Kasus Surabaya: Alarm Keras tentang Gagalnya Empati
Mengajarkan empati pada anak untuk mencegah perundungan terhadap teman berkebutuhan khusus adalah proses sadar di keluarga dan sekolah yang menolong anak memahami perasaan orang lain, menghargai perbedaan, serta menahan diri dari perilaku menyakiti sehingga lingkungan sosial menjadi aman bagi anak Down syndrome dan semua anak yang rentan. Kasus kematian Zulkarnain Abdil Aziz, anak laki-laki 10 tahun penyandang Down syndrome yang ditemukan kritis di depan rumahnya di Medokan Ayu, Surabaya pada 12 September 2026, adalah bukti pahit bahwa kita terlambat mengajarkan empati. Dugaan keterlibatan dua anak tetangga dalam kekerasan terhadap Zulkarnain menunjukkan bahwa perundungan bukan sekadar “kenakalan”, melainkan kegagalan sistemik pengasuhan dan pendidikan. Ketika keluarga pelaku datang membawa uang Rp100 ribu dan beras 1 kilogram sebagai permintaan maaf, respons ayah korban yang menolak pemberian itu menegaskan satu hal: kehilangan nyawa anak tidak bisa ditebus, yang bisa dan wajib diperbaiki adalah cara kita mendidik anak agar tidak menjadi pelaku kekerasan.

Memahami Down Syndrome Anak: Bukan Label, Tapi Kebutuhan Nyata
Sebelum bicara cara cegah perundungan sekolah, lingkungan perlu memahami bahwa Down syndrome anak bukan sekadar label medis, melainkan kondisi genetik dengan kebutuhan dukungan yang spesifik. Secara umum ada tiga jenis Down syndrome: trisomi 21, translokasi, dan mosaik. Pada jenis mosaik, tidak semua sel tubuh memiliki susunan kromosom yang sama; sebagian sel memiliki tiga salinan kromosom 21, sementara sel lain hanya dua salinan, dan jenis ini sekitar 2 persen dari seluruh kasus. Perbedaan susunan kromosom membuat karakteristik fisik dan kemampuan belajar setiap anak berkebutuhan khusus dengan Down syndrome bisa sangat beragam. Lingkungan sosial—orang tua, guru, dan teman sebaya—harus berhenti menggeneralisasi dan mulai bertanya: apa yang anak ini butuhkan agar merasa aman, diterima, dan bisa berpartisipasi? Tanpa pemahaman dasar ini, ajakan “jangan bully teman Down syndrome” mudah berubah menjadi slogan kosong yang tidak mengubah perilaku.
Ajarkan Empati Anak: Tugas Harian Orang Tua dan Guru
Empati tidak tumbuh dari poster anti-bullying di dinding kelas; ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari yang konsisten. Anak yang masih belajar mengenali emosi perlu dibimbing untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Orang tua bisa mulai dari hal sederhana: saat membaca cerita atau menonton film, ajak anak menebak perasaan tokoh yang dikucilkan dan diskusikan dampaknya. Guru di sekolah dapat mengintegrasikan kegiatan ini dalam pelajaran, terutama ketika membahas keberagaman dan anak berkebutuhan khusus. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, pencegahan bullying dapat dilakukan dengan membantu anak mengembangkan keterampilan interpersonal, termasuk empati dan kemampuan mengelola konflik. Artinya, kurikulum yang hanya mengejar nilai akademik tanpa ruang untuk latihan empati adalah kurikulum yang membiarkan perundungan tumbuh. Di kelas inklusif, guru wajib menegaskan batas: bercanda tidak boleh merendahkan, mengancam, atau membuat teman merasa tidak aman.

Strategi Konkret Cegah Perundungan di Sekolah Inklusif
Jika sekolah mengaku ingin cegah perundungan sekolah, komitmen itu harus tampak dalam aturan dan praktik, bukan hanya slogan. Pertama, sekolah perlu membangun budaya menghargai perbedaan: jelaskan kepada murid bahwa kondisi fisik, cara berkomunikasi, atau kemampuan belajar yang berbeda bukan alasan untuk mengejek atau mengucilkan. Kedua, guru harus menanggapi setiap laporan bullying dengan serius dan menunjukkan empati kepada korban, seperti disarankan UNICEF dalam panduan untuk pendidik. Ketiga, anak yang menjadi pelaku tidak cukup diminta minta maaf; ia perlu dibantu memahami dampak perbuatannya dan didampingi untuk mengubah perilaku. Keempat, sekolah harus melatih murid untuk tidak ikut-ikutan ketika melihat teman lain melakukan perundungan, serta mengajarkan bahwa meminta bantuan guru adalah tindakan berani, bukan lemah. Tanpa langkah konkret seperti ini, sekolah berisiko menjadi tempat di mana anak berkebutuhan khusus belajar bahwa dunia tidak aman bagi mereka.
Pendampingan Keluarga dan Komunitas: Tameng Terakhir Anak Berkebutuhan Khusus
Kasus Zulkarnain menyisakan duka mendalam sekaligus peringatan bahwa keluarga tidak bisa menyerahkan seluruh tanggung jawab perlindungan pada sekolah dan aparat. Pendampingan keluarga adalah tameng pertama dan terakhir bagi anak berkebutuhan khusus. Orang tua perlu menanggapi serius ketika anak menyakiti orang lain, membantu mereka memahami dampak perilaku dan bertanggung jawab dengan cara yang sesuai usia. Jika perilaku agresif berulang, bekerja sama dengan guru dan tenaga profesional bukan pilihan, melainkan keharusan. Di sisi lain, komunitas—tetangga, pengurus lingkungan, kelompok orang tua—perlu membangun budaya melapor dan mendukung, bukan menyalahkan korban. UNICEF menekankan pentingnya lingkungan yang hangat dan inklusif untuk mencegah perundungan; ini berarti kita semua wajib menciptakan ruang aman di luar sekolah. Kesimpulannya, mengajarkan empati sejak dini bukan proyek idealis, melainkan strategi bertahan hidup bagi anak Down syndrome dan semua anak yang rentan terhadap kekerasan.






