Kreativitas yang membawa pesan
Video kreatif adalah karya audiovisual yang memakai gagasan, gambar, dan penyuntingan untuk menyampaikan pesan kepada penonton secara menarik dan mudah dipahami. Di MAN 1 Yogyakarta, dua prestasi murid memperlihatkan bahwa media digital dapat menjadi ruang ekspresi sekaligus cara mengajak publik memikirkan lingkungan dan kehidupan kota.
Pada 22 Oktober 2026, Tomzy Arzuleo dari kelas XII PK 1, Rifqy Abdillah Faqih dari XI PK 1, dan Alexander Ubaidillah dari X PK 1 meraih juara dua Lomba Video Kreatif Ekoteologi Pondok Pesantren yang diselenggarakan Kementerian Agama Kota Yogyakarta. Karya mereka mengangkat ekoteologi di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hakim MAN 1 Yogyakarta. Penghargaan itu menjadi kabar baik, tetapi nilai yang lebih penting terletak pada pilihan mereka: menjadikan kepedulian terhadap bumi sebagai inti cerita, bukan sekadar hiasan visual.

Merawat bumi lewat cerita
Lomba tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Santri Nasional 2026 dan mengusung tema “Ekoteologi: Gerakan Santri Merawat Bumi: Menghidupkan Nilai Keagamaan dan Lingkungan Berkelanjutan”. Dalam video edukasi yang dikirim secara daring, tim menghubungkan nilai keagamaan dengan tanggung jawab merawat lingkungan. Pendekatan ini membuat isu ekologis terasa dekat dengan kehidupan para santri, sekaligus menolak anggapan bahwa pelestarian hanya urusan lembaga atau kampanye besar.
Tomzy dan rekan-rekannya merancang konsep, mengambil gambar, menyunting video, lalu mengunggahnya ke media sosial untuk menjangkau teman-teman. Pesan mereka menekankan bahwa tindakan kecil setiap orang dapat memberi kontribusi berarti bagi lingkungan. Itulah kekuatan video pelestarian lingkungan: gagasan abstrak tentang menjaga bumi diterjemahkan menjadi ajakan yang bisa dibagikan dan diterapkan dalam keseharian. Juara dua menjadi pengakuan, tetapi dampak yang diharapkan tumbuh ketika penonton ikut mengubah kebiasaan.
Harmoni kota dalam sudut pandang Zahra
Empat hari setelah pengumuman capaian tim ekoteologi, Azzahra Ramadhani Putri Ardiansyah dari kelas XF meraih juara pertama Lomba Video Amatir Umum Semarak HUT ke-270 Kota Yogyakarta, yang diumumkan pada 26 Oktober 2026. Kompetisi daring yang digelar KADIN DIY terbuka bagi masyarakat Kota Yogyakarta dan bertema “Harmoni Kota Yogyakarta”. Berbeda dari lomba ekoteologi yang berfokus pada pesan lingkungan dalam konteks pesantren, ajang ini memberi ruang bagi peserta untuk menafsirkan suasana dan identitas kota.
Zahra mulai mengerjakan karyanya pada 21 Oktober, mengambil gambar sepulang sekolah pada 23 Oktober, lalu menyunting dan mengunggah video sebelum batas pengumpulan. Ia ingin menyalurkan hobi videografi, mengasah kreativitas, dan ikut merayakan hari jadi kota melalui sudut pandang visual. Videonya menyampaikan keindahan, keseimbangan, serta keharmonisan kehidupan Yogyakarta. Kemenangan ini menunjukkan bahwa kompetisi video amatir pun dapat memberi panggung bagi murid untuk membentuk cara orang melihat kota tempat mereka tinggal.

Dua tema, satu ruang berekspresi
Kedua capaian ini menunjukkan fungsi lomba video kreatif yang berbeda tetapi saling melengkapi. Karya Tomzy, Rifqy, dan Alexander mengajak penonton merawat bumi melalui lensa ekoteologi; karya Zahra mengangkat harmoni dan kekhasan kota. Yang satu berangkat dari tanggung jawab lingkungan, yang lain dari rasa memiliki terhadap ruang bersama. Keduanya membuktikan bahwa prestasi murid tidak berhenti pada peringkat: karya digital dapat membawa isu publik ke format yang dekat dengan keseharian penonton.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, mengapresiasi kemampuan murid menggunakan kreativitas digital untuk menyampaikan pesan positif. Pengakuan sekolah penting, tetapi kesempatan berkarya perlu berlanjut agar bakat tidak berhenti setelah satu penghargaan. Zahra berharap lomba serupa lebih sering diselenggarakan untuk mendukung kreator, termasuk peserta amatir. Kesimpulannya, dua kemenangan ini paling bermakna bila menjadi awal percakapan dan tindakan: lebih peduli pada lingkungan, sekaligus lebih peka terhadap harmoni kota.






