Sekolah Rakyat: Pendidikan Alternatif yang Mengubah Arah Hidup
Sekolah Rakyat adalah model pendidikan alternatif berasrama yang dirancang khusus bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, menyediakan lingkungan aman, makan bergizi, fasilitas belajar, dan pendampingan intensif agar mereka yang terancam putus sekolah dapat kembali belajar, mengasah bakat, serta menata masa depan akademik dan karier tanpa terbebani hambatan ekonomi maupun geografis. Poin pentingnya: Sekolah Rakyat bukan sekadar tambahan sekolah negeri, melainkan intervensi langsung terhadap kemiskinan antargenerasi. Ketika bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar tidak cukup menutup kebutuhan dasar, anak miskin tetap berisiko tersingkir dari pendidikan formal. Di sinilah Sekolah Rakyat mengambil posisi tegas: negara turun tangan, menyediakan asrama, makan bergizi gratis, komputer, guru, dan lingkungan belajar yang aman bagi mereka yang paling rentan. Pendekatan berasrama membuat anak tidak lagi terjebak pada rutinitas pulang–bantu orang tua–lelah–tidak belajar. Waktu mereka dipenuhi kegiatan terstruktur, dari kelas, ekstrakurikuler, hingga pembinaan karakter dan keagamaan. Ini bukan solusi kosmetik; ini perubahan pola hidup yang langsung menyasar akar persoalan pendidikan di keluarga miskin.
Irfan Khafid: Anak Buruh Tani yang Menjahit Mimpi Menjadi Prajurit TNI
Kisah Irfan Khafid adalah bukti bahwa label “anak buruh tani” tidak harus berakhir sebagai “dewasa miskin” jika akses pendidikan dibuka lebar. Di tengah keterbatasan ekonomi, remaja 16 tahun asal Cilongok ini merajut mimpi menjadi prajurit TNI melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyumas. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Irfan bersekolah di SMP Negeri 2 Cilongok. Saat kelas 8 dan 9, ia bahkan tidak selalu mampu membeli lembar kerja siswa karena penghasilan orang tuanya sebagai buruh tani hanya cukup untuk kebutuhan harian. Bantuan KIP yang diterimanya pun belum mampu mengangkat beban keluarga secara penuh. Ketika mengetahui adanya Sekolah Rakyat, ia mendaftar, diterima, dan mulai belajar di SRT 1 Banyumas pada Juli 2026. Di asrama, hidup Irfan berubah. Pulang sekolah bukan lagi berarti langsung bermain, melainkan belajar, berdiskusi, dan beraktivitas bersama teman-teman. Penjelasan guru yang lebih mudah diikuti membuatnya lebih percaya diri memahami pelajaran. Cita-cita menjadi prajurit TNI mendorongnya memanfaatkan fasilitas olahraga, membiasakan diri berlari, dan menjaga kebugaran. Ia ingin pendidikannya lebih tinggi dari orang tuanya dan mengingatkan anak lain yang miskin: “Terus semangat belajar saja. Masih ada kesempatan”.
Risky dan Citra: Dari Putus Sekolah Kembali Belajar hingga Menjadi Siswa Berprestasi
Jika Irfan menunjukkan bagaimana kemiskinan tidak lagi menghalangi mimpi, kisah Risky dan Citra menegaskan bahwa status “putus sekolah” bukan vonis final. Presiden mengundang dua siswa Sekolah Rakyat, Muhammad Risky Pratama dan Citra Nur Ramadhani, dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD RI di Gedung Nusantara pada 14 Agustus 2026 untuk menunjukkan dampak program ini secara nyata. Risky, 12 tahun, dari Sekolah Rakyat Medan, sempat putus sekolah. Saat masuk Sekolah Rakyat, ia belum lancar membaca dan menghitung. Melalui pendampingan intensif, ia kembali belajar dan menata cita-citanya. Ini contoh terang bagaimana putus sekolah kembali belajar menjadi mungkin ketika sistem memberi kesempatan kedua. Citra, 10 tahun, dari Sekolah Rakyat Kabupaten Pangkajene, hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang. Ayahnya telah wafat, ibunya penyandang disabilitas. Namun, di Sekolah Rakyat, Citra bukan hanya bertahan; ia menjadi juara karate tingkat kabupaten. Sekolah Rakyat siswa berprestasi seperti Risky dan Citra mematahkan anggapan bahwa anak miskin hanya bisa menjadi penerima bantuan pasif. Mereka menunjukkan daya juang ketika pintu pendidikan alternatif dibuka.

Ekosistem Sekolah Rakyat: Dari Ekstrakurikuler hingga Program Beasiswa
Kekuatan Sekolah Rakyat bukan hanya pada bangunan asrama, tetapi pada ekosistem yang memandang anak miskin sebagai subjek yang punya potensi. Di SRT 1 Kabupaten Banyumas, jumlah siswa mencapai 316 anak dari jenjang SD, SMP, dan SMA, termasuk titipan dari SRT 1 Kabupaten Kebumen untuk jenjang SD dan SMP yang menunggu pembangunan gedung. Kegiatan siswa tidak berhenti di kelas. Rutinitas mereka mencakup ekstrakurikuler pagi dan sore, kegiatan keagamaan, serta mengaji malam hari. Jumlah kegiatan ekstrakurikuler meningkat dari tujuh menjadi sekitar 14, memberi ruang bagi bakat olahraga, seni, hingga literasi. Di luar pelajaran, siswa seperti Aina bercita-cita menjadi atlet bola voli dan penulis novel, sementara Diva ingin menjadi desainer dan membuka butik sendiri. Pemetaan bakat dan minat dilakukan agar arah pendidikan setelah lulus lebih jelas. Anak dengan kemampuan akademik didorong ke perguruan tinggi, termasuk melalui akses bantuan pendidikan dan program beasiswa Sekolah Rakyat yang sesuai. Dengan cara ini, masa depan siswa tidak hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari kemampuan membangun kehidupan mandiri.
Mengentaskan Kemiskinan Melalui Pendidikan Alternatif: Apa Langkah Berikutnya?
Sekolah Rakyat lahir dari kesadaran bahwa anak tidak boleh mewarisi kemiskinan orang tuanya. Presiden menegaskan, ketika orang tua menghadapi keterpurukan, negara wajib mengintervensi agar anak mereka tidak ikut miskin. Strategi ini diwujudkan melalui pembangunan sekolah berasrama dengan fasilitas makan bergizi gratis, komputer, guru, dan lingkungan aman bagi keluarga kurang mampu. Saat ini telah dibuka 93 Sekolah Rakyat permanen, dan jika digabung dengan Sekolah Rakyat rintisan, totalnya mencapai 182 unit. Rencananya, setiap kabupaten akan memiliki Sekolah Rakyat. Angka ini bukan sekadar statistik; ia berarti ratusan titik baru di mana anak seperti Irfan, Diva, Aina, Risky, dan Citra bisa merawat cita-cita di tengah keterbatasan. Ke depan, pemetaan bakat dan minat akan dikoordinasikan dengan pihak ketiga untuk membantu pengembangan kompetensi siswa. Anak yang punya potensi akademik didorong ke perguruan tinggi, sementara yang berbakat olahraga atau seni diarahkan ke jalur karier yang relevan, dengan dukungan beasiswa dan pelatihan. Jika konsisten, kisah sukses pendidikan alternatif ini dapat memutus rantai kemiskinan, bukan dalam slogan, tetapi dalam biografi nyata generasi muda.






