Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengajarkan Empati pada Anak untuk Mencegah Perundungan

Mengajarkan Empati pada Anak untuk Mencegah Perundungan
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Empati: Benteng Pertama untuk Mencegah Perundungan

Mengajarkan empati anak adalah proses sadar dan berulang untuk membantu anak memahami perasaan orang lain, menyadari dampak tindakannya, serta memilih perilaku yang menghormati martabat setiap orang, sehingga menjadi salah satu cara paling efektif untuk mencegah perundungan anak di rumah, lingkungan bermain, dan bullying di sekolah. Mengabaikan empati berarti membiarkan anak tumbuh dengan standar hubungan yang dingin: selama ia tidak terluka, maka semua baik-baik saja. Padahal, kasus tragis yang menimpa Zulkarnain Abdil Aziz, anak laki-laki 10 tahun penyandang Down syndrome yang ditemukan kritis di depan rumahnya di Medokan Ayu, Surabaya, pada 12 September 2026, lalu meninggal dunia, menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar ketika empati gagal diajarkan sejak dini.

Peristiwa ini bukan sekadar kasus hukum; ini cermin cara kita mendidik anak tentang kekuasaan, olok-olok, dan perbedaan. DPRD tingkat provinsi bahkan menegaskan perlunya penanganan optimal terhadap kematian anak berkebutuhan khusus berinisial Z (10) di kawasan Rungkut, Surabaya, termasuk pendampingan psikologis dan sosial bagi keluarga korban. Pesan moralnya jelas: tanpa empati, anak mudah melihat teman—terutama anak berkebutuhan khusus—sebagai objek permainan, bukan manusia yang setara. Jika kita ingin mencegah perundungan anak, empati harus diposisikan sebagai nilai utama, bukan pelengkap.

Mengajarkan Empati pada Anak untuk Mencegah Perundungan

Mengajarkan Anak Menghargai Perbedaan Tanpa Stigma

Anak lahir tanpa konsep stigma; kitalah yang sering menanamkannya lewat komentar, candaan, dan cara kita bereaksi terhadap perbedaan. Anak mungkin bertemu teman dengan kondisi fisik, cara berkomunikasi, kemampuan belajar, atau latar belakang yang berbeda; perbedaan ini tidak boleh dikenalkan sebagai sesuatu yang “aneh” atau “kasihan”, melainkan sebagai bagian wajar dari kehidupan sehari-hari. Ketika orang dewasa menjadikan disabilitas atau kekurangan orang lain sebagai bahan lelucon, pesan yang sampai pada anak sederhana: orang yang berbeda boleh dijadikan hiburan.

Sebaliknya, orang tua dan pendidik perlu menggunakan bahasa yang sesuai usia anak dan menghindari label yang merendahkan. Jelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus, termasuk yang menyandang Down syndrome, memiliki hak yang sama untuk merasa aman, bermain, dan dihormati. Contoh nyata jauh lebih kuat daripada ceramah: bertegur sapa dengan penyandang disabilitas, mengajak anak membantu tanpa mengasihani, dan menunjukkan bahwa tubuh, cara bicara, atau cara belajar yang berbeda bukan alasan untuk menjauh. Mengajarkan empati anak di sini berarti mengubah rasa “aneh” menjadi rasa ingin tahu yang hangat dan hormat.

Mengajarkan Empati pada Anak untuk Mencegah Perundungan

Peran Orang Tua dan Sekolah: Budaya Hormat, Bukan Sekadar Slogan

Pencegahan bullying di sekolah tidak akan berhasil jika hanya dibebankan pada anak atau sekadar lewat poster di dinding. Panduan yang menekankan pencegahan perundungan menegaskan bahwa mengajarkan empati juga menjadi bagian penting dari upaya mencegah perundungan. Artinya, orang tua dan sekolah harus berjalan seirama. Di rumah, orang tua perlu mengevaluasi kebiasaan sendiri: apakah kita sering mengomentari tubuh orang lain, menertawakan kesalahan, atau melabeli anak lain “nakal” di depan anak? Anak membutuhkan contoh, pengingat, dan pendampingan berulang agar memahami bahwa perilaku mereka bisa berdampak pada orang lain.

