Capaian harus diukur dari manfaatnya
Hari Jadi Sumenep adalah momentum tahunan untuk menilai arah kemajuan daerah, mengakui kerja bersama, dan menegaskan siapa yang masih perlu merasakan manfaat pembangunan. Pada peringatan ke-757, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo memaparkan capaian pembangunan dan 16 penghargaan tingkat regional maupun nasional dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD, Sabtu, 31 Oktober 2026. Ia juga menyampaikan pesan pemerataan saat memimpin upacara peringatan di depan Masjid Jamik Sumenep pada hari yang sama. Deretan penghargaan memberi alasan untuk berbangga, tetapi bukan ukuran akhir keberhasilan. Ukuran yang lebih penting ialah apakah layanan, kesempatan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan benar-benar sampai kepada warga di luar pusat kota. Karena itu, peringatan ini layak dibaca bukan hanya sebagai seremoni capaian, melainkan sebagai penagihan atas janji pembangunan yang lebih merata.
Angka positif, pekerjaan belum selesai
Bupati menyebut sejumlah indikator bergerak ke arah yang baik. Indeks Pembangunan Manusia naik dari 69,78 pada 2024 menjadi 70,54 pada 2025, sementara pertumbuhan ekonomi meningkat dari 3,77 persen menjadi 4,85 persen pada periode yang sama. Pemkab juga meraih 16 penghargaan sepanjang 2026, termasuk Wilwatikta Awards dalam enam kategori dan pengakuan bagi kalender wisata Sumenep yang masuk 125 event terbaik Karisma Event Nusantara. Di bidang pengelolaan keuangan, opini Wajar Tanpa Pengecualian dipertahankan selama sembilan tahun berturut-turut. Data ini menunjukkan adanya kemajuan, bukan alasan untuk berpuas diri. Pertumbuhan rata-rata perlu diterjemahkan menjadi peluang yang terasa di rumah tangga, sedangkan penghargaan perlu diikuti layanan publik yang konsisten. Capaian hanya punya bobot ketika perubahan angka hadir dalam kehidupan warga.
Pemerataan sampai kepulauan menjadi tolok ukur
Komitmen paling penting dalam pidato Fauzi ialah memperluas pembangunan dan kesejahteraan hingga wilayah kepulauan. Ia menegaskan bahwa warga perkotaan, desa, dan pulau-pulau harus sama-sama merasakan manfaat pembangunan. Bagi kabupaten dengan wilayah daratan dan kepulauan, pemerataan wilayah kepulauan bukan tambahan dalam agenda, melainkan ukuran apakah kebijakan daerah menjangkau semua warga. Jarak dan tantangan akses membuat janji tersebut menuntut tindak lanjut yang terarah, bukan hanya pengulangan dalam upacara. Program pembangunan Sumenep disebut berlandaskan visi dan misi dalam RPJMD 2025–2029. Kerangka itu seharusnya membantu publik menilai hasil secara konkret: apakah layanan semakin mudah dijangkau, kesempatan ekonomi meluas, dan kesejahteraan meningkat di pulau maupun daratan. Tanpa ukuran yang jelas, pemerataan mudah tinggal sebagai slogan.
Sinergi perlu berlanjut menjadi hasil
Fauzi menyatakan capaian pembangunan bukan semata hasil kerja perangkat pemerintah, melainkan buah sinergi dan kontribusi seluruh elemen masyarakat. Penekanan ini tepat: pemerintah dapat menetapkan program, tetapi keberlanjutannya membutuhkan partisipasi warga, komunitas, dan berbagai unsur daerah. Tema peringatan, “Songennep Jaja Rajja”, juga menggarisbawahi persatuan, pelestarian budaya, dan kesejahteraan sebagai tujuan bersama. Bupati berharap koordinasi dan kolaborasi yang telah terbangun terus diperkuat untuk mendukung kemajuan serta keberlanjutan pembangunan. Harapan itu perlu disertai keterbukaan tentang prioritas dan kemajuan, terutama bagi masyarakat di kawasan yang selama ini lebih sulit dijangkau. Kesimpulannya, 16 penghargaan patut diapresiasi, tetapi keberhasilan Hari Jadi Sumenep pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana pembangunan yang dijanjikan benar-benar dirasakan merata hingga kepulauan.






