Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

UIN Saizu dan Puspenma Perkuat Pelatih Moderasi Beragama

UIN Saizu dan Puspenma Perkuat Pelatih Moderasi Beragama
Minat|Pelatihan Komprehensif

Melatih penyampai, bukan sekadar peserta

Pelatihan moderasi beragama adalah upaya membekali peserta agar mampu memahami agama secara seimbang, menghargai perbedaan, dan menyampaikan nilai-nilai itu kepada orang lain tanpa mengabaikan komitmen kebangsaan. Kerangka inilah yang membuat kerja sama UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto dan Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kementerian Agama lebih berarti daripada seremoni kelembagaan. Keduanya menandatangani kerja sama sekaligus membuka Training of Trainers (ToT) moderasi beragama di Aula Arimbi, Hotel Aston Purwokerto, pada Senin malam, 26 Oktober 2026. Kegiatan yang diikuti 60 peserta ini menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai sasaran utama. Pilihan format ToT tepat: gagasan moderasi akan berdampak luas hanya jika peserta dapat menjadi pelatih, bukan berhenti sebagai penerima materi.

Kapasitas trainer menentukan jangkauan

Keberhasilan ToT moderasi beragama semestinya dinilai dari kemampuan peserta meneruskan materi di tempat kerja dan masyarakat, bukan dari jumlah sesi atau tanda kelulusan. Kepala Puspenma, Dr. Ruchman Basori, mengingatkan bahwa peserta perlu mampu melatih dan menularkan nilai moderasi, bukan hanya menguasai konsepnya. Ia juga menekankan bahwa aparatur Kementerian Agama perlu mencintai agama sekaligus negara; keduanya harus berjalan beriringan. Tekanan ini relevan karena klaim kebenaran yang menutup ruang bagi pihak lain dapat memicu perpecahan, sementara intoleransi dan paham radikal menyebar melalui media sosial, publikasi digital, serta forum diskusi. Karena itu, trainer moderasi beragama harus lebih dari penyampai pesan satu arah: mereka perlu mampu menjelaskan perbedaan secara jernih dan merespons informasi yang keliru dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pesan perlu sampai kepada generasi muda

Kapasitas pelatih juga bergantung pada cara mereka berkomunikasi. Di tengah derasnya informasi digital, pesan yang benar tetapi kaku berisiko kalah dari narasi yang mudah dibagikan. Ruchman mendorong pendekatan kreatif, relevan, dan mudah dipahami agar moderasi beragama menjangkau Generasi Z yang akrab dengan teknologi. Ini bukan tuntutan agar isi pesan berubah mengikuti tren, melainkan agar penyampaiannya sesuai dengan audiens. Dampak yang diharapkan terasa dalam kehidupan sehari-hari: lingkungan kerja dan masyarakat memperoleh ruang untuk memahami perbedaan tanpa menjadikannya alasan untuk saling menjauh. Kerja sama ini akan lebih kuat bila peserta ToT membawa pulang metode yang bisa dipakai dan disesuaikan dengan konteks lokal. Dengan begitu, pelatihan tidak berhenti di ruang hotel, tetapi berlanjut sebagai percakapan yang lebih sehat di komunitas.

Pendanaan pendidikan melengkapi penguatan SDM

Kemitraan UIN Saizu dan Puspenma juga mempertautkan moderasi dengan akses pengembangan pendidikan. Dalam sesi penguatan SDM dan pendanaan pendidikan, Ruchman memaparkan peluang beasiswa Kementerian Agama, termasuk Beasiswa Indonesia Bangkit dan program pendidikan non-gelar 2026. Program non-degree itu menargetkan 3.674 penerima melalui sembilan kegiatan, termasuk Pelatihan Profesi Guru dalam Jabatan. Bagi ASN Kemenag, informasi beasiswa ASN Kemenag dan jalur peningkatan kompetensi dapat menjadi bagian penting dari penguatan kapasitas, meski manfaatnya bergantung pada akses dan tindak lanjut yang jelas. Kerja sama ini patut dinilai dari dua hasil yang saling mendukung: pelatih yang mampu merawat kerukunan dan kesempatan belajar yang membantu SDM berkembang. Tanpa penguatan kompetensi, pesan moderasi sulit bertahan; tanpa penyebaran pesan, investasi pendidikan tidak otomatis memperluas pemahaman di masyarakat.

Ukuran keberhasilan ada pada tindak lanjut

Kolaborasi ini membuka peluang untuk memperluas jangkauan moderasi beragama melalui pelatih yang berintegritas dan siap bekerja di tengah keberagaman. UIN Saizu dan Puspenma menyatakan komitmen mencetak pelatih yang mampu merawat kerukunan. Namun, komitmen baru akan terasa jika peserta menerapkan materi, menjangkau audiens yang beragam, dan menyampaikan pesan dengan cara yang bertanggung jawab. Dukungan program beasiswa dan pendidikan non-gelar juga perlu dipahami sebagai bagian dari pengembangan SDM, bukan sebagai tambahan yang terpisah dari misi pelatihan. Langkah berikutnya adalah memastikan kemampuan yang dibangun dalam ToT terus digunakan di lingkungan kerja dan masyarakat. Pada akhirnya, nilai kerja sama ini tidak ditentukan oleh penandatanganan dokumen, melainkan oleh hadirnya trainer moderasi beragama yang mampu membuat perbedaan lebih mudah dipahami dan kerukunan lebih nyata.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!