Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Workshop hingga Sertifikasi: Program Pelatihan AI untuk Guru

Dari Workshop hingga Sertifikasi: Program Pelatihan AI untuk Guru
Minat|Tips Praktis AI

Mengapa Guru Perlu Masuk ke Dunia AI dan Koding

Program pelatihan AI guru adalah rangkaian kegiatan terstruktur yang membantu pendidik memahami, menguji, dan memanfaatkan kecerdasan buatan serta koding untuk membuat aplikasi pembelajaran digital yang relevan dengan kebutuhan kelas, sekaligus meningkatkan kompetensi digital pendidik agar mampu memimpin inovasi pembelajaran di sekolah. Pelatihan seperti ini bukan hanya untuk guru TIK; siapa pun yang sehari-hari mengajar di kelas akan merasakan manfaatnya, mulai dari penyusunan soal hingga evaluasi belajar yang lebih interaktif. Program PGRI POWER, misalnya, membekali guru dengan keterampilan koding dan AI serta mendorong perubahan pola pikir dari pengguna teknologi menjadi pencipta inovasi pembelajaran. Di Situbondo, sebanyak 995 guru menjadi peserta awal dengan target mencetak 3.000 guru mahir coding dan AI dalam tiga tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penguasaan teknologi sudah menjadi kebutuhan mendesak, bukan tambahan opsional. Jika murid makin akrab dengan AI, guru perlu berada selangkah di depan agar tetap relevan di mata siswa dan mampu mengarahkan penggunaan teknologi ke arah yang positif.

Merancang Program Pelatihan: Dari Workshop Koding Sekolah ke AI

Sebelum menggelar workshop koding sekolah, penting untuk menyadari bahwa tujuan utama bukan sekadar mengajarkan sintaks, tetapi membangun pola pikir guru sebagai perancang media belajar. Program PGRI POWER, yang menjadi bagian dari gerakan nasional satu juta guru mahir koding dan kecerdasan buatan, dirancang untuk memperkuat kompetensi sekaligus karakter pendidik di era digital. Di dalamnya, guru dari berbagai jenjang didorong menguasai teknologi digital, coding, dan AI sebagai bekal pembelajaran kreatif dan adaptif. Workshop AI untuk guru yang diikuti hampir 150 peserta juga menunjukkan bahwa pelatihan singkat dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk mengenal dan mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam proses pembelajaran. Namun, gotcha-nya: jika pelatihan hanya berhenti di pengenalan alat tanpa proyek nyata, guru mudah kembali ke kebiasaan lama. Karena itu, setiap sesi sebaiknya selalu diakhiri dengan produk konkret, misalnya rancangan soal digital atau sketsa aplikasi pembelajaran digital sederhana yang bisa langsung dicoba di kelas.

  1. Petakan kebutuhan guru di sekolah (misalnya evaluasi belajar, pembuatan soal, atau media interaktif) agar pelatihan AI guru fokus pada masalah nyata di kelas.
  2. Susun kurikulum workshop koding sekolah yang menggabungkan pengenalan koding dasar dan pemanfaatan AI untuk pembelajaran, selaras dengan program seperti PGRI POWER.
  3. Laksanakan short course atau workshop intensif dengan sesi praktik langsung, sehingga guru mengalami sendiri cara menggunakan AI dalam menyusun materi dan evaluasi.
  4. Tetapkan proyek akhir berupa rancangan aplikasi pembelajaran digital atau sistem evaluasi berbasis web yang sederhana namun fungsional.
  5. Bangun komunitas tindak lanjut di sekolah atau kabupaten untuk saling berbagi hasil karya dan memperluas pemerataan kompetensi digital pendidik.

Dari Pelatihan ke Produk Nyata: Aplikasi Pembelajaran Digital

Pelatihan akan terasa "menggigit" ketika berujung pada aplikasi pembelajaran digital yang dipakai siswa. Contoh konkret datang dari seorang guru yang mengikuti pelatihan Gemini Academy dan kemudian merancang aplikasi web interaktif untuk Ujian Tengah Semester (UTS) Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Melalui bekal ilmu tersebut, ia menyusun sistem evaluasi modern berisi 50 soal pilihan ganda yang diakses siswa dari rumah menggunakan gawai pribadi pada waktu yang ditentukan. Kisah ini menunjukkan bahwa guru dapat bertransformasi dari pengguna menjadi pencipta teknologi pembelajaran, asalkan pelatihan memberi ruang praktik yang cukup. Gotcha yang sering muncul adalah rasa takut bahwa aplikasi akan mengganggu disiplin kelas. Di kasus UTS malam hari, solusi diambil dengan memindahkan pelaksanaan ke rumah, sehingga aturan larangan membawa gawai di sekolah tetap terjaga tanpa mengorbankan digitalisasi evaluasi. Pendekatan fleksibel seperti ini membuat inovasi tetap sejalan dengan kebijakan sekolah.

Dari Workshop hingga Sertifikasi: Program Pelatihan AI untuk Guru

Meningkatkan Kompetensi Digital Pendidik dan Dampaknya ke Kelas

Pelatihan koding dan AI terbukti meningkatkan kompetensi digital pendidik dalam memanfaatkan teknologi untuk proses pembelajaran. Di beberapa daerah, guru didorong menguasai teknologi digital, coding, dan AI sebagai langkah memperkuat kompetensi sekaligus karakter di era digital. Workshop AI untuk guru juga menjadi kesempatan bagi tenaga pendidik untuk terus bertumbuh dan berinovasi, agar mampu mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah masing-masing. Dampaknya ke kelas cukup terasa: guru lebih siap menyusun soal berbantuan AI, mengelola evaluasi daring, dan merancang aktivitas belajar yang lebih interaktif. Program pelatihan semacam PGRI POWER diharapkan menghasilkan tenaga pendidik dengan kemampuan pedagogik, kompetensi digital, dan karakter kuat untuk mempersiapkan generasi yang melek teknologi. Namun, perlu diingat bahwa teknologi hanyalah alat; tanpa komitmen guru untuk terus belajar dan menjaga integritas, aplikasi secanggih apa pun tidak akan mengubah kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!