Pembinaan ruhani sebagai bagian dari kualitas kerja
Tarbiyah ruhiyah adalah pembinaan spiritual Islami yang membantu pegawai meneguhkan nilai keagamaan, mengevaluasi niat bekerja, dan menerapkan etika dalam menjalankan tanggung jawab profesional. Bagi BRK Syariah, kegiatan ini bukan pelengkap seremonial, melainkan upaya menjaga agar kompetensi kerja berjalan seiring dengan karakter dan amanah. Pada Jumat pagi, 30 Oktober 2026, bank tersebut menggelar tarbiyah ruhiyah di Masjid Baiturrahim Bank Riau Kepri Syariah dan secara serentak di kantor cabang, cabang pembantu, serta kedai BRK Syariah. Jangkauan yang luas ini penting: pembinaan sumber daya insani akan lebih bermakna bila tidak berhenti di kantor pusat, tetapi menjadi pengalaman bersama di seluruh jaringan kerja. Tujuannya ialah memantapkan karakter Islami seluruh insan BRK Syariah dan menjaga keseimbangan spiritualitas dengan profesionalisme pegawai.
Susunan kegiatan menghubungkan ibadah, penguatan semangat, dan kebersamaan. Peserta melaksanakan salat sunah Duha dan salat sunah Hajat berjemaah, lalu mengikuti ceramah Ustaz Syahrimar bertema “Semangat Sumpah Pemuda Momentum Peningkatan Kinerja”, sebelum menutup acara dengan sarapan bersama. Bentuk ini memberi ruang bagi pegawai untuk berhenti sejenak dari ritme operasional, memperbarui niat, sekaligus mempererat ukhuwah. Nilai programnya bukan pada panjangnya acara, melainkan pada apakah refleksi tersebut terbawa ke cara bekerja: lebih disiplin, saling menghormati, dan berorientasi pada pelayanan.
Spiritualitas perlu tampak dalam pelayanan
Keseimbangan spiritual dan profesional bukan dua sasaran yang saling meniadakan. Dalam perbankan syariah, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan sikap amanah harus hadir dalam keputusan serta interaksi sehari-hari dengan nasabah. Karena itu, pembinaan spiritual akan bernilai jika mendorong perilaku kerja yang dapat dirasakan masyarakat, bukan hanya menambah agenda keagamaan pegawai. BRK Syariah menyebut program ini sebagai komitmen berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan kinerja profesional dan pembinaan nilai-nilai spiritual di lingkungan kerja. Harapannya, nilai keislaman, ukhuwah, kebersamaan, dan energi positif mendukung kinerja serta pelayanan terbaik kepada nasabah dan masyarakat. Ukuran akhirnya bukan suasana khusyuk saat acara, tetapi konsistensi pelayanan yang ramah, amanah, dan profesional.
Tujuan tersebut juga membuat pembinaan relevan bagi pegawai di tengah tuntutan pekerjaan yang menuntut ketelitian dan tanggung jawab. Refleksi spiritual dapat mengingatkan bahwa keputusan profesional membawa dampak bagi orang lain, sedangkan disiplin dan kompetensi membuat nilai moral dapat diterapkan dengan baik. Namun, kegiatan rutin perlu disertai tindak lanjut yang jelas agar pesannya tidak memudar setelah acara selesai. Bagi nasabah, manfaat yang diharapkan bersifat praktis: interaksi yang lebih baik, pelayanan yang mengutamakan amanah, dan pegawai yang bekerja dengan rasa tanggung jawab. Dengan demikian, tarbiyah ruhiyah paling kuat ketika menjadi bagian dari budaya kerja, bukan sekadar kegiatan terpisah dari tugas harian.
Agenda berkelanjutan perlu menyentuh tata kelola
BRK Syariah berencana menjadikan tarbiyah ruhiyah sebagai agenda berkelanjutan dengan materi yang terus dikembangkan. Ke depan, pembinaan direncanakan melampaui aspek ibadah ritual dengan mengintegrasikan nilai syariah ke dalam praktik manajemen risiko, tata kelola perusahaan yang baik, dan inovasi produk. Arah ini menjanjikan karena menghubungkan pembentukan karakter dengan proses dan keputusan organisasi. Integritas akan lebih teruji ketika menjadi bagian dari cara risiko dinilai, tata kelola dijalankan, dan produk dikembangkan, bukan hanya tema ceramah. Pengembangan materi juga memberi peluang untuk menyesuaikan pembinaan dengan tantangan kerja yang dihadapi pegawai, sembari mempertahankan tujuan dasarnya: membangun insan bank yang berkarakter Islami dan mampu menjalankan tanggung jawab profesional.
Keberhasilan program pada akhirnya perlu terlihat dalam konsistensi perilaku di seluruh unit. Pelaksanaan serentak menyediakan dasar kebersamaan, tetapi kesinambungan menuntut nilai yang sama diterapkan dalam pelayanan, kolaborasi, dan pengambilan keputusan. Pembinaan spiritual bukan pengganti keterampilan atau tata kelola yang kuat; ia dapat menjadi penopang moral agar keduanya dijalankan dengan lebih bertanggung jawab. Jika materi yang dijanjikan benar-benar terhubung dengan praktik kerja, BRK Syariah dapat memperkuat hubungan antara karakter pegawai dan mutu layanan. Kesimpulannya, tarbiyah ruhiyah layak dipandang sebagai investasi sumber daya insani ketika ukurannya bukan sekadar kehadiran, melainkan perubahan nyata pada profesionalisme dan kepercayaan nasabah.






