Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

UIN Saizu Deklarasikan Kampus Literasi dengan Empat Strategi

UIN Saizu Deklarasikan Kampus Literasi dengan Empat Strategi
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Deklarasi yang menuntut tindak lanjut

Kampus Literasi adalah lingkungan perguruan tinggi yang menjadikan membaca, menulis, berpikir kritis, dan berkarya sebagai kebiasaan bersama, sekaligus menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan, mendeklarasikan kampusnya sebagai Kampus Literasi melalui Gerakan Literasi Gen-Z yang digelar Komunitas Sabudaya (Sastra, Bahasa, dan Budaya Indonesia). Deklarasi ini layak dipandang sebagai janji kerja, bukan tujuan akhir: budaya baca kampus tidak akan tumbuh hanya dengan penandatanganan, melainkan melalui kebiasaan dan dukungan yang terasa dalam kegiatan sehari-hari. Pilihan waktu yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda memberi gerakan ini makna simbolis, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada tindak lanjut yang konsisten.

Forum literasi berlangsung di Gedung D, lantai 2, Kampus 2 UIN Saizu sebagai ruang diskusi dan penguatan tradisi literasi. Ada alasan kuat untuk memulai langkah ini: peningkatan kemampuan literasi mahasiswa disebut sebagai tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Tanggapan kampus juga seharusnya melampaui dorongan membaca bacaan ilmiah semata. Fiksi dan nonfiksi sama-sama dapat memperluas wawasan, selama dibaca dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu, deklarasi memiliki peluang menjadi perubahan budaya, bukan sekadar acara seremonial.

Empat strategi, dari fasilitas hingga pengabdian

Prof. Ridwan menguraikan empat tahapan untuk mewujudkan Kampus Literasi. Urutannya penting: fasilitas membuka akses, kebijakan dan anggaran memberi dukungan, kebiasaan membaca membuat akses digunakan, lalu pengabdian membawa pengetahuan keluar dari kampus. Jika satu unsur tertinggal, gerakan berisiko berhenti sebagai slogan atau kegiatan yang hanya ramai sesaat.

  1. Membangun infrastruktur pendukung, seperti pojok baca dan perpustakaan digital.
  2. Menyusun regulasi serta menyediakan dukungan anggaran.
  3. Membentuk budaya membaca di kalangan mahasiswa.
  4. Memperluas gerakan melalui pengabdian kepada masyarakat, termasuk rencana membentuk Desa Literasi.

Tahapan tersebut dapat membangun ekosistem berkelanjutan, dari penyediaan fasilitas hingga penerapan pengetahuan dalam kehidupan masyarakat. Bagi mahasiswa, artinya literasi semestinya mudah dijangkau dan tidak dibatasi pada tugas perkuliahan. Namun, pengadaan pojok baca atau perpustakaan digital saja belum cukup: kampus perlu memastikan fasilitas digunakan, aturan dijalankan, dan kegiatan membaca berulang menjadi bagian dari keseharian.

Komunitas menghidupkan ruang diskusi

Peran Komunitas Sabudaya membuat Gerakan Literasi Gen-Z memiliki titik temu nyata bagi generasi muda. Forum itu menghadirkan diskusi interaktif antara peserta, rektor, dan pembina komunitas; mahasiswa mendapat kesempatan bertukar gagasan tentang literasi dan peran generasi muda dalam membangun budaya akademik yang produktif. Para pimpinan UIN Saizu juga menandatangani deklarasi gerakan tersebut. Kombinasi percakapan dan komitmen resmi lebih menjanjikan daripada kampanye satu arah, sebab mahasiswa bukan hanya sasaran ajakan, tetapi dapat ikut merumuskan bentuk kegiatan.

Dekan Fakultas Dakwah, Prof. Muskinul Fuad, mengapresiasi idealisme Sabudaya dan berharap gerakannya menjangkau lebih banyak mahasiswa, termasuk melalui ruang perkuliahan. Harapan itu patut ditindaklanjuti: komunitas dapat menjaga energi dan kreativitas, sementara dukungan fakultas membantu kegiatan masuk ke kehidupan akademik yang lebih luas. Diskusi, kepenulisan, dan pengembangan kreativitas juga memberi mahasiswa jalan untuk menjadi pencipta gagasan, bukan hanya pembaca. Di sinilah forum literasi bernilai—ia mengubah minat individual menjadi percakapan dan partisipasi bersama.

Ukuran keberhasilan adalah karya dan manfaat

Deklarasi ini akan berarti jika kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis berujung pada karya yang bermanfaat. Prof. Ridwan menekankan bahwa literasi di perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada membaca; kampus juga perlu menghubungkan kegiatan akademik dengan realitas sosial melalui pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, rencana Desa Literasi menjadi ujian penting: pengetahuan kampus harus hadir dalam kehidupan warga, bukan hanya tersimpan dalam ruang kuliah atau perpustakaan.

UIN Saizu telah menyatakan arah dan merumuskan empat tahapan. Langkah berikutnya adalah menjaga kesinambungan: menyediakan ruang dan akses, memberi dukungan kebijakan, membangun kebiasaan membaca, serta membuka ruang bagi komunitas dan masyarakat untuk berpartisipasi. Jika rangkaian itu benar-benar berjalan, Gerakan Literasi Gen-Z dapat membentuk budaya baca kampus yang menghasilkan pemikiran dan karya, sekaligus memberi manfaat di luar universitas. Deklarasi adalah awal yang menjanjikan; konsistensi pelaksanaannya yang akan menentukan apakah UIN Saizu pantas disebut Kampus Literasi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!