Pelatihan harus menjawab kebutuhan kerja, bukan sekadar memberi keterampilan
Pelatihan kerja Tabalong adalah program peningkatan kompetensi yang menggabungkan pembelajaran teknis, pembentukan sikap kerja, dan pengakuan kemampuan melalui sertifikasi agar pencari kerja lebih siap menghadapi kebutuhan perusahaan. Pendekatan ini patut diapresiasi karena keterampilan di ruang pelatihan hanya berguna jika dapat diterapkan dengan disiplin dan tanggung jawab di tempat kerja. Pada Senin, 2 November 2026, Wakil Bupati Tabalong Habib Muhammad Taufani Alkaf membuka program pelatihan dan sertifikasi yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Tabalong di Aston Tanjung City Hotel. Dari 323 pendaftar, 83 orang ditetapkan sebagai peserta. Seleksi itu memperlihatkan besarnya minat terhadap bekal kerja yang terarah, sekaligus menegaskan bahwa pelatihan terbatas perlu disusun sesuai kebutuhan nyata dunia usaha.

Sertifikasi membantu menghubungkan kemampuan dengan kebutuhan industri
Empat jalur pelatihan yang disediakan mencakup sertifikasi BNSP Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Umum untuk 35 peserta, pengoperasian ekskavator untuk 16 peserta, pengoperasian dump truck untuk 16 peserta, serta metodologi instruktur KKNI Level 3 untuk 16 peserta. Komposisi ini memberi ruang bagi calon pekerja lapangan sekaligus tenaga yang berperan dalam pelatihan. Pelatihan alat berat relevan bagi sektor pertambangan dan bidang usaha lain yang membutuhkan operator dengan kemampuan khusus. Sementara itu, pelatihan K3 membekali peserta dengan pemahaman keselamatan yang penting di lingkungan kerja berisiko. Sertifikasi tenaga kerja juga dapat membantu menunjukkan kompetensi secara lebih terukur kepada calon pemberi kerja. Namun, sertifikat akan bernilai ketika kemampuan yang diuji benar-benar sesuai dengan tugas yang dibutuhkan perusahaan.
Sikap kerja sama pentingnya dengan kecakapan teknis
Disnaker Tabalong menegaskan bahwa peserta perlu mengembangkan empat unsur: keterampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku. Pembinaan juga mencakup kedisiplinan, tanggung jawab, serta etika kerja. Penekanan ini tepat: kemampuan mengoperasikan alat atau memahami prosedur keselamatan tidak otomatis membuat seseorang siap bekerja bila ia tidak mampu mengikuti aturan, berkomunikasi, dan bertanggung jawab atas tugasnya. Kepala Disnaker Tabalong Hady Ismanto menyebut empat bekal itu perlu ditanamkan dalam program pelatihan. Bagi peserta, pesan tersebut berarti proses belajar tidak berhenti pada penguasaan materi atau kelulusan sertifikasi. Mental kerja dibentuk melalui kebiasaan selama pelatihan, mulai dari hadir tepat waktu hingga menjalankan instruksi dengan cermat. Perusahaan membutuhkan tenaga yang kompeten sekaligus dapat diandalkan dalam tim.
Target 15.000 tenaga terampil membutuhkan kerja bersama
Tabalong memiliki potensi di bidang pertambangan, energi, perkebunan, konstruksi, perdagangan, dan jasa, tetapi masih ada kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kualifikasi yang diminta perusahaan. Di sinilah pelatihan yang terarah berperan: bukan menjanjikan pekerjaan, melainkan memperkuat kesiapan peserta dan memperluas peluang mereka untuk memasuki dunia kerja. Program 83 peserta ini menjadi bagian dari target daerah mencetak 15.000 tenaga terampil. Hady Ismanto menegaskan bahwa target tersebut memerlukan keterlibatan perangkat daerah, kecamatan, perusahaan, lembaga pelatihan, dan masyarakat. Skala tantangan itu menuntut kesinambungan: pelatihan perlu mengikuti kebutuhan industri, sertifikasi harus memiliki bobot, dan pembinaan sikap mesti menyatu dengan praktik. Kesimpulannya, gabungan kemampuan teknis, mental kerja, dan pengakuan kompetensi adalah arah yang lebih menjanjikan daripada pelatihan yang berhenti pada teori.






