Membedakan Pemenang dan Proses Pembinaan
Lomba pidato bahasa Inggris adalah ajang bagi siswa untuk menyampaikan gagasan secara terstruktur dan meyakinkan, sekaligus menguji penguasaan bahasa, isi, serta kemampuan berbicara di hadapan audiens. Final nasional kompetisi UEC 2026 berlangsung pada Minggu, 25 Oktober, di gedung UPT P2B Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dengan lima siswa tampil di kategori Persuasive Speech Competition bertema “Digital Literacy for the Young Generation”. Hasil yang tercatat menetapkan Maria Theresia Putri Duling dari SMA Pius Tegal sebagai juara pertama. Karena itu, klaim bahwa siswa SMA Batik 1 Surakarta memenangkan kategori tersebut tidak sesuai dengan rincian hasil yang tersedia. Pembedaan ini penting: cerita pembinaan pidato dari sekolah lain tetap memberi pelajaran, tetapi tidak boleh disamakan dengan identitas juara UEC. Prestasi di panggung nasional layak dirayakan, namun ketepatan menyebut pemenangnya sama pentingnya.

Cermin sebagai Alat Evaluasi, Bukan Hiasan
Salah satu contoh persiapan yang konkret datang dari Annisa Fitiya Sekararum, atau Anni, yang meraih juara pertama pidato bahasa Inggris dalam FFU X 2026—kompetisi berbeda dari UEC. Saat berlatih di rumah, ia menggunakan tiga cermin besar untuk mengamati gestur dari beberapa sudut dan memastikan gerak tubuh mendukung pesan. Ia dan dua rekannya menjalani persiapan intensif selama dua pekan, setelah lebih dulu menyusun naskah dan menghafalkan materi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa teknik public speaking siswa tidak berhenti pada hafalan. Anni juga mengasah intonasi dan penekanan kata; ketika sulit menaikkan nada suara, ia mencari cara lain dengan menegaskan kata-kata penting. Strategi tersebut lebih masuk akal daripada meniru gaya orang lain: pembicara perlu mengenali batas dirinya, lalu memilih teknik penyampaian yang membantu audiens menangkap inti pidato.

Bahasa Inggris Harus Menjadi Kebiasaan
Latihan mandiri akan lebih kuat jika ditopang lingkungan yang memberi ruang untuk berbicara. Di program ICO Smamsatu Gresik, pembiasaan bahasa Inggris tidak hanya berlangsung dalam pembelajaran; percakapan para siswa melalui WhatsApp pun kerap menggunakan bahasa tersebut. Kebiasaan seperti ini membuat bahasa Inggris terasa sebagai alat komunikasi, bukan sekadar mata pelajaran yang baru dipakai ketika lomba tiba. Sekolah juga berperan melalui pendampingan guru, mulai dari konsultasi naskah sampai penyempurnaan cara penyampaian. Perpaduan praktik rutin dan masukan yang terarah dapat membantu siswa membangun kelancaran serta kepercayaan diri. Bagi sekolah yang ingin menumbuhkan pembicara muda, membiasakan komunikasi sehari-hari lebih bermanfaat daripada mengandalkan latihan intensif menjelang kompetisi saja. Panggung lomba menjadi ujian, tetapi rasa percaya diri dibangun jauh sebelum peserta berdiri di hadapan juri.

Pidato Melatih Nalar sekaligus Keberanian
Kategori persuasif menuntut peserta bukan hanya berbicara lancar, tetapi juga memilih alasan, menyusun pesan, dan mengajak audiens mempertimbangkan suatu gagasan. Tema literasi digital untuk generasi muda di UEC 2026 memberi ruang bagi finalis untuk menunjukkan kemampuan tersebut. Pengalaman Anni di ajang lain memperlihatkan sisi persiapan yang melengkapi kerja bernalar: ia menyusun naskah sendiri, berkonsultasi dengan guru, lalu berlatih menyampaikan isi dengan gestur dan penekanan yang tepat. Inilah nilai lomba pidato bagi siswa SMA. Prosesnya mendorong literasi karena gagasan harus dipahami dan dirangkai, sekaligus mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum. Maka persiapan pidato persuasif sebaiknya dipandang sebagai latihan berpikir dan berkomunikasi, bukan sekadar mengejar piala. Kesimpulannya, prestasi tumbuh dari kebiasaan berbahasa, latihan yang cermat, serta pembinaan sekolah yang konsisten.






