Seruan persatuan harus bertemu dengan hasil
Hari Jadi Sumenep adalah peringatan perjalanan Kabupaten Sumenep sekaligus ruang bagi pemerintah dan masyarakat untuk menimbang arah pembangunan serta komitmen bersama bagi masa depan daerah. Pada peringatan ke-757, tema “Songennep Jaja Rajja” menempatkan persatuan, pelestarian budaya, dan kesejahteraan sebagai cita-cita yang saling terkait. Pesan itu lebih berarti daripada slogan apabila kebersamaan diterjemahkan menjadi pemerataan manfaat pembangunan, termasuk bagi warga di daratan dan kepulauan. Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo menyebut tema tersebut sebagai semangat bersama dalam membangun Sumenep. Pemerintah daerah menggelar upacara peringatan pada Sabtu, 31 Oktober 2026, lalu memaparkan capaian pembangunan dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD di Graha Paripurna DPRD pada hari yang sama.
Perbandingan antara seruan persatuan dan angka pembangunan memberi ukuran yang lebih konkret untuk menilai pesan peringatan. Indikator yang disampaikan Bupati Fauzi menunjukkan sejumlah perkembangan positif, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua kelompok telah merasakan manfaat secara merata. Karena itu, tema Songennep Jaja Rajja semestinya dibaca sebagai ajakan sekaligus tuntutan: kerja bersama harus berlanjut menjadi peningkatan kualitas hidup yang dapat dirasakan luas.

Indikator membaik, pekerjaan belum selesai
Dalam pidato di hadapan DPRD, Bupati Fauzi memaparkan kenaikan Indeks Pembangunan Manusia Sumenep dari 69,78 pada 2024 menjadi 70,54 pada 2025. Pertumbuhan ekonomi daerah pada periode yang sama naik dari 3,77 persen menjadi 4,85 persen. Persentase penduduk miskin turun dari 17,78 persen menjadi 17,02 persen, setara dengan berkurangnya sekitar 7.940 orang dalam kategori miskin. Tingkat Pengangguran Terbuka juga turun, dari 1,69 persen menjadi 1,64 persen.
Pendapatan per kapita yang dilaporkan meningkat dari Rp39,215 juta pada 2024 menjadi Rp42,09 juta pada 2025. Angka-angka ini merupakan gambaran perkembangan menurut data yang dipaparkan Pemkab, bukan bukti bahwa setiap rumah tangga mengalami perubahan serupa. Penurunan jumlah penduduk miskin memberi arti langsung bagi ribuan orang yang tidak lagi masuk kategori tersebut, tetapi agenda berikutnya tetap jelas: menjaga pertumbuhan, memperluas kesempatan kerja, dan memastikan kesejahteraan lebih merata.
Persatuan perlu ditopang pemerataan dan akuntabilitas
Songennep Jaja Rajja juga mengajak masyarakat menjaga identitas daerah, merawat warisan budaya, dan mengambil bagian dalam pembangunan. Bupati menyatakan bahwa pembangunan Sumenep tidak hanya menyangkut infrastruktur, melainkan juga kualitas sumber daya manusia, ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, dan pemerataan kesejahteraan. Cakupan itu penting: ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada laju pertumbuhan, tetapi perlu dilihat bersama siapa yang memperoleh kesempatan dan bagaimana hasil pembangunan menjangkau wilayah daratan maupun kepulauan.
Pemkab juga melaporkan nilai SAKIP 2025 sebesar 72,33 dengan kategori BB, kenaikan Indeks Reformasi Birokrasi dari 78,76 pada 2024 menjadi 80,78 pada 2025, serta opini Wajar Tanpa Pengecualian untuk kesembilan kalinya berturut-turut. Sepanjang 2026, pemerintah daerah mencatat 16 penghargaan tingkat regional dan nasional. Capaian tata kelola dan penghargaan itu patut dicatat, tetapi ukuran akhirnya tetap manfaat kebijakan bagi masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan perhatian lebih.
Dari peringatan menuju evaluasi
Peringatan ke-757 semestinya menjadi titik evaluasi, bukan penutup perayaan. Pemkab menyatakan pembangunan berkelanjutan berpedoman pada RPJMD 2025–2029, sementara tantangan yang disebut dalam paparan mencakup menjaga pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan pemerataan kesejahteraan. Itu adalah pekerjaan yang menuntut kerja sama lintas unsur, tetapi juga pelaksanaan kebijakan yang dapat dinilai dari hasilnya.
Bupati Fauzi mengajak pemerintah, DPRD, dan berbagai elemen masyarakat memperkuat sinergi demi Sumenep yang unggul, mandiri, dan sejahtera. Seruan itu akan memperoleh bobot paling kuat ketika capaian yang dilaporkan terus diuji melalui kemajuan yang dirasakan warga di seluruh wilayah. Pada akhirnya, persatuan dalam Songennep Jaja Rajja bukan sekadar pesan seremoni: ia harus menjadi cara bekerja, sementara angka pembangunan menjadi awal evaluasi tentang seberapa merata hasilnya.






