Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ikrar di Hadapan Ribuan Peserta

Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ikrar di Hadapan Ribuan Peserta
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Ikrar yang dipimpin oleh para siswa

Ikrar Sumpah Pemuda adalah pernyataan persatuan yang mengingatkan generasi muda bahwa keberagaman daerah dapat bertemu dalam satu tanah air, bangsa, dan bahasa. Di GOR Sudiang, Makassar, pesan itu bukan sekadar dibacakan dari panggung: siswa Sekolah Rakyat memimpin ribuan peserta mengucapkannya bersama-sama. Linggar Ardiansyah dari SRMA 9 Jakarta dan Muhammad Yusuf dari SRMA 27 Takalar bergantian melafalkan teks ikrar dengan lantang pada Rabu, 28 Oktober 2026. Suara peserta yang memenuhi tribun menjadikan momen tersebut lebih dari seremoni. Ketika anak-anak mengambil peran utama, peringatan Sumpah Pemuda memperlihatkan bahwa persatuan bukan hanya warisan untuk dikenang, melainkan nilai yang dapat mereka suarakan dan hidupi.

Pilihan untuk menempatkan dua siswa sebagai pemimpin ikrar memberi acara ini makna yang kuat. Mereka tidak sekadar hadir sebagai penerima manfaat program pendidikan, tetapi tampil di depan orang tua, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan pilar sosial. Panggung itu memberi ruang bagi siswa untuk menunjukkan keberanian sekaligus ikut membentuk suasana peringatan. Dalam perayaan yang dipenuhi peserta dari beragam latar, kepemimpinan mereka membuat semangat persatuan terasa dekat: bukan hanya gagasan yang diucapkan tokoh dewasa, tetapi komitmen yang disuarakan langsung oleh generasi muda.

Siswa Sekolah Rakyat Pimpin Ikrar di Hadapan Ribuan Peserta

Setahun program, ruang untuk bertumbuh

Peringatan di GOR Sudiang berlangsung bertepatan dengan satu tahun perjalanan program Sekolah Rakyat. Perayaan itu menggabungkan refleksi tentang persatuan dengan kesempatan bagi siswa untuk tampil, bukan hanya menyaksikan acara. Sebanyak 741 siswa dari berbagai daerah membawakan drama teatrikal, puisi, lagu, serta tarian tradisional dari Aceh, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Mereka juga menampilkan karate, pencak silat, pramuka, dan baris-berbaris variasi. Ragam pertunjukan tersebut penting karena pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas: panggung memberi kesempatan untuk berlatih, bekerja bersama, dan membangun kepercayaan diri. Dalam konteks peringatan Sumpah Pemuda, penampilan dari berbagai daerah pun menghidupkan pesan kebinekaan melalui pengalaman yang terlihat dan didengar.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang hadir bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, menyebut acara itu sekaligus menandai satu tahun program. Ia menjelaskan bahwa perhatian dalam perjalanan tersebut mencakup latar belakang pembentukan Sekolah Rakyat, pekerjaan yang telah dilakukan bersama, serta perubahan yang mulai tampak pada siswa. Kerangka itu mengarahkan perhatian dari angka semata kepada pengalaman anak. Siswa yang memimpin ikrar dan tampil di hadapan ribuan orang memberi gambaran konkret tentang ruang partisipasi yang dapat tumbuh ketika anak memperoleh kesempatan. Ukuran keberhasilan program tentu lebih luas daripada sebuah panggung, tetapi momen di Makassar memperlihatkan mengapa kesempatan untuk bersuara dan menunjukkan kemampuan patut dianggap bagian penting dari pendidikan.

Jangkauan yang besar, tanggung jawab yang sepadan

Sekolah Rakyat kini memiliki 182 titik yang melayani 44 ribu siswa, termasuk puluhan sekolah rintisan. Skala ini membuat program tersebut relevan bagi banyak anak dari keluarga kurang mampu, yang menjadi sasaran pendidikan dan rehabilitasi sosialnya. Menteri Sosial mengaitkan Sekolah Rakyat dengan amanat konstitusi mengenai pendidikan serta pemeliharaan fakir miskin dan anak terlantar. Namun, besarnya jangkauan bukan alasan untuk berhenti pada angka. Nilai program akan makin terasa jika akses pendidikan disertai ruang aman untuk belajar, dukungan pengasuhan, dan kesempatan mengembangkan kemampuan. Dalam acara Makassar, kepemimpinan dua siswa dan penampilan ratusan anak memberi contoh bagaimana perhatian kepada siswa dapat terlihat dalam tindakan, bukan hanya disebut dalam sambutan.

Angka 44 ribu menunjukkan luasnya layanan, sedangkan suara Linggar dan Yusuf menunjukkan sisi manusianya. Keduanya mengingatkan bahwa kebijakan pendidikan pada akhirnya menyentuh anak-anak dengan nama, keberanian, dan potensi yang berbeda-beda. Karena itu, satu tahun program patut dipandang sebagai awal untuk terus memperkuat pembelajaran sekaligus kepercayaan diri siswa. Ikrar yang menggema di GOR Sudiang menjadi penutup yang tepat bagi perayaan tersebut: persatuan bukan slogan yang diwariskan begitu saja, melainkan nilai yang perlu dipelajari dan dipraktikkan. Ketika siswa Sekolah Rakyat memimpin seruan itu, mereka bukan hanya memperingati sejarah, tetapi ikut mengambil tempat dalam kisah bersama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!