Penataan yang tidak boleh memutus konektivitas
Penataan infrastruktur telekomunikasi adalah upaya merapikan jaringan, termasuk memindahkan kabel udara ke jalur bawah tanah, agar ruang kota lebih tertib tanpa mengorbankan akses komunikasi masyarakat dan dunia usaha. Karena itu, keberhasilan program ini seharusnya dinilai bukan hanya dari kabel yang tak lagi terlihat, tetapi juga dari layanan yang tetap berjalan saat pekerjaan berlangsung. Telkom Akses mendukung upaya pemerintah tersebut di berbagai kota, dengan Bandung menjadi salah satu pelaksanaan yang memberi gambaran nyata tentang tantangan teknisnya. Melalui program Bandung Bebas Kabel Udara yang digagas pemerintah kota, penataan dijalankan dalam skema Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT), yang mengintegrasikan jaringan utilitas bawah tanah. Pendekatan ini menjanjikan lingkungan jalan yang lebih tertata dan selaras dengan tata ruang, tetapi manfaatnya bagi warga baru utuh bila perpindahan jaringan dilakukan secara cermat dan minim gangguan.

Skala pekerjaan menuntut koordinasi
Di Bandung, Telkom Akses menata jaringan pada 81 ruas jalan dengan memanfaatkan infrastruktur pasif telekomunikasi bawah tanah milik PT Bandung Infra Investama (Perseroda). Hingga Oktober 2026, pekerjaan di 54 ruas telah rampung. Capaian ini menunjukkan kemajuan yang berarti, tetapi juga menegaskan bahwa penataan jaringan perkotaan berlangsung bertahap dan memerlukan koordinasi antarpihak. Pekerjaan tidak sekadar memindahkan kabel dari tiang ke bawah tanah. Tim perlu memastikan jalur pengganti siap sebelum pemindahan, memetakan jaringan, serta mengidentifikasi kabel dengan teliti, termasuk ketika beberapa operator memakai manhole yang sama. Tanpa persiapan tersebut, risiko salah penanganan dan gangguan layanan akan meningkat. Maka, koordinasi tim operasi dan konstruksi serta kerja bersama dengan pengelola infrastruktur dan pemerintah bukan pelengkap administratif, melainkan syarat agar penataan aman dan dapat diandalkan.

Kontinuitas pelanggan harus menjadi ukuran
Bagi pelanggan, ukuran paling langsung dari keberhasilan penataan bukan perubahan rupa jalan, melainkan apakah internet dan layanan komunikasi tetap tersedia. Untuk menjaga kontinuitas selama pemindahan, Telkom Akses mengerahkan 200 teknisi yang bersiaga 24 jam guna mendukung lebih dari 10.000 pelanggan. Angka itu memberi gambaran tentang besarnya kebutuhan pengamanan layanan di lapangan. Sebelum pekerjaan dimulai, teknisi memvalidasi data dan memetakan jaringan, termasuk yang mendukung layanan seluler, data korporat, dan pelanggan ritel. Langkah ini tepat karena kebutuhan tiap lokasi berbeda; satu metode pemindahan tidak selalu cocok untuk semua jalur. Kesiapan jalur pengganti dan ketelitian identifikasi kabel perlu berjalan seiring dengan komunikasi antartim. Dengan begitu, target penataan tidak menggeser kepentingan dasar pengguna: tetap terhubung ketika infrastruktur kota berubah.
SJUT perlu diperluas dengan disiplin layanan
Pengalaman Bandung dapat menjadi bekal bagi penataan di kota lain, tetapi penerapan SJUT telekomunikasi tidak akan otomatis menyelesaikan semua persoalan. Setiap wilayah memiliki kondisi jalur, kepadatan kabel, dan kebutuhan pelanggan yang berbeda. Karena itu, perluasan program harus disertai pemetaan yang memadai, sumber daya teknis yang cukup, serta koordinasi rutin agar risiko gangguan bisa ditekan. Telkom Akses menyatakan akan memperkuat kapabilitas teknis, kesiapan sumber daya, dan koordinasi lintas pihak untuk mendukung program penataan di berbagai wilayah. Arah tersebut penting, tetapi hasilnya perlu diukur dari dua hal sekaligus: infrastruktur yang lebih tertata dan layanan yang tetap berlangsung. SJUT seharusnya menjadi cara membangun jaringan kota yang lebih terintegrasi, bukan alasan bagi pelanggan untuk menerima konektivitas yang terputus.






