Moderasi beragama perlu penggerak, bukan sekadar pemahaman
Moderasi beragama adalah cara memahami dan menjalankan kehidupan beragama dengan saling menghormati, membuka ruang bagi perbedaan, serta mengupayakan penyelesaian damai. Karena nilai-nilai itu tidak menyebar dengan sendirinya, pelatihan yang menyiapkan orang untuk mengajarkannya dan menggerakkan praktiknya lebih berarti daripada pembekalan teori semata. UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menyelenggarakan pelatihan moderasi beragama bersama Pusat Penguatan Moderasi Beragama Kementerian Agama dan LPDP di Hotel Aston Purwokerto pada 26 Oktober hingga 1 November 2026. Kampus tersebut dipercaya menjadi Perguruan Tinggi Penyelenggara untuk program tingkat nasional. Sasaran utamanya ialah menyiapkan penggerak yang dapat membangun kehidupan beragama yang toleran, inklusif, dan berkeadaban. Pilihan ini tepat: dialog yang sehat memerlukan orang yang mampu membuka percakapan, bukan hanya mengulang istilah moderasi.

ToT mengubah materi menjadi kemampuan mengajar
Nilai utama program ini terletak pada format Training of Trainers (ToT) moderasi beragama. Pelatihan berlangsung tujuh hari dengan bobot 72 jam pelajaran. Peserta tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga berlatih menyampaikan materi, memfasilitasi diskusi, dan menggerakkan praktik moderasi secara berkelanjutan. Dengan demikian, ukuran keberhasilan semestinya bukan sekadar seberapa banyak peserta menguasai istilah, melainkan apakah mereka sanggup membawa pembelajaran ke kampus dan komunitas. Materi mencakup kebijakan dan konsep moderasi, wawasan kebangsaan, strategi penguatan, keterampilan fasilitasi, serta penyusunan rencana tindak lanjut. Latihan microtraining memberi peserta kesempatan mencoba menyampaikan materi dan mengelola proses belajar. Bekal ini penting karena fasilitasi diskusi inklusif menuntut lebih dari niat baik: fasilitator perlu mendengar, mengurai asumsi, menjaga ruang bicara, dan membantu kelompok menghadapi perbedaan tanpa memperuncingnya.
Kader perlu membaca persoalan dan menggerakkan tindak lanjut
Pelatihan juga mengajak peserta membaca persoalan sosial sebelum merancang tindakan. Scenario thinking, analisis sosial dengan pendekatan gunung es dan Proses U, serta pengembangan ekosistem moderat di perguruan tinggi menjadi bagian pembelajaran. Arah ini patut diapresiasi: ajakan toleransi akan sulit bertahan jika tidak menyentuh penyebab ketegangan dan kebutuhan nyata di lingkungan setempat. Peserta turut berlatih membangun komitmen belajar, mengembangkan gerakan melalui kepeloporan, menyelesaikan konflik, dan menggunakan metode fasilitasi. Rangkaian kegiatan ditutup dengan refleksi, evaluasi, dan penyusunan rencana tindak lanjut agar hasil pelatihan diterapkan melalui program kampus atau inisiatif masyarakat. Bagi warga, dampaknya dapat terasa ketika perbedaan dibicarakan tanpa permusuhan dan konflik ditangani secara damai. Karena itu, rencana setelah kelas sama pentingnya dengan materi selama pelatihan.
Keberhasilan diukur dari dialog yang tumbuh
Program ini ingin mencetak kader moderasi beragama yang mampu menyebarluaskan toleransi dan inklusivitas di perguruan tinggi maupun masyarakat luas. Ambisi tersebut hanya akan terwujud jika peserta terus mengadakan ruang belajar, memfasilitasi dialog antarumat, dan membantu menyelesaikan perbedaan secara damai. Gelar pelatihan atau jumlah jam belajar bukan tujuan akhir; perubahan cara orang berinteraksi adalah tolok ukur yang lebih bermakna. UIN Saizu memberi peserta kombinasi yang dibutuhkan: pemahaman konseptual, keterampilan praktis, dan dorongan untuk menyusun aksi lanjutan. Kini tantangannya ialah menjaga agar bekal itu tidak berhenti sebagai catatan kelas. Jika para lulusan mampu menjadi fasilitator yang mendengar dengan adil serta menumbuhkan sikap saling menghormati, ToT ini dapat memperluas dampak moderasi beragama melampaui ruang pelatihan.






