Olimpiade Matematika Nasional Bukan Soal Jenius, Tapi Cara Pandang
Olimpiade matematika nasional adalah ajang kompetisi yang menguji kemampuan logika, ketelitian, dan daya tahan mental siswa dalam menyelesaikan soal-soal di atas standar kurikulum, sehingga pemenang kompetisi matematika sering kali bukan yang paling jenius, melainkan yang mampu mengubah rasa takut menjadi rasa penasaran melalui strategi belajar matematika yang konsisten dan berani keluar dari zona nyaman. Di sinilah kisah Catherine dari sebuah SMK pariwisata dan duo siswa SMP, Khalif serta Defa, menjadi penting: mereka membuktikan bahwa prestasi siswa olimpiade lahir dari transformasi mindset, bukan dari bakat bawaan. Pendekatan seperti ini selaras dengan semangat literasi numerasi yang menekankan pemahaman konsep, bukan hafalan rumus semata.
Catherine: Dari Anti-MTK Menantang Zona Nyaman hingga Medali Emas
Catherine Salsabila Santoso Lim mengawali hidup sekolah sebagai anak yang “paling enggak suka yang namanya MTK, hitungan”. Ironisnya, sikap tidak nyaman terhadap matematika justru menjadi pemicu perubahan. Nasihat sang paman agar mencari kesuksesan di luar zona nyaman ia tafsirkan secara ekstrem: alih-alih menghindari matematika, ia memilih menantangnya langsung. Dari Desa Tenjoayu, ia mulai rutin les, membongkar persepsi bahwa matematika itu mustahil. Ketika menyadari bahwa konsep bisa dimengerti pelan-pelan, bukan ditakuti, rasa benci bergeser menjadi rasa tertantang. Ia pernah hampir menyerah di SD dan SMP, tetapi karakter yang “suka tantangan” membuatnya tetap bertahan. Sikap ini lebih menentukan daripada latar belakang sekolahnya yang bahkan bukan sekolah khusus sains. Pesan yang jelas: ketekunan mengalahkan label diri seperti “bukan anak matematika”.
Perubahan mindset itu berbuah konkret ketika Catherine ikut Olimpiade Unggul USU ke-11 Internasional hanya dengan modal nekat untuk mengukur kemampuan, tanpa target muluk. Kompetisi daring berbasis Computer Based Test itu mengharuskannya mengerjakan soal selama sekitar 1,5 jam, dari pukul 07.00 sampai 08.30 WIB, dengan kamera dan mikrofon aktif dan larangan keluar dari laman soal. Di tengah tekanan dan kebuntuan pada beberapa nomor, ia memilih strategi praktis: melewati soal yang membuatnya “stuck”, lalu kembali setelah menyelesaikan bagian lain hingga menemukan cara menjawabnya. Hasilnya tak main-main: Juara 1 dan medali emas matematika tingkat SMA/MA/SMK sederajat, mengalahkan 316 peserta lain di ajang nasional dan internasional sekaligus. Dari pengalaman ini, Catherine tidak berhenti; ia menjadikannya batu loncatan untuk mengejar lomba yang terverifikasi kemendikbud dan membuka jalan beasiswa ke luar negeri, sambil tetap memegang cita-cita jangka panjang menjadi pebisnis di bidang perhotelan.
Duo SMP Surabaya: Belajar Materi SMA demi Panggung FORSMA 2K26
Jika Catherine menang sendirian, cerita lain datang dari tim muda SMP 17 Agustus 1945 Surabaya. Khalif Arziqi Nasution (kelas 7D) dan Defa Dwi Permana (kelas 8A) turun sebagai satu tim di Olimpiade Matematika FORSMA 2K26 tingkat nasional dan pulang dengan gelar Juara 2. Mereka tidak dimanjakan soal setingkat SMP; materi yang diujikan melampaui kelas mereka: translasi fungsi, trigonometri, relasi hingga rotasi, semua khas level SMA. Persiapan intensif hanya dua minggu, namun tiap hari diisi les daring dua sampai tiga jam. Ini bukan pola belajar “menjelang ujian biasa”, tetapi pola latihan kompetisi: terstruktur, fokus, dan sadar bahwa kesenjangan tingkat materi harus dijembatani lewat kerja tambahan. Pengalaman Khalif yang sudah aktif bertanding sejak kelas 6 SD dan Defa yang pernah ikut olimpiade individu di kelas 7 menjadi modal mental yang penting.
