Liwetan sebagai ruang perjumpaan
Lomba liwetan adalah kegiatan memasak bersama yang mengubah racikan nasi dan lauk menjadi kesempatan untuk bertemu, berkreasi, serta mempererat hubungan warga. Di Bojonegoro, gagasan itu terasa kuat dalam rangkaian Hari Santri Bojonegoro: RMI PCNU Bojonegoro menggelar lomba dengan 30 peserta dari perwakilan MWCNU berbagai wilayah dan lembaga di bawah naungan PCNU. Jumlah pendaftar bahkan mencapai 36, melampaui kuota yang disediakan panitia. Antusiasme ini menunjukkan bahwa kegiatan berbasis kebersamaan mampu menarik minat, meski kapasitas lomba membatasi jumlah yang dapat ikut. Di halaman kantor PCNU, setiap kelompok membawa peralatan sendiri, sementara panitia menyediakan bahan masakan seperti beras, minyak, terong, telur, dan tempe. Format ini membuat perhatian peserta tertuju pada kerja tim dan cara mereka mengolah bahan yang tersedia.
Kreasi masakan, bukan sekadar perlombaan
Lomba liwetan Bojonegoro memberi ruang bagi peserta untuk menunjukkan keterampilan memasak sekaligus menyusun sajian dengan sentuhan masing-masing. Di Kecamatan Ngraho, lomba memasak nasi liwet sambal terong digelar pada Jumat malam, 23 Oktober 2026, sebagai bagian dari peringatan Hari Santri Nasional. Perwakilan kepala desa, ranting NU, dan pondok pesantren ikut ambil bagian; empat kepala desa mewakili Liwihaji, Sugihwaras, Sumberagung, dan Jumo. Ragam kelompok ini membuat kegiatan lebih menarik daripada adu rasa semata: dapur bersama mempertemukan unsur pemerintahan desa, organisasi keagamaan, dan pesantren. Pilihan nasi liwet sambal terong pun memberi ciri lokal yang akrab, sementara tantangan memasak mendorong peserta mengolah bahan yang sama dengan kreativitas dan koordinasi kelompok.
Suasana yang menghidupkan Hari Santri
Nilai utama acara ini tampak pada suasana akrab yang tercipta di antara peserta dan warga Nahdliyin. Lomba bukan hanya panggung untuk menilai masakan, melainkan alasan untuk berkumpul dan bekerja bersama dalam perayaan Hari Santri. Kemunculan kesenian oklik yang dimainkan santri Pondok Pesantren Al Aly dari Desa Mayangrejo, Kecamatan Kalitidu, menambah warna tradisional pada kegiatan. Di Ngraho, Camat Wiyanto menekankan bahwa Hari Santri menjadi kesempatan memperkuat sinergi antara Forkopimcam, pemimpin pemerintahan, dan ulama. Perpaduan memasak, pertemuan lintas kelompok, dan kesenian membuat perayaan terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Inilah bentuk peringatan yang patut dijaga: tidak berhenti pada seremoni, tetapi membangun hubungan melalui kegiatan yang dapat dinikmati dan dikerjakan bersama.
Merayakan dengan kerja bersama
Lomba memasak di Bojonegoro memperlihatkan bahwa semangat Hari Santri dapat dirayakan lewat kegiatan sederhana yang memberi ruang bagi banyak pihak. Tiga puluh peserta lomba RMI PCNU, keterlibatan perwakilan desa dan pesantren di Ngraho, serta iringan oklik menghadirkan perayaan yang menggabungkan kreativitas dengan kebersamaan. Catatan bahwa 36 orang mendaftar untuk kuota 30 juga menunjukkan besarnya minat, sekaligus mengingatkan panitia agar mempertimbangkan kapasitas pada pelaksanaan berikutnya. Namun, daya tarik utama acara bukan semata jumlah peserta atau hasil masakan. Yang lebih berharga ialah kesempatan untuk bertemu, bekerja dalam kelompok, dan merawat hubungan antara warga, ulama, serta pemerintah. Dengan semangat itu, lomba liwetan layak menjadi bagian penting dari peringatan Hari Santri.






