Perbaikan Drainase dan Tanggul: Bukan Lagi Proyek Pinggiran
Perbaikan infrastruktur drainase dan perbaikan tanggul sungai adalah serangkaian pekerjaan fisik pada saluran air, got, dan bantaran sungai yang bertujuan memperbesar kapasitas aliran, mencegah genangan, serta memulihkan akses warga terhadap jalan dan ruang publik ketika hujan deras dan potensi longsor meningkat. Di Jakarta dan Karawang, proyek seperti normalisasi saluran air permukiman dan penanganan darurat tanggul sungai menunjukkan bahwa urusan got, selokan, dan tanggul bukan lagi pekerjaan pinggiran, tetapi penentu kualitas hidup sehari-hari. Pertanyaannya bukan apakah pekerjaan ini perlu, melainkan apakah dilakukan cukup cepat dan dengan perspektif jangka panjang. Ketika genangan menghalangi trotoar hingga menutup jalan, dampaknya langsung terasa pada mobilitas, ekonomi mikro, dan rasa aman warga.
Genangan Matraman: Bukti Drainase Buruk Menghantam Aktivitas Warga
Kasus air got yang meluap di sekitar Halte Matraman Baru di Bidara Cina, Jatinegara, adalah contoh telanjang bagaimana pencegahan genangan Jakarta masih bolong di titik-titik tertentu. Warga mengeluhkan air got yang menggenangi badan jalan dan trotoar, lengkap dengan sampah di aliran air, hingga mengganggu aktivitas belanja dan mobilitas di kawasan yang seharusnya menjadi koridor pejalan kaki. Ketika seseorang menulis, “Tolong pak, saya belanja jadi enggak nyaman,” itu bukan keluhan remeh, melainkan sinyal bahwa infrastruktur drainase gagal memenuhi fungsi paling dasar: menjaga ruang publik tetap kering dan layak dilalui. Lebih problematis lagi, warga menyebut persoalan serupa pernah ditangani, tetapi kembali muncul. Artinya, pendekatan tambal sulam tanpa pembenahan menyeluruh dan perawatan rutin tidak akan memutus siklus genangan berulang.

Normalisasi Saluran Ayahanda: Musrenbang yang Berbuah Konkret
Berbeda dengan kasus Matraman, normalisasi saluran air sepanjang 232 meter di Jalan Ayahanda, Kramat, menunjukkan sisi positif ketika aspirasi warga diterjemahkan menjadi proyek nyata. Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Pusat mengerahkan 12 personel Pasukan Biru untuk membenahi saluran dengan ketinggian sekitar 60 sentimeter dan mengganti konstruksi lama dengan beton U-Ditch berukuran 40 x 40 x 120 sentimeter. Pekerjaan yang dimulai 10 September 2026 ini merupakan tindak lanjut usulan warga melalui Musrenbang, karena kapasitas drainase sebelumnya tidak cukup menampung aliran air saat hujan lebat. Di sini terlihat praktik normalisasi saluran air yang ideal: berangkat dari pengalaman genangan berulang, lalu dijawab dengan desain yang meningkatkan kapasitas dan kualitas infrastruktur drainase permukiman. Seorang warga berharap saluran yang diperbesar dapat menampung lebih banyak debit air sehingga genangan saat musim hujan berkurang drastis. Harapan itu wajar, dan menjadi tolok ukur keberhasilan proyek.
Tanggul Citarum Purwadana: Urgensi Memulihkan Akses dan Mengurangi Risiko Banjir
Di Karawang, perbaikan tanggul Sungai Citarum di Purwadana memperlihatkan dimensi lain dari perbaikan tanggul sungai: bukan hanya soal banjir, tetapi juga putusnya akses jalan. Longsor tanggul menyebabkan jalan sekitar lokasi terputus, sehingga penanganan darurat dikebut dengan target selesai akhir Oktober 2026 dan akses diharapkan pulih awal November. Wakil Ketua Komisi V DPR RI bersama BBWS Citarum meninjau langsung lokasi, menandakan bahwa aspirasi masyarakat tentang tanggul yang longsor dijawab dengan tindakan cepat dan komitmen lanjutan pada titik-titik lain yang juga bermasalah. Pernyataan bahwa bantaran Sungai Citarum perlu perbaikan berkelanjutan agar risiko banjir berkurang adalah pengakuan bahwa satu proyek tanggul tidak cukup jika keseluruhan sistem sungai masih rapuh. Tanpa penanganan menyeluruh, setiap musim hujan berpotensi menghadirkan kombinasi genangan, banjir, dan keterputusaan akses yang merugikan warga.
Dari Got ke Sungai: Jakarta Butuh Strategi Drainase Terpadu
Rangkaian kejadian ini mengirim pesan jelas: pencegahan genangan Jakarta dan pengurangan risiko banjir di sekitarnya bergantung pada strategi drainase terpadu, dari got kecil hingga tanggul sungai besar. Di satu sisi, normalisasi saluran air di permukiman seperti di Jalan Ayahanda menunjukkan bagaimana infrastruktur drainase yang direncanakan bersama warga bisa meningkatkan kapasitas aliran dan mengurangi genangan. Di sisi lain, kasus got meluap di Matraman dan tanggul Citarum yang longsor menunjukkan konsekuensi ketika perawatan, pengawasan, dan desain jangka panjang diabaikan. Kesimpulannya, perbaikan fisik harus diikuti budaya pemeliharaan, penegakan kebersihan saluran, dan mekanisme respons cepat atas keluhan warga. Jika Jakarta dan wilayah sekitarnya ingin keluar dari siklus genangan musiman, proyek drainase tidak boleh lagi dipandang sebagai pekerjaan darurat, tetapi sebagai investasi rutin yang menentukan kelancaran hidup sehari-hari.