Kunci sukses mereka justru ada di cara membagi beban berpikir. Babak final yang berlangsung luring di SMA Negeri 4 Surabaya pada 4 September dengan format cerdas cermat membuat setiap kesalahan langsung mengurangi poin. Menghadapi tekanan kecepatan dan akurasi, mereka mengatur peran: Khalif fokus menghitung dan menyelesaikan soal, sedangkan Defa bertugas memverifikasi jawaban sebelum dikirim, meminimalkan risiko pengurangan poin. Dalam persiapan, mereka sadar bahwa menghafal rumus tidak cukup. Mereka menekankan pemahaman logika dan pola soal sehingga dapat mengurai soal cerita rumit yang menggabungkan kombinasi, permutasi, dan peluang. Sikap ini sangat sejalan dengan tujuan literasi numerasi yang ingin membentuk pemecah masalah, bukan sekadar penghafal rumus. Prestasi Juara 2 di olimpiade matematika nasional menunjukkan bahwa kerja tim dan strategi teknis bisa mengimbangi ketatnya kompetisi.
Strategi Belajar Matematika: Dari AI, YouTube hingga Disiplin Pola Soal
Di balik medali dan piala, strategi belajar matematika para pemenang ini patut dikritisi: apakah mereka sekadar “hebat”, atau memang belajar lebih cerdas? Catherine mengakui, meski awalnya ikut olimpiade “cuma nekat”, ia menyiapkan diri dengan latihan soal yang lebih intens karena menyadari level kompetisi nasional dan internasional. Yang menarik, ia memanfaatkan teknologi sehari-hari: memfoto rumus, memanfaatkan AI untuk penjelasan, mengulang bacaan sampai mengerti, dan jika masih buntu, mencari penjelasan di YouTube. Pendekatan ini mencerminkan cara belajar generasi sekarang yang menggabungkan sumber digital dengan latihan manual. Di sisi lain, pengalaman hampir menyerah saat SD dan SMP ia jawab dengan prinsip: semakin besar tantangan, semakin ia bergairah untuk mengatasinya.
Khalif dan Defa menegaskan bahwa inti olimpiade ada pada pemahaman, bukan hafalan. Mereka menyoroti soal cerita yang menggabungkan beberapa topik sekaligus, seperti kombinasi, permutasi, dan peluang, sebagai tantangan terbesar. Tanpa memetakan pola dan hubungan antarkonsep, siswa akan mudah tersesat. Format final yang cepat dan penuh penalti memaksa mereka berpikir sistematis: siapa menghitung, siapa mengecek, kapan berani menjawab, kapan menahan diri. Pola ini adalah latihan numerasi tingkat tinggi yang sangat relevan dengan Kurikulum Merdeka, yang menekankan pemecahan masalah kontekstual. Dengan kata lain, prestasi siswa olimpiade seperti Catherine, Khalif, dan Defa bukan hasil belajar sporadis menjelang lomba, melainkan buah dari cara belajar yang sadar proses: eksplorasi konsep, penggunaan teknologi secara cerdas, dan manajemen waktu serta risiko.
Dari Medali ke Masa Depan: Mengapa Kisah Mereka Harus Didengar Sekolah
Prestasi Catherine dan tim SMP Surabaya menunjukkan bahwa olimpiade matematika nasional bisa menjadi laboratorium nyata penerapan literasi numerasi di sekolah. Catherine yang berasal dari SMK pariwisata, bukan sekolah unggulan sains, mampu meraih medali emas bidang matematika dalam Olimpiade Unggul USU ke-11 Internasional. Dua siswa SMP kelas 7 dan 8 sanggup bersaing dengan materi SMA dan mengamankan posisi kedua di FORSMA 2K26 tingkat nasional. Fakta-fakta ini membantah anggapan bahwa olimpiade hanya untuk “anak olah raga angka” dari sekolah khusus. Mereka memperlihatkan bahwa dengan lingkungan yang mendukung, guru pembimbing yang aktif, dan budaya kompetisi yang sehat, siswa biasa pun bisa naik kelas. Ke depan, Catherine bahkan menjadikan prestasinya sebagai batu loncatan untuk mengikuti lomba terverifikasi dan mengincar beasiswa ke luar negeri, sambil merancang masa depan sebagai pebisnis di bidang perhotelan.
Sekolah dan guru yang serius pada literasi numerasi seharusnya membaca kisah ini bukan sebagai kabar gembira sesaat, tetapi sebagai model pembinaan. Pertama, dorong siswa untuk keluar dari zona nyaman, persis seperti nasihat paman Catherine yang mengubah arah hidupnya. Kedua, normalisasikan penggunaan teknologi — AI, platform video, kelas daring — sebagai bagian dari strategi belajar, bukan pelarian dari tugas. Ketiga, tanamkan pemahaman bahwa kompetisi adalah proses bertahap: dari pengalaman kecil sejak SD, kegagalan awal, sampai keberanian tampil di panggung nasional. Jika Kurikulum Merdeka ingin numerasi menjadi budaya, bukan sekadar indikator, maka cerita seperti ini perlu dijadikan bahan diskusi di kelas. Konklusi yang tegas: matematika tidak sedang mencari jenius langka, melainkan siswa yang siap mengubah cara pandang dan bekerja keras.






