Pagesangan mencatat penurunan kasus stunting sekitar 50 persen dari lebih 20 anak menjadi separuhnya pada tahun berjalan. Angka ini signifikan, terlebih dicapai tanpa keterlibatan dunia usaha. Lurah Ida Bagus Made Ariawan menegaskan bahwa penurunan stunting di wilayahnya lahir dari intervensi terarah: Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pendampingan sasaran, serta penguatan layanan posyandu yang melibatkan dinas kesehatan, puskesmas, kader posyandu, dan instansi terkait lainnya. Pemerintah kelurahan juga melakukan aktivasi dan mitigasi di wilayah rawan stunting agar kasus baru dapat dicegah sedini mungkin. Program Makan Bergizi Gratis untuk kelompok B3 memperkuat strategi cegah stunting, karena keluarga paling rentan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada daya beli mereka untuk memenuhi gizi anak. Pesannya jelas: dengan fokus pada layanan dasar dan pendampingan intensif, penurunan stunting bisa terjadi meski sumber daya terbatas.

Kotaraja: Menekan Prevalensi Stunting dan Mengunci Komitmen Lintas Sektor

Wilayah kerja Puskesmas Kotaraja menunjukkan bahwa penurunan stunting adalah proses berkelanjutan, bukan proyek jangka pendek. Prevalensi stunting turun dari 30 persen pada 2025 menjadi 26,95 persen berdasarkan penarikan data per September tahun berikutnya. Kepala puskesmas menilai hasil ini sebagai bukti program pencegahan berjalan, tetapi menolak berpuas diri karena target nasional masih harus dikejar hingga minimal 22 persen. Di sini, koordinasi lintas sektor bukan jargon, melainkan komitmen kerja. Penanganan stunting disebut harus komprehensif karena sifatnya multifaktor, sehingga puskesmas merencanakan peningkatan koordinasi dengan pemerintah desa, kader posyandu, sektor pendidikan, hingga lembaga keagamaan. Pelibatan akar rumput melalui kader posyandu memperkuat deteksi dini di setiap dusun. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penurunan stunting akan mandek jika pendidikan, kesehatan, dan keagamaan berjalan masing-masing, bukan sebagai satu ekosistem.

Apa yang Bisa Ditiru Daerah Lain dari Pagesangan dan Kotaraja

Dua contoh ini menawarkan pelajaran praktis bagi daerah lain yang masih berjuang menurunkan stunting. Pagesangan menunjukkan pentingnya fokus pada wilayah rawan, penguatan posyandu, dan PMT sebagai tulang punggung strategi cegah stunting, bahkan ketika belum ada dukungan swasta. Kotaraja menggarisbawahi bahwa prevalensi stunting turun ketika koordinasi lintas sektor dipandang sebagai kebutuhan, bukan tambahan kegiatan: pemerintah desa, kader, pendidikan, dan lembaga agama punya peran berbeda namun saling melengkapi. Kuncinya adalah mengintegrasikan intervensi gizi dengan edukasi calon pengantin dan orang tua muda, sehingga pencegahan dimulai sebelum anak lahir. Jika pola ini diadopsi luas, daerah lain bisa memanfaatkan momentum nasional dan mengubah target pusat menjadi rencana aksi lokal yang jelas, terukur, dan realistis.

Momentum Positif Menuju Target Nasional: Jangan Hilang di Tengah Jalan

Penurunan stunting di Pagesangan dan Kotaraja menunjukkan bahwa garis tren sudah mengarah ke bawah, sejalan dengan target pemerintah pusat. Namun momentum seperti ini mudah hilang jika disiplin program kendur, terutama ketika dukungan anggaran dan koordinasi mulai melemah. Kedua wilayah membuktikan bahwa prevalensi stunting turun ketika intervensi tidak parsial: gizi, kesehatan, pendidikan, dan keagamaan dijahit menjadi satu paket kebijakan lokal. Ke depan, tantangannya adalah menjaga konsistensi: memastikan PMT dan program bergizi gratis tetap menyasar kelompok paling rentan, memperkuat data gizi balita di semua dusun, dan menghindari pendekatan seremonial tanpa pendampingan nyata. Kesimpulannya tegas: jika daerah lain mau belajar, menyalin prinsip-prinsip ini jauh lebih penting daripada menyalin proyek. Stunting hanya bisa ditekan jika penanganan menjadi budaya kerja, bukan sekadar program musiman.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!