Kemitraan yang menyasar kebuntuan belajar
Literasi dan numerasi adalah kemampuan memahami bacaan, menalar informasi, serta memakai angka untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari—bekal yang menentukan apakah anak sekadar hadir di sekolah atau sungguh belajar. Karena itu, kemitraan lintas lembaga bukan pelengkap, melainkan salah satu jalan keluar ketika upaya memperkuat pembelajaran daerah tersendat oleh keterbatasan sumber daya. Dikbudpora Bima menggandeng STKIP Taman Siswa (Tamsis) Bima dan Program INOVASI NTB untuk meningkatkan kompetensi guru. Pada 28 Oktober 2026, mereka menggelar pelatihan bagi 182 guru SD dari 16 kecamatan, melampaui target awal 160 peserta. Angka partisipasi itu menunjukkan minat, tetapi belum membuktikan peningkatan hasil belajar. Ujian sesungguhnya adalah apakah pelatihan mengubah cara guru mengajar dan memperkuat literasi numerasi siswa di kelas.

Membaca bukan hanya melafalkan, berhitung bukan sekadar menghafal
Ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup pada kelancaran membaca atau kemampuan mengulang rumus. Siswa perlu mencapai pemahaman membaca: menangkap gagasan, memilah informasi, lalu menjelaskan alasan di balik jawabannya. Dalam matematika dasar, mereka perlu menalar jumlah, ukuran, dan hubungan angka agar dapat mengambil keputusan dalam situasi nyata—misalnya membandingkan pilihan atau memperkirakan kebutuhan. PISA 2025, yang dirilis OECD pada 8 September 2026, mencatat skor Indonesia 364 untuk matematika, 365 untuk membaca, dan 389 untuk sains. Dibandingkan 2022, skor matematika turun dua poin, sementara membaca dan sains naik enam poin. Hasil itu mengingatkan bahwa perbaikan tidak bisa berhenti pada akses ke sekolah. Pelatihan guru harus membantu pembelajaran bergerak dari hafalan menuju pemahaman, penalaran, dan penerapan.
Dari pelatihan menuju perubahan di sekolah
Pelatihan Bima menindaklanjuti rapat kerja kabupaten pada 9 Oktober 2026 yang melibatkan Bappeda, Kementerian Agama, BPMP Provinsi NTB, STKIP Tamsis, dan INOVASI NTB. Kerja sama ini memiliki pijakan: kemitraan antarlembaga telah berlangsung sejak 2018 melalui program GEMAR Literasi. Materi numerasi diberikan selama empat hari dan literasi selama dua hari, dengan fasilitator dari pengawas, dosen, pegiat literasi-numerasi, serta fasilitator provinsi. Namun, mempertemukan banyak pihak hanya bernilai jika pengetahuan sampai ke kelas. Peserta didorong menerapkan materi dan membagikannya kepada rekan sejawat. Langkah itu sebaiknya disertai tindak lanjut teratur: mengamati pembelajaran, membahas pekerjaan siswa, dan menyesuaikan strategi ketika anak belum memahami bacaan atau konsep angka. Tanpa penguatan setelah pelatihan, kegiatan berisiko menjadi acara sesaat, bukan perubahan kebiasaan mengajar.
Akuntabilitas menentukan apakah kolaborasi berhasil
Kemitraan ini direncanakan berlangsung hingga 2031, dengan evaluasi pada 2027 dan Gelar Karya pada Desember mendatang. Rentang waktu panjang membuka peluang membangun kapasitas lokal, tetapi juga menuntut ukuran keberhasilan yang jelas. Evaluasi seharusnya memeriksa bukan hanya jumlah guru yang dilatih, melainkan juga perubahan praktik mengajar dan kemajuan siswa dalam membaca dengan pemahaman, bernalar, serta menyelesaikan masalah menggunakan matematika. Bappeda menyatakan akan memantau dampak pelatihan; komitmen itu perlu diterjemahkan menjadi umpan balik yang bisa ditindaklanjuti sekolah. Kampus dapat mendukung pengembangan materi dan pendampingan, sementara guru membawa strategi ke ruang kelas dan berbagi pengalaman dengan sejawat. Kesimpulannya tegas: kolaborasi memberi jalan keluar dari kebuntuan literasi-numerasi, tetapi hasilnya bergantung pada kesinambungan pendampingan dan bukti bahwa anak belajar lebih baik.






