Kado kebijakan untuk para guru
Kado Hari Guru adalah kebijakan atau bentuk penghargaan yang diberikan pemerintah kepada pendidik untuk mengakui pengabdian mereka sekaligus memperbaiki kepastian karier dan kesejahteraan. Menjelang Hari Guru Nasional 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti membocorkan dua rencana yang menyasar guru PPPK paruh waktu dan guru honorer. Keduanya dijadwalkan mulai bergulir pada 2027, sehingga pengumuman ini lebih dari sekadar seremoni: ia membawa harapan praktis bagi kelompok pendidik dengan status kerja berbeda. Namun, nilai kado tersebut pada akhirnya ditentukan oleh pelaksanaan yang jelas dan konsisten. Hari Guru Nasional memang menjadi momentum pemerintah menyampaikan penghargaan, tetapi guru membutuhkan kebijakan yang benar-benar sampai ke ruang kelas dan memberi kepastian atas pekerjaan mereka.
Rencana pertama menyebut guru PPPK paruh waktu akan diangkat menjadi PPPK penuh waktu tanpa tes mulai 1 Januari 2027. Mereka yang diangkat akan berstatus ASN pusat di bawah kewenangan Kemendikdasmen. Ini kabar yang berpotensi memberi kepastian lebih besar kepada kelompok tersebut, meski rincian pelaksanaan tetap penting untuk ditunggu.
Dua jalur berbeda untuk PPPK dan honorer
Rencana kedua ditujukan kepada guru honorer atau non-ASN: mereka dapat mengikuti tes CPNS pada 2027. Mu’ti menegaskan bahwa peserta yang tidak lulus tidak otomatis kehilangan pekerjaan atau diberhentikan; status mereka tetap sebagai guru honorer atau non-ASN. Kepastian ini penting karena kesempatan mengikuti seleksi seharusnya membuka jalan, bukan berubah menjadi ancaman bagi mereka yang belum berhasil. Meski demikian, jalur CPNS berbeda dari pengangkatan guru PPPK paruh waktu menjadi penuh waktu. Karena itu, dua kelompok ini tidak sebaiknya dicampur dalam satu janji umum: masing-masing memiliki proses dan kepastian tindak lanjut yang perlu diterangkan secara terbuka.
Dengan demikian, kado yang dibocorkan bukan satu kebijakan seragam bagi semua pendidik. Guru PPPK paruh waktu mendapat rencana perubahan status tanpa tes, sementara guru honorer memperoleh kesempatan mengikuti seleksi CPNS dengan jaminan tidak dipecat hanya karena gagal. Perbedaan ini patut disampaikan gamblang agar harapan tidak berubah menjadi salah paham.
Apresiasi perlu berlanjut menjadi tindakan
Mu’ti berulang kali menyampaikan apresiasi kepada guru honorer, PPPK paruh waktu, dan PPPK penuh waktu. Ia berterima kasih kepada para guru yang mengajar dan mendidik murid seolah-olah mereka anak sendiri. Dalam konteks Hari Guru Nasional 2026, ia juga mengajak pendidik meningkatkan dedikasi dan kompetensi serta memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. Pesan itu mengakui luasnya peran guru, tetapi penghormatan lisan akan lebih bermakna bila disertai kepastian kebijakan. Rencana perubahan status dan kesempatan mengikuti seleksi menjadi langkah yang lebih konkret, asalkan jadwal dan aturan pelaksanaannya jelas bagi mereka yang terdampak.
Kelompok yang disebut mencakup guru honorer atau non-ASN, PPPK paruh waktu, serta PPPK penuh waktu. Di luar rencana bagi kedua kelompok pertama, pemerintah juga menyatakan akan mengangkat guru PNS untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani menggambarkan Bulan Guru Nasional sebagai bentuk apresiasi kepada guru dan tenaga kependidikan yang mendedikasikan diri untuk mendidik generasi bangsa. Cakupan pengakuan itu mengingatkan bahwa perbaikan pendidikan tidak bergantung pada satu kategori guru saja.
Ukuran keberhasilan ada pada pelaksanaan
Rencana kado Hari Guru ini menjanjikan dua hal yang berbeda: peluang pengangkatan penuh waktu bagi guru PPPK paruh waktu dan kesempatan seleksi CPNS bagi guru honorer tanpa ancaman pemecatan jika gagal. Arah kebijakannya patut diapresiasi karena mengakui kebutuhan dan status kerja para guru tidak sama. Namun, pengumuman saja belum cukup untuk membangun kepastian. Pemerintah perlu memastikan guru memahami jalur yang berlaku bagi mereka, sementara tindak lanjut sesuai jadwal menjadi penentu apakah janji tersebut benar-benar terasa. Pada akhirnya, penghargaan terbaik pada Hari Guru Nasional bukan hanya ucapan terima kasih, melainkan kebijakan yang terlaksana dan menghormati kontribusi semua pendidik.