Di sisi lain, lembaga pendidikan tidak boleh netral ketika bullying di sekolah terjadi. Pemerintah daerah didorong memperkuat upaya pencegahan perundungan melalui lembaga pendidikan, dan dinas pendidikan di berbagai tingkat diminta terus melakukan edukasi agar kasus serupa tidak berulang. UNICEF Indonesia menekankan pentingnya lingkungan hangat dan inklusif untuk mencegah perundungan, serta agar guru menanggapi laporan bullying dengan serius dan menunjukkan empati kepada korban. Pernyataan yang layak dikutip di sini adalah: “UNICEF Indonesia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang hangat dan inklusif untuk mencegah perundungan.” Tanpa keberpihakan yang jelas pada korban dan nilai hormat, sekolah hanya menjadi tempat belajar akademik, bukan karakter.

Langkah Praktis Mengajarkan Empati dan Merespons Perundungan

Mengajarkan empati anak tidak bisa berhenti pada nasihat abstrak seperti “jangan nakal” atau “jangan sakiti teman”. Orang tua bisa mulai dari hal konkret: ketika membaca cerita atau menonton film, ajak anak menebak perasaan tokoh dan apa yang mungkin mereka butuhkan. Jelaskan batas bercanda: sesuatu yang lucu bagi satu orang bisa menyakitkan bagi orang lain, dan bercanda tidak boleh merendahkan, menyakiti, mengancam, atau membuat orang lain merasa tidak aman. Anak juga perlu diajarkan untuk tidak ikut-ikutan ketika teman mengejek; mereka boleh memilih diam, mengajak korban menjauh, atau mencari bantuan orang dewasa.

Ketika orang tua mendapati anak mengejek, mengancam, atau menyakiti temannya, jangan menganggapnya sekadar bercanda; cari tahu apa yang terjadi, dengarkan penjelasan anak, lalu tegaskan bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima. Jika perilaku agresif terus berulang, orang tua dapat bekerja sama dengan guru atau tenaga profesional untuk mencari tahu penyebabnya dan menentukan pendampingan yang dibutuhkan. Di sisi lain, ketika terjadi kasus perundungan berat seperti yang menimpa Z, pendampingan psikologis dan sosial bagi keluarga korban sangat penting agar orang tua mampu menghadapi dampak peristiwa tersebut. Mencegah perundungan anak berarti berani bersikap tegas pada perilaku menyakiti, sekaligus lembut pada semua pihak yang terluka.

Penutup: Empati Bukan Pilihan, Melainkan Tanggung Jawab Bersama

Kasus Zulkarnain Abdil Aziz, anak Down syndrome 10 tahun yang meninggal setelah dugaan perundungan di lingkungan rumahnya, menjadi alarm keras bahwa kegagalan mengajarkan empati bisa berujung kehilangan nyawa. Orang tua dari dua anak yang diduga terlibat bahkan datang meminta maaf, namun ayah korban menolak pemberian berupa uang dan beras karena merasa nilainya tidak sebanding dengan kehilangan yang dialami keluarganya, dan berharap anak-anak tersebut mendapat pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa penyesalan selalu datang terlambat ketika pencegahan diabaikan.

Pencegahan perundungan anak bukan tugas satu pihak. Orang tua, sekolah, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan semua punya peran untuk membangun budaya saling menghormati dan inklusif. Mengajarkan empati anak sejak dini bukan percakapan satu kali; ini komitmen harian yang menuntut konsistensi, koreksi, dan teladan. Jika kita ingin anak tumbuh berani, baik, dan adil—terutama pada anak berkebutuhan khusus—maka empati harus diajarkan, dipraktikkan, dan dilindungi bersama. Tanpa itu, setiap anak berisiko menjadi pelaku, penonton, atau korban dalam lingkaran perundungan yang sama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!