Penguatan rupiah setelah keputusan The Fed
Kurs rupiah terhadap dolar AS adalah nilai tukar yang menunjukkan berapa rupiah diperlukan untuk membeli satu dolar; perubahannya dipengaruhi kebijakan moneter dan respons pelaku pasar. Pada pembukaan Kamis, 29 Oktober 2026, rupiah menguat 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp18.141 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di Rp18.184. Pergerakan ini datang setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Kaitan tersebut penting, tetapi penguatan pagi itu bukan bukti bahwa tekanan terhadap rupiah telah berakhir. Keputusan suku bunga sudah diperkirakan pasar, sehingga dampaknya lebih tepat dibaca sebagai respons terhadap hasil yang tidak mengejutkan, bukan perubahan arah kebijakan yang besar. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut keputusan The Fed sebagai salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan hari itu.
Keputusan sesuai perkiraan, tetapi tak menutup ketidakpastian
Dalam pertemuan FOMC Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan pada kisaran 3,75–4,00 persen, sesuai ekspektasi konsensus. Sikap ini menjaga kebijakan tetap stabil sembari bank sentral AS menegaskan komitmennya terhadap stabilitas harga. Namun, hasil rapat tidak sepenuhnya bulat: Gubernur Lisa Cook dan Presiden Cleveland Fed Beth Hammack berbeda pendapat dan memilih kenaikan 25 basis poin. Perbedaan itu mengingatkan pasar bahwa pandangan tentang risiko inflasi dan langkah berikutnya belum seragam. Jadi, penguatan rupiah sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai jaminan bahwa dolar akan terus melemah. The Fed juga belum memberi sinyal tegas mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember; keputusan berikutnya akan bergantung pada data ekonomi dan inflasi.
Data AS menjadi penentu langkah berikutnya
Respons pasar terhadap keputusan yang sesuai perkiraan membantu menjelaskan mengapa kurs rupiah dolar bergerak menguat pada pembukaan, tetapi ketidakjelasan arah kebijakan membuat pergerakan lanjutan tetap rentan terhadap informasi baru. The Fed menyatakan keputusan mendatang akan ditentukan perkembangan data dan diarahkan untuk membawa inflasi ke target 2 persen. Jumlah pertemuan kebijakan yang menjadi forum pemungutan suara suku bunga juga akan dikurangi pada tahun berikutnya, tetapi pengumuman itu belum memberi kepastian tentang keputusan Desember. Josua Pardede memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.225 per dolar AS pada perdagangan Kamis. Kisaran ini menunjukkan bahwa penguatan 43 poin berlangsung di tengah ketidakpastian, bukan sebagai sinyal pasti penguatan berkelanjutan. Investor masih perlu mencermati data ekonomi AS dan perkembangan inflasi sebagai pemicu perubahan ekspektasi pasar.
Kesimpulan: kenaikan awal belum menghapus risiko
Rupiah menguat setelah The Fed menahan suku bunga, tetapi faktor pentingnya adalah bagaimana pasar menafsirkan keputusan yang telah sesuai perkiraan serta ketidakjelasan langkah selanjutnya. Selama arah suku bunga Desember belum jelas dan data ekonomi AS masih menjadi pertimbangan, kurs dapat berubah mengikuti pembaruan ekspektasi. Karena itu, kenaikan ke Rp18.141 per dolar AS patut dicatat sebagai respons pasar pada pembukaan, bukan kepastian tren baru. Kesimpulannya, keputusan The Fed memberi dorongan jangka pendek bagi rupiah, sementara keberlanjutan penguatan akan bergantung pada inflasi dan data ekonomi berikutnya.






