Jangkauan besar, peluang yang lebih setara
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan yang menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui pembelajaran, pendampingan, dan dukungan sosial agar mereka memperoleh peluang masa depan yang lebih baik. Dalam satu tahun pertama, Kementerian Sosial mencatat 44 ribu siswa telah belajar di 182 titik Sekolah Rakyat—capaian yang menunjukkan program ini menjawab kebutuhan nyata, bukan sekadar menawarkan gagasan kebijakan. Angka tersebut mendekati alokasi 45 ribu siswa pada 2026. Namun, besarnya jangkauan tidak otomatis berarti semua anak yang membutuhkan sudah terlayani. Sekolah Rakyat menggunakan penjangkauan berbasis data dan pendamping sosial, bukan pendaftaran reguler. Cara ini penting bagi anak yang mungkin terlewat oleh sistem pendaftaran biasa, tetapi menuntut pemutakhiran data dan tindak lanjut yang cermat. Peringatan satu tahun program di Makassar pada 28 Oktober 2026 menjadi saat yang tepat untuk mengakui kemajuan sekaligus menilai siapa yang masih belum terjangkau.

Pendidikan saja tidak cukup untuk memutus kemiskinan
Nilai penting program ini terletak pada upayanya menghubungkan pendidikan anak kurang mampu dengan kondisi keluarga. Siswa yang dijangkau menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan psikologis, matrikulasi, dan pemetaan bakat melalui Talent DNA. Dari 11 ribu anak yang telah dipetakan, empat dari sepuluh diketahui memiliki bakat kuat di bidang sains dan teknologi. Pendekatan itu masuk akal: kebutuhan belajar seorang anak tidak selalu bisa dipisahkan dari kesehatan, rasa percaya diri, atau tekanan ekonomi di rumah. Karena itu, program juga menyasar keluarga melalui bantuan sosial, perbaikan rumah, dan modal usaha sebagai bagian dari ikhtiar putus rantai kemiskinan antargenerasi. Lebih dari 180 ribu anak usia sekolah ditemukan telah bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Fakta tersebut memperjelas skala persoalan yang hendak dijawab. Akses pendidikan inklusif hanya akan bermakna jika anak dapat belajar dengan dukungan yang memadai, sementara keluarga tidak terus bergantung pada penghasilan anak.
Kemajuan gedung belum merata
Perluasan sekolah juga memperlihatkan jarak antara target pembangunan dan layanan yang sudah tersedia. Dari 100 titik Sekolah Rakyat permanen yang dibangun, 93 telah beroperasi, sedangkan tujuh lainnya masih dalam pengerjaan. Penyelesaian di sejumlah daerah membutuhkan waktu lebih lama karena pengiriman logistik dan bahan bangunan tidak mudah dilakukan secara serentak. Di luar fasilitas permanen, 82 sekolah rintisan ikut menjadikan jumlah keseluruhan 182 titik. Pemerintah merencanakan pembangunan 100 titik lagi pada tahun berikutnya, sementara Presiden menargetkan setidaknya satu gedung permanen di setiap kabupaten atau kota. Target perluasan itu patut didukung, tetapi keberhasilan tidak semestinya diukur dari jumlah gedung saja. Pemerataan lokasi, kesiapan operasional, dan kemampuan menyediakan pengasuhan serta pembelajaran yang konsisten akan menentukan apakah tambahan fasilitas benar-benar membuka akses bagi anak yang selama ini kesulitan bersekolah.
Prestasi awal perlu diikuti dukungan berkelanjutan
Hasil tahun pertama memberi alasan untuk optimistis: siswa mencatat 11 prestasi internasional dan lebih dari 200 prestasi nasional, sementara lebih dari 1.100 siswa berprestasi di bidang olahraga, seni, dan sains. Hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama ikut mendukung kegiatan belajar dan pengasuhan. Angka-angka ini menunjukkan potensi program, tetapi prestasi belum menjawab seluruh pertanyaan tentang keberlanjutan pendidikan dan pemulihan siswa. Lebih dari 1.000 anak lainnya masih menjalani rehabilitasi di sentra Kemensos sebelum bergabung dalam pembelajaran. Karena itu, perluasan harus berjalan seiring dengan perhatian pada kesiapan setiap anak dan dukungan keluarga. Sekolah Rakyat telah membangun pijakan untuk memperluas kesempatan belajar, tetapi ukuran keberhasilan akhirnya adalah apakah anak dapat melanjutkan pendidikan dan memiliki pilihan hidup yang lebih luas. Gedung dan jumlah siswa penting; hasil jangka panjanglah yang akan membuktikan upaya putus rantai kemiskinan.






