Peresmian tertunda setelah siswa bergerak
Peresmian Sekolah Rakyat di Makassar adalah agenda nasional yang semula dirancang untuk menandai hadirnya gedung permanen bagi program pendidikan tersebut, tetapi berubah setelah Presiden Prabowo Subianto membatalkan kunjungan kerjanya. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menerima kabar penundaan pada 27 Oktober, sehari sebelum acara yang direncanakan pada 28 Oktober 2026. Perubahan mendadak ini bukan sekadar pergantian susunan acara: para siswa dari berbagai daerah sudah dimobilisasi menuju Makassar untuk menyambut Presiden. Ketika agenda utama tak jadi berlangsung, beban perubahan itu pertama-tama dirasakan oleh mereka yang telah berangkat, bukan oleh pihak yang mengatur jadwal. Karena itu, pembatalan kunjungan perlu dibaca sekaligus sebagai persoalan koordinasi dan penghormatan terhadap waktu serta tenaga siswa.
Rencana awalnya mencakup peresmian 100 titik gedung permanen Sekolah Rakyat, baik yang telah selesai maupun yang masih dalam proses pembangunan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf telah berada di lokasi untuk menyiapkan acara tersebut. Skala agenda itu menjelaskan mengapa kehadiran Presiden menjadi pusat persiapan, tetapi tidak menghapus kewajiban penyelenggara untuk memberi kabar dan menata ulang kegiatan dengan baik ketika jadwal berubah.
Perjalanan jauh tetap berujung di GOR Sudiang
Dampak paling nyata tampak pada siswa GOR Sudiang. Sejumlah siswa Sekolah Rakyat dari berbagai wilayah Sulawesi Selatan telah dibawa ke Makassar untuk menyambut Prabowo; sebagian menempuh perjalanan ratusan kilometer dari daerah seperti Sinjai, Sidrap, dan Barru. Setelah Presiden batal datang, mereka tetap berkumpul di GOR Sudiang, Jalan Pajaiyyang, Kecamatan Biringkanaya, pada 28 Oktober. Mobilisasi seperti ini menuntut waktu, tenaga, dan pengaturan perjalanan, sehingga perubahan agenda semestinya disertai komunikasi yang jelas kepada siswa dan pendamping. Kehadiran mereka tidak patut diperlakukan sebagai latar seremoni belaka. Jika acara dipertahankan, nilainya harus terletak pada pengalaman siswa dan manfaat pertemuan, bukan pada upaya menutupi absennya tokoh yang semula dijadwalkan hadir.
Sekolah Rakyat Makassar akhirnya tetap menggelar kegiatan, tetapi dengan fokus berbeda: acara berlangsung sebagai peringatan satu tahun Sekolah Rakyat, bukan peresmian nasional yang semula direncanakan. Pergeseran itu membuat agenda tetap memiliki isi, namun juga menegaskan bahwa tujuan acara telah berubah setelah para siswa telanjur datang. Penyelenggara sepatutnya menjelaskan perubahan tersebut secara terbuka agar siswa memahami alasan mereka dikumpulkan dan apa makna kegiatan yang mereka ikuti.
Mensos mempertahankan pertemuan, bukan seremoni awal
Tanpa Prabowo, Menteri Sosial Saifullah Yusuf tetap berkumpul bersama para siswa di GOR Sudiang dan memimpin agenda bersama Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman. Para siswa hadir bersama guru, wali asuh, dan wali asrama. Kegiatan juga menampilkan penampilan ekstrakurikuler, termasuk teatrikal, tari daerah, pramuka, dan musikal puisi. Langkah Mensos mempertahankan pertemuan lebih baik daripada membiarkan perjalanan siswa berakhir tanpa kegiatan, tetapi tidak dengan sendirinya menjawab persoalan koordinasi. Acara pengganti harus dipahami sebagai tindak lanjut atas perubahan jadwal, bukan pengganti yang setara dengan peresmian 100 gedung yang semula dijanjikan.
Kementerian Sosial menjadwalkan ulang peresmian nasional mengikuti agenda Presiden, tanpa tanggal pengganti yang disebutkan dalam informasi yang tersedia. Artinya, pekerjaan belum selesai pada hari kegiatan di Makassar: pemerintah masih perlu memastikan kapan peresmian akan dilakukan dan bagaimana informasi itu menjangkau sekolah serta keluarga siswa. Tanpa kepastian, perubahan jadwal berisiko mengulang mobilisasi sebelum agenda benar-benar terkonfirmasi.
Kepastian jadwal harus menyusul
Penundaan tidak mengubah pentingnya penyelesaian gedung Sekolah Rakyat, tetapi cara pemerintah mengelola perubahan agenda ikut menentukan apakah program ini terasa berpihak kepada siswa. Mereka yang telah menempuh perjalanan jauh seharusnya menerima informasi yang cepat, penjelasan yang jujur, dan kepastian tentang tindak lanjut. Pertemuan bersama Mensos menjaga hari itu tetap bermakna, tetapi tanggung jawab publik tidak berhenti pada acara yang berlangsung.
Kesimpulannya, pembatalan kunjungan Prabowo membuat peresmian Sekolah Rakyat tertunda sementara siswa sudah telanjur hadir. Pemerintah perlu segera mengumumkan jadwal pengganti dan memperbaiki koordinasi agar siswa tidak kembali menanggung dampak perubahan agenda mendadak. Keberhasilan program semestinya diukur dari gedung yang tersedia dan pengalaman belajar siswa, bukan semata-mata dari siapa yang meresmikannya.






