Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Pengenalan hingga Praktik: Membekali Guru dengan Keterampilan AI

Dari Pengenalan hingga Praktik: Membekali Guru dengan Keterampilan AI
Minat|Tips Praktis AI

AI di kelas membutuhkan lebih dari sekadar akses

Pelatihan AI guru adalah proses membekali pendidik dengan pemahaman dan keterampilan untuk memilih serta menggunakan kecerdasan buatan secara tepat dalam kegiatan belajar-mengajar. Nilainya bukan pada seberapa canggih alat yang diperkenalkan, melainkan pada apakah guru dapat mengubahnya menjadi pengalaman belajar yang lebih sesuai bagi siswa. Kebutuhan itu terlihat dalam program Connect.in-Spirasi: Yogyakarta Chapter 2026. Pada 22–23 Oktober, Telkom bekerja sama dengan Kementerian Sosial memperkenalkan teknologi digital dan AI kepada guru serta siswa Sekolah Rakyat Terpadu Kulon Progo. Sebanyak 59 guru mengikuti pelatihan platform PIJAR dan pengenalan AI, sementara program Telkom Mengajar menjangkau 537 siswa. Skala ini menunjukkan upaya memperluas akses, tetapi ukuran keberhasilan yang lebih bermakna adalah kemampuan pendidik menerapkan teknologi dalam pembelajaran sehari-hari.

Pengenalan AI bagi guru diarahkan untuk membantu mereka merancang pengalaman belajar yang lebih interaktif dan inovatif sesuai kebutuhan siswa. Ini langkah awal yang penting, tetapi akses terhadap platform saja tidak cukup. Teknologi pendidikan baru berguna ketika pendidik mampu menilai kapan AI membantu tujuan belajar dan bagaimana penggunaannya tetap mendukung pemahaman siswa.

Dari Pengenalan hingga Praktik: Membekali Guru dengan Keterampilan AI

Dari pengenalan menuju keterampilan yang dapat dipakai

Program Telkom berangkat dari pengenalan: guru diperkenalkan pada PIJAR dan AI sebagai pendukung kegiatan mengajar. Pendekatan ini memberi pijakan bagi pendidik untuk melihat kemungkinan penggunaan teknologi, sekaligus mengingatkan bahwa kemampuan manusia harus tumbuh bersama ketersediaan perangkat. Tanpa pendampingan dan keterampilan, fitur digital berisiko menjadi tambahan yang tidak mengubah cara siswa belajar.

Acer Smart School Academy mengambil langkah yang lebih terarah pada penerapan. Program bersama Intel Skills for Innovation berlangsung pada 2–6 November 2026 melalui webinar Zoom, dengan materi design thinking, computational thinking, coding, analisis data, AI, dan machine learning. Pembelajaran berbasis proyek dirancang agar guru tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi berlatih mengintegrasikan teknologi ke kegiatan belajar-mengajar.

Perbedaan ini bukan soal satu pendekatan lebih unggul dalam semua keadaan. Pengenalan dapat membuka pintu bagi guru yang baru mulai, sedangkan latihan berbasis proyek membantu mengubah pengetahuan menjadi keterampilan AI guru yang bisa dipraktikkan. Pelatihan yang baik perlu menghubungkan keduanya: membangun pemahaman, lalu memberi kesempatan merancang kegiatan nyata.

Penerapan AI harus berangkat dari kebutuhan belajar

AI dalam pembelajaran seharusnya menjadi alat untuk mendukung tujuan pendidikan, bukan tujuan itu sendiri. Guru perlu mampu mengaitkan teknologi dengan materi, jenjang, dan kebutuhan siswa. Pola berbasis proyek di Acer Smart School Academy menawarkan ruang untuk mencoba integrasi itu, sedangkan pelatihan Telkom mengajak guru menyusun pengalaman belajar yang interaktif dan inovatif. Keduanya menunjukkan bahwa penerapan yang berarti memerlukan lebih dari demonstrasi perangkat: pendidik harus berlatih merancang penggunaannya.

Dampak pendidikan digital juga terlihat pada siswa. Dalam program Telkom Mengajar, siswa SD hingga SMP menerima materi STEM, sedangkan siswa SMA mengikuti sesi kesadaran digital. Pembelajaran interaktif mengajak mereka mengenal sains dan teknologi, mengembangkan rasa ingin tahu dan kreativitas, serta menggunakan ruang digital secara bijak. Ini penting karena penguatan kemampuan guru dan literasi siswa sebaiknya bergerak beriringan.

Telkom turut menyediakan buku bacaan, perlengkapan sekolah, perangkat penyimpanan data, dukungan PIJAR, dan konektivitas internet. Dukungan semacam ini dapat membantu penerapan, tetapi tidak menggantikan pelatihan. Agar teknologi tidak berhenti sebagai fasilitas, guru perlu mendapat kesempatan berlatih, menguji rancangan pembelajaran, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan kelas.

Dari Pengenalan hingga Praktik: Membekali Guru dengan Keterampilan AI

Ukuran keberhasilan adalah perubahan praktik di kelas

Kedua program menawarkan bagian yang saling melengkapi dalam pengembangan kompetensi: Telkom memperkenalkan platform dan AI kepada guru dalam konteks sekolah, sementara Acer dan Intel menyusun materi lintas keterampilan dengan pendekatan berbasis proyek. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pelatihan AI guru idealnya tidak berhenti pada paparan teknologi, tetapi juga memberi pendidik cara untuk menerapkannya dalam pembelajaran yang relevan.

Klaim bahwa teknologi dapat membuat pembelajaran lebih kreatif baru berarti jika guru mampu menghubungkan alat dengan tujuan belajar dan kebutuhan siswa. Karena itu, keterampilan AI guru perlu mencakup pemahaman teknologi sekaligus kemampuan merancang kegiatan kelas. Pengenalan memberi dasar; praktik memberi kesempatan untuk mengubah dasar tersebut menjadi metode mengajar.

Kesimpulannya, pengembangan teknologi pendidikan harus bergerak dari akses menuju kecakapan. Pengenalan AI membuka wawasan, sedangkan latihan praktis membantu guru menggunakannya secara terencana dalam kegiatan belajar-mengajar. Pelatihan yang menghubungkan kedua tahap itu lebih berpeluang menghadirkan manfaat nyata bagi pendidik dan siswa.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!