Prestasi lahir dari banyak jalur
Prestasi murid madrasah adalah capaian yang lahir ketika pengetahuan, ketekunan, dan minat diberi ruang untuk berkembang dalam beragam bidang. Murid MAN 1 Yogyakarta memperlihatkan hal itu lewat keberhasilan di riset ilmiah dan karya video, dua jalur berbeda yang sama-sama menuntut gagasan serta disiplin. Lima murid—Nahla Razita Cahyaningtyas, Aqila Citra Azfanesha, Kenkeysa Adiba Widigdo, Bill Haqqi Nazal Achmad, dan Syauqi Abdulkarim—meraih medali perak ISIF dalam ajang International Science and Invention Fair 2026. Sementara itu, tiga murid meraih juara dua lomba video kreatif tentang ekoteologi, dan Azzahra Ramadhani Putri Ardiansyah menjadi juara pertama lomba video amatir untuk perayaan HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Capaian ini lebih dari deretan penghargaan: ia menunjukkan bahwa kreativitas pelajar tidak harus terbatas pada satu bentuk.

Riset ilmiah membutuhkan daya tahan
Keberhasilan tim ISIF patut dibaca sebagai hasil proses, bukan sekadar kemenangan di panggung internasional. Nahla dan rekan-rekannya menyiapkan karya selama sekitar empat bulan, mulai dari mencari ide, merancang produk, hingga menyusun makalah. Mereka sempat menemui kendala saat mengumpulkan data lapangan, tetapi mencari jalan keluar agar pengambilan data berikutnya berjalan lebih lancar. Nahla mengikuti kompetisi itu karena memandangnya sebagai kesempatan belajar tentang riset dan inovasi dalam lingkup internasional. Sudut pandang ini penting: medali perak ISIF menjadi bukti pencapaian, tetapi kebiasaan menguji gagasan, bekerja sama, dan bertahan saat metode pertama tidak berhasil adalah bekal yang lebih panjang nilainya. Pengalaman tersebut juga memberi contoh bahwa riset pelajar bisa dimulai dari rasa ingin tahu, lalu tumbuh melalui kerja terencana.
Video menghubungkan kreativitas dengan kepedulian
Di ranah video, Tomzy Arzuleo, Rifqy Abdillah Faqih, dan Alexander Ubaidillah meraih juara dua dalam Lomba Video Kreatif Ekoteologi Pondok Pesantren yang digelar Kementerian Agama Kota Yogyakarta. Karya mereka mengangkat ekoteologi di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hakim MAN 1 Yogyakarta, dalam rangkaian Hari Santri Nasional 2026. Tim itu menempuh tahap pencarian ide, pematangan konsep, pengambilan gambar, penyuntingan, lalu mengunggah video ke media sosial. Pilihan medium digital membuat pesan lingkungan lebih mudah dibagikan, tetapi nilai karya ini juga terletak pada ajakannya untuk bertindak. Merawat bumi tidak selalu dimulai dari kampanye besar: kebiasaan sederhana setiap orang dapat membantu menjaga lingkungan sekitar. Inilah kekuatan lomba video kreatif—mendorong kreativitas sekaligus memberi murid cara menyampaikan persoalan bersama dengan bahasa visual.

Hobi dapat menjadi karya yang bermakna
Azzahra Ramadhani Putri Ardiansyah meraih juara pertama Lomba Video Amatir Umum Semarak HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Ia mengerjakan videonya dalam rentang 21–25 Oktober 2026, setelah lomba dibuka pada 1 Oktober dan ditutup 25 Oktober. Berangkat dari hobi videografi, Azzahra menyusun konsep bertema “Harmoni Kota Yogyakarta”, mengambil gambar sepulang sekolah, lalu menyunting dan mengunggah hasilnya. Kemenangannya menegaskan bahwa karya yang berkesan tidak selalu membutuhkan proses panjang; kepekaan terhadap tema dan kesungguhan mengolah minat juga berperan. Namun, bakat seperti ini perlu ruang agar tumbuh. Kepala madrasah berharap kreativitas murid terus dikembangkan menjadi karya yang membawa pesan positif, sementara Azzahra berharap perlombaan serupa lebih sering digelar untuk mendukung kreator, termasuk pemula.

Ruang berkarya perlu terus dibuka
Rangkaian capaian ini memperlihatkan bahwa sekolah dapat mendukung potensi murid tanpa mengarahkan semua orang ke jalur prestasi yang sama. Ada yang tekun meneliti, ada yang memakai video untuk menyampaikan kepedulian lingkungan, dan ada pula yang mengolah hobi menjadi cerita visual tentang kota. Masing-masing memberi manfaat yang berbeda bagi murid dan masyarakat. Tantangan berikutnya ialah menjaga agar penghargaan tidak menjadi garis akhir: pengalaman riset perlu mendorong pertanyaan baru, sedangkan karya digital perlu menggerakkan perhatian menjadi kebiasaan baik. Pesan kepala madrasah kepada murid agar berani mencoba hal baru sejalan dengan pelajaran dari tiga capaian tersebut. Pada akhirnya, prestasi murid madrasah paling bermakna ketika medali dan gelar membuka jalan bagi lebih banyak murid untuk belajar, berkarya, serta menyampaikan gagasan yang berguna.






