Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bahasa Madura Menjadi Sorotan dalam Peringatan Hari Jadi Sumenep

Bahasa Madura Menjadi Sorotan dalam Peringatan Hari Jadi Sumenep
Minat|Menyanyi

Bahasa daerah hadir di ruang resmi

Bahasa Madura adalah bahasa daerah yang menjadi penanda identitas dan warisan budaya masyarakat Madura, sekaligus cara untuk membawa nilai lokal ke dalam kehidupan publik masa kini. Pemkab Sumenep menggelar upacara Hari Jadi ke-757 pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di depan Masjid Jamik Sumenep dengan menggunakan Bahasa Madura. Perayaan itu dirangkai dengan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur dan Hari Sumpah Pemuda ke-98, sehingga pilihan bahasa tersebut terasa lebih dari sekadar tata acara: ia menempatkan budaya Sumenep di tengah peringatan bersama. Penggunaan bahasa sendiri dalam upacara resmi patut dipandang sebagai tindakan pelestarian yang nyata. Tradisi tidak bertahan hanya karena dikenang; ia perlu terdengar dan dipakai dalam ruang publik. Bagi warga daratan maupun kepulauan, momen ini mengingatkan bahwa identitas lokal dapat menjadi bagian hidup dari pembangunan, bukan hiasan seremonial.

Bahasa Madura Menjadi Sorotan dalam Peringatan Hari Jadi Sumenep

Capaian pembangunan dan pekerjaan yang tersisa

Dalam rapat paripurna Hari Jadi Sumenep, Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan pidato berbahasa Madura dan memaparkan capaian pembangunan daerah. Salah satu indikator yang disebut ialah Indeks Pembangunan Manusia, yang meningkat dari 69,78 pada 2024 menjadi 70,54 pada 2025. Angka itu memberi alasan untuk mengapresiasi kemajuan, tetapi tidak semestinya menutup pembicaraan tentang ketimpangan. Bupati mengakui masih banyak pekerjaan yang belum selesai, termasuk perlunya mempercepat pembangunan di kepulauan agar kesenjangan dengan daratan berkurang. Pengakuan ini penting karena perayaan hari jadi akan kehilangan makna jika keberhasilan hanya diukur dari penghargaan atau capaian agregat. Kemajuan harus terasa dalam kehidupan warga di seluruh wilayah. Tema tahun ini, “Songennep Jaja Rajja”, menyuarakan tekad menjaga persatuan, melestarikan budaya luhur, dan melanjutkan pembangunan sesuai arah daerah.

Tradisi sebagai dasar untuk maju

Ketua DPRD Sumenep Zainal Arifin mengingatkan bahwa peringatan hari jadi bukan sekadar keramaian, melainkan kesempatan mengenang perjalanan panjang daerah dan menentukan arah ke depan. Ia menegaskan, menjaga budaya bukan berarti menolak perubahan; akar tradisi yang kuat justru dapat menumbuhkan inovasi dan kemajuan. Pesan itu tepat untuk menghadapi globalisasi dan perubahan digital: modernisasi seharusnya memperluas peluang masyarakat, bukan mengikis nilai yang membentuknya. Tradisi Madura mencakup lebih dari bahasa; Sumenep dikenal dengan warisan keraton, batik tulis, keris, saronen, topeng dalang, hingga rokat tase’. Semua itu bukan benda atau praktik yang cukup dipajang sebagai lambang masa lalu. Jika dirawat dan diteruskan, kekayaan budaya Sumenep dapat tetap relevan bagi generasi muda sekaligus menjadi pijakan pembangunan yang berpihak pada identitas lokal.

Perayaan yang perlu diteruskan dalam tindakan

Peringatan Hari Jadi ke-757 memberi contoh bahwa bahasa dan tradisi dapat hadir berdampingan dengan pembahasan pembangunan. Namun nilai sebuah upacara tidak ditentukan oleh satu hari penggunaan Bahasa Madura saja. Pemerintah, lembaga legislatif, dan masyarakat perlu meneruskan semangat itu melalui perhatian pada pemerataan, ruang bagi kebudayaan, serta keterlibatan warga daratan dan kepulauan. Pidato bupati tentang capaian memberi gambaran kemajuan; peringatan Ketua DPRD tentang tradisi mengingatkan apa yang tak boleh dikorbankan dalam mengejarnya. Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Sumenep akan lebih kuat bila kemajuan tidak membuat warisan lokal tertinggal, sementara pelestarian budaya juga tidak menjadi alasan untuk berhenti berinovasi. Kesimpulannya jelas: Bahasa Madura yang terdengar dalam perayaan harus menjadi dorongan untuk terus menggunakan, merawat, dan mewariskan tradisi sambil membangun daerah secara lebih merata.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!