Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ribuan Siswa Belajar di Luar Kelas: Alarm Krisis Infrastruktur Sekolah

Ribuan Siswa Belajar di Luar Kelas: Alarm Krisis Infrastruktur Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Kekurangan Ruang Kelas: Gejala Puncak Krisis Fasilitas Pendidikan

Kekurangan ruang kelas adalah kondisi ketika jumlah rombongan belajar jauh melampaui ketersediaan ruang belajar layak, memaksa siswa menjalani pembelajaran di luar kelas formal, menumpang di fasilitas nonkelas, hingga bergantian jam belajar, yang pada akhirnya menurunkan kualitas pembelajaran dan mengancam hak anak atas lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

Kisah 192 siswa SMPN 1 Sambong yang terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di musala, lobi, aula, dan laboratorium karena kerusakan sejumlah ruang kelas bukan sekadar kasus lokal; ini adalah alarm keras tentang krisis fasilitas pendidikan di sekolah negeri. Di Surabaya, SDN Semolowaru IV menghadapi masalah serupa: 12 rombongan belajar hanya ditopang delapan ruang kelas, sehingga sebagian siswa harus belajar siang hari dan bahkan duduk lesehan di perpustakaan karena tidak ada bangku. Dua contoh ini menunjukkan bahwa infrastruktur sekolah negeri rapuh dan tidak siap menanggung beban kebutuhan pendidikan dasar yang terus meningkat.

Ribuan Siswa Belajar di Luar Kelas: Alarm Krisis Infrastruktur Sekolah

SMPN 1 Sambong: Belajar di Mushala dan Lobi di Tengah Proyek Rp 1,9 Miliar

Di SMPN 1 Sambong, Kabupaten Blora, kekurangan ruang kelas bukan soal jumlah murid yang terlalu banyak, melainkan bangunan yang rusak dan dibiarkan kosong karena membahayakan keselamatan siswa. Enam rombongan belajar dengan total 192 siswa harus menjalani pembelajaran di musala, lobi, aula, dan laboratorium, sementara beberapa ruang kelas sudah dua tahun tidak digunakan karena dinilai tidak aman. Situasi ini mengubah ruang ibadah dan fasilitas penunjang menjadi kelas darurat, mengorbankan fungsi asli ruang-ruang tersebut dan mengacaukan ritme belajar.

Secara formal, pemerintah pusat telah mengucurkan dana Rp 1,9 miliar melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 untuk merehabilitasi enam ruang kelas, membangun tiga ruang kelas baru, memperbaiki laboratorium IPA, dan kantor tata usaha. Namun, proyek yang dimulai Juli 2026 baru mencapai sekitar 85 persen dan masih dalam tahap penyelesaian. Pernyataan bahwa "progres pembangunan sudah mencapai 85 persen dan saat ini memasuki tahap penyelesaian" menegaskan bahwa masalahnya bukan ketiadaan anggaran, melainkan kecepatan realisasi dan manajemen proyek yang lambat merespons kebutuhan mendesak siswa.

SDN Semolowaru IV: Lesehan di Perpustakaan dan Tudingan Buruknya Koordinasi

Potret di SDN Semolowaru IV Surabaya bahkan lebih telanjang: 12 rombongan belajar hanya ditopang delapan ruang kelas, memaksa empat rombel belajar pada siang hari. Sebagian siswa harus menempati perpustakaan yang tidak dilengkapi bangku, sehingga mereka belajar dengan duduk lesehan. Ini bukan sekadar kekurangan ruang kelas, tetapi kegagalan menyediakan sarana prasarana sekolah paling dasar: meja, kursi, dan ruang belajar yang layak. Ketika perpustakaan berubah menjadi kelas darurat tanpa fasilitas, fungsi literasi dikorbankan demi menambal krisis ruang.

Wakil Ketua DPRD kota setempat menilai situasi ini sebagai potret buruk koordinasi antarorganisasi perangkat daerah, mengingat usulan perbaikan sudah diajukan sejak Maret 2026 namun hingga Oktober tindak lanjutnya dinilai belum memadai. Ia mendorong pemerintah kota mempercepat pendataan dan pembenahan sarana prasarana sekolah negeri, termasuk pemetaan kebutuhan tambahan ruang kelas, perbaikan bangunan, dan pengadaan sarana belajar. Wali kota kemudian meninjau langsung sekolah, meminta maaf atas kondisi tersebut, dan menargetkan seluruh SD dan SMP negeri dibenahi pada 2027, dengan prioritas pada ruang kelas dan kamar mandi sebagai fasilitas dasar.

Dampak Nyata: Kualitas Pembelajaran Turun, Kesejahteraan Siswa Terabaikan

Krisis infrastruktur sekolah negeri seperti di SMPN 1 Sambong dan SDN Semolowaru IV bukan sekadar masalah teknis bangunan; ia langsung memukul efektivitas pembelajaran dan kesejahteraan siswa. Ketika ruang kelas rusak dan tidak bisa digunakan, siswa dipaksa belajar di tempat yang tidak dirancang untuk kegiatan belajar, seperti musala, lobi, aula, laboratorium, atau perpustakaan tanpa bangku. Suasana bising, lalu lalang orang, dan keterbatasan fasilitas membuat konsentrasi menurun, interaksi guru-siswa terganggu, dan proses belajar menjadi sekadar formalitas.

Belajar siang hari bagi empat rombongan belajar di SDN Semolowaru IV berarti jam belajar yang lebih pendek dan kelelahan fisik yang lebih besar, terutama bagi siswa yang pulang sore dan masih harus belajar di rumah. Duduk lesehan dalam waktu lama berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, dari postur tubuh hingga kelelahan otot. Di SMPN 1 Sambong, penggunaan ruang darurat selama dua tahun menunjukkan bahwa penundaan perbaikan bukan lagi pilihan, melainkan bentuk pengabaian hak anak atas lingkungan belajar yang aman dan manusiawi.

Dari Krisis ke Solusi: Pendataan Serius, Prioritas Anggaran, dan Tenggat Jelas

Kasus Sambong dan Semolowaru memperlihatkan pola yang sama: kekurangan ruang kelas, sarana prasarana sekolah yang tak memadai, dan respons pemerintah yang lambat. Di satu sisi, ada program revitalisasi bernilai miliaran rupiah yang berjalan tetapi belum tuntas; di sisi lain, ada usulan perbaikan yang menggantung berbulan-bulan tanpa kepastian. Ini menegaskan bahwa krisis fasilitas pendidikan bukan hanya soal dana, tetapi soal tata kelola, prioritas politik, dan keberanian menetapkan tenggat yang tegas.

Dorongan DPRD agar pemerintah kota melakukan pemetaan menyeluruh kondisi seluruh SD dan SMP negeri, menyesuaikan alokasi anggaran dengan tingkat urgensi, serta membentuk tim koordinasi lintas sektor adalah langkah minimal yang seharusnya sudah lama dilakukan. Target pembenahan seluruh sekolah negeri pada 2027 harus dibaca bukan sebagai janji politik, tetapi sebagai kontrak moral yang wajib diawasi publik. Jika kekurangan ruang kelas dan pembelajaran di luar kelas dibiarkan berlarut, kita sedang menerima bahwa generasi muda layak mendapatkan pendidikan yang setengah hati. Itu pilihan yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!